Selasa, 14 Agustus 2012

One Love in Memories (part 3)


One Love in Memories
Karya: Dyla Annisa P
Part 3
Cerita sebelumnya:
(Baru saja Rinrin bersekolah di Hanyoung High School, ia sudah mendapat banyak kesialan. Mulai dari seragamnya yang kotor akibat terciprat air kubangan yang dilindas mobil, dipukul satpam sekolah dengan pentungan satpam, sampai salah masuk ruangan yang ternyata ruangan kamar mandi anak laki-laki! Dilain itu, ternyata ada sebuah rahasia antara Chansung dan Chanwon! KPuji-kPuji rahasia apa, ya?)
…………Arif pun mulai bercerita…
          “Dulu, Chanwon dan Chansung itu kakak beradik kembar yang amat akur. Akur sekali. Kemanapun mereka selalu bersama, tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Mereka terkenal identik dan kompak, karena selalu memakai barang yang hampir sama dan gaya rambut yang sama. Bahkan, karena Ayah mereka itu kepala sekolah di Hanyoung High School, mereka dimasukkan di kelas yang sama juga,”
          “Tapi sayang, kejadian 2 tahun yang lalu membuat mereka menjadi bermusuhan. Ketika mereka sedang melakukan perjalanan ke Taegu bersama Ibu mereka, dan waktu itu Chanwon yang membawa mobil, mereka mendapat musibah. Mobil yang dikemudikan Chanwon menabrak mobil lainnya karena ia tidak bisa mengendalikan mobilnya. Beruntung Chanwon dan Chansung selamat, mereka tak mendapat luka apapun akibat kecelakaan itu. Tapi, Ibu mereka mendapat luka serius di kepalanya akibat benturan keras. Dan, nyawa Ibu mereka tidak tertolong. Ibu Chanwon dan Chansung pun meninggal,”
          “Sejak itulah, Chansung membenci Chanwon. Ia menganggap, akibat keteledoran Chanwon-lah yang telah membuat nyawa Ibu mereka tak tertolong. Bahkan, yang kudengar, kini Chansung tinggal terpisah dari Chanwon karena mereka sudah tidak mau tinggal bersama. Tapi, mereka masih bersekolah di sekolah yang sama. Jadi, selalu saja ada keributan diantara mereka…,”
          Aku berkaca-kaca mendengar cerita Arif. Mungkin ini yang menyebabkan Chansung bersifat lebih temperamental dari Chanwon. Mungkin ini yang menyebabkan Chansung bersikap buruk saat mendengar nama Chanwon. Tanpa sadar, aku merasa kasihan dengan mereka berdua.
          “Kau kenapa, Rin?” Tanya Arif heran. Aku buru-buru tersadar dari lamunanku.
          “Hmm… Aku tidak apa-apa,” ujarku. Aku berbohong pada Arif. Sebenarnya aku tengah merasa kasihan pada Chansung dan Chanwon. Entah apa yang membuatku begitu kasihan.
*****
          Keesokan hari…
          Aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku berusaha kuat-kuat melupakan kejadian memalukan kemarin. Lalu, aku bertekad, untuk mencari mobil sport yang membuat sial hariku kemarin. Coba saja, mobil sialan itu tidak ada, mungkin aku tidak akan kecripatan sial!
          Masuk ke gerbang sekolah, kulihat banyak mobil siswa yang berjejer rapih di halaman khusus parkir. Dengan iseng, kulihat mobil yang terparkir satu-satu. Aku mencari mobil sialan itu. Kalau sampai ketemu, aku akan menendang mobil itu sekuat tenaga!
          Baru melihat-lihat sebentar, aku melihat sebuah mobil sport  warna merah terparkir. Aku memperhatikan seksama. Ya, ampun! Itu mobil sport  yang mencipratkan air kubangan itu! Huh, akhirnya ketemu juga dia!
          “MOBIL SIALAN!” jeritku kesal. Sesuai janjiku dalam hati tadi, aku akan menendang mobil itu sekuat tenagaku. Bahkan kalau perlu sampai membuat mobil itu penyok!
          DUAKK..!!!
          Aku menendang bagian belakang mobil itu dengan kuat. Aduhh.. aku yang menendang, malah aku yang kesakitan. Kurasakan kakiku jadi nyut-nyutan.
          “Errhh…,” gerutuku kesal. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki berdehem di belakangku.
          “Ehem.. Ehem… Apa yang sedang kau lakukan dengan mobilku?” Tanya laki-laki itu. Lalu aku menoleh kebelakang. Kulihat seorang laki-laki berwajah cantik tapi garang itu melihatku dengan tatapan aneh.
          Ya ampun! Itu Chanwon atau Chansung ya? Berarti, ini mobil…
          “Chan… kau Chansung apa Chanwon?” tanyaku bingung. Ia tersenyum.
          “Aku Chanwon. Kalau kau mau membedakan aku dengan Chansung, lihat saja pin-ku ini. Ada tulisan namaku kan?” ujar Chanwon sambil memperlihatkan pin yang cukup besar di seragamnya. Tulisannya dalam Hangul, bunyinya seperti ini ‘Chanwon Imnida.’
          “Chan.. Chanwon… Jadi ini mobilmu..,” kataku sambil tertunduk. Tadinya aku ingin marah, tapi melihat wajah Chanwon yang imut itu jadi membuat amarahku mampat dan tersimpan dalam hati. Chanwon tersenyum padaku, manis sekali.
          “Maaf ya. Aku tidak sengaja mencipratkan seragammu dengan mobilku. Aku benar-benar minta maaf. Gara-gara aku, sepertinya kau mendapat kesialan kemarin..,” kata Chanwon. Aku tertunduk malu. Mendadak malu melihat wajah Chanwon.
          “Ah, tidak apa-apa, Hwang Chanwon! Ini bukan salahmu juga kok, seharusnya aku lebih berhati-hati kalau berjalan. Seperti katamu saat di Bandara waktu itu (baca One Love in Memories episode 1),  Sebaiknya kamu tidak banyak bengong, Nanti kamu bisa celaka…,” Jawabku setengah malu. Chanwon tertawa kecil.
          “Ahahaha… Kamu lucu juga, ya! Oh ya, namamu Rinrin kan? Nama yang lucu dan manis buatku!” katanya sambil tersenyum. “Ayo kita masuk kelas, sepertinya bel sudah berbunyi daritadi.”
          Ah, dia bilang aku lucu, dan namaku lucu dan manis juga?
          “Dagh, Rin! Semoga nanti kita bertemu lagi, ya!” ucapnya sambil melambaikan tangan padaku.
          Aku malah terbengong. Kulihat Chanwon menjauh, ia sudah pergi. Aku merasa deg-degan saat Chanwon bilang aku lucu. Duh, aku kenapa sih? Aku memegangi kedua pipiku erat-erat.
          “Sadarlah, Rinrin! Ayo, sadar!” teriakku sendiri.
******
          Sehabis itu, aku merasa berbeda. Kejadian memalukan kemarin terasa hilang dari otakku, berganti kejadian tadi pagi di parkPujin mobil. Kejadian saat Chanwon tersenyum padaku dan berkata kalau aku lucu. Chanwon terlihat seperti Prince Charming saat itu. Ia berhasil membuatku melupakan kejadian-kejadian aneh waktu itu. Aduh..
          KPuji-kPuji Chanwon sedang apa ya? Apakah ia sedang memikirkanku seperti aku sedang memikirkan dia? Aduh! Kok aku jadi berpikir seperti ini?
          “Hei, lihat! Si pendek itu sedang bengong! Kelihatan bodoh, ya?” tiba-tiba terdengar suara anak perempuan mengejekku. Aku mencari sumber suara itu.
          Hei, itu kan anak perempuan yang kemarin! Dia itu yang menjahiliku sampai masuk kedalam ruang kamar mandi anak laki-laki! Seketika aku langsung berdiri, menghampiri gadis menyebalkan itu.
          “Kau!” ujarku dengan nada kesal. “kau kan yang menjahiliku kemarin! Euh, sialan! Kenapa kau menjahiliku begitu, hah?!”
          “Oh, kamu marah ya?” anak perempuan itu meledekku. “Tapi sayang, aku tidak mau minta maaf! Aku tidak mau minta maaf pada orang kampungan sepertimu!!”
          Aku kesal. Kesal sekali. Baru kali ini aku melihat orang sombong seperti ini!
          “Maaf, ya!” balasku. “Tapi sayang, sebenarnya aku pun tidak butuh maaf darimu. Itu tidak penting untukku!”
          Aku lihat wajah gadis itu memerah. Marah rupanya mendengar aku bicara seperti itu. Ia terlihat seperti hendak menamparku.
          “Heu.. Kau tidak tahu siapa aku ya?! Aku Victoria! Aku yang berkuasa di Hanyoung High School ini! Kau itu Cuma anak baru disini! Kau ini benar-benar gadis yang menyebalkan!” gadis yang ternyata namanya Victoria itu terlihat marah. Kulihat tangannya sudah siap-siap hendak menamparku. Lalu ia mengayunkan tangannya, sedangkan aku sudah memejamkan kedua mataku karena takut, dan…
          BUUAAKK…!!!
          Aku mengPuji aku telah tertampar olehnya. Tapi aku tak merasa pipiku sakit. Saat aku membuka mataku, kulihat gadis itu malah yang meringis kesakitan. Ia memegangi pipinya sambil mengaduh kesakitan.
          Lho? Kok malah dia yang kesakitan begitu?
          Aku melihat, ada cowok yang kukenal. Ia Chansung! Aku tahu itu Chansung karena aku tak melihat ada pin yang sering dipakai Chanwon di seragamnya. Kulihat Chansung menggeram marah pada Victoria.
          “Hei, Victoria!” marah Chansung. “Kalau kau masih berbuat seperti itu pada anak lain di sekolah ini, aku tak segan untuk mematahkan tanganmu itu, agar tidak bisa digunakan lagi untuk menampar orang!”
          Ah, Chansung! Kok bisa dia yang menolongku?
~BERSAMBUNG~
(baca terus episode selanjutnya ya, dijamin makin seru! ;D)

Tidak ada komentar: