One Love
in Memories
Karya:
Dyla Annisa P
Part 3
Cerita sebelumnya:
(Baru saja Rinrin bersekolah di Hanyoung High School, ia sudah
mendapat banyak kesialan. Mulai dari seragamnya yang kotor akibat terciprat air
kubangan yang dilindas mobil, dipukul satpam sekolah dengan pentungan satpam,
sampai salah masuk ruangan yang ternyata ruangan kamar mandi anak laki-laki!
Dilain itu, ternyata ada sebuah rahasia antara Chansung dan Chanwon! KPuji-kPuji
rahasia apa, ya?)
…………Arif pun mulai bercerita…
“Dulu, Chanwon
dan Chansung itu kakak beradik kembar yang amat akur. Akur sekali. Kemanapun
mereka selalu bersama, tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Mereka
terkenal identik dan kompak, karena selalu memakai barang yang hampir sama dan
gaya rambut yang sama. Bahkan, karena Ayah mereka itu kepala sekolah di
Hanyoung High School, mereka dimasukkan di kelas yang sama juga,”
“Tapi sayang,
kejadian 2 tahun yang lalu membuat mereka menjadi bermusuhan. Ketika mereka
sedang melakukan perjalanan ke Taegu bersama Ibu mereka, dan waktu itu Chanwon
yang membawa mobil, mereka mendapat musibah. Mobil yang dikemudikan Chanwon
menabrak mobil lainnya karena ia tidak bisa mengendalikan mobilnya. Beruntung Chanwon
dan Chansung selamat, mereka tak mendapat luka apapun akibat kecelakaan itu.
Tapi, Ibu mereka mendapat luka serius di kepalanya akibat benturan keras. Dan,
nyawa Ibu mereka tidak tertolong. Ibu Chanwon dan Chansung pun meninggal,”
“Sejak itulah, Chansung
membenci Chanwon. Ia menganggap, akibat keteledoran Chanwon-lah yang telah
membuat nyawa Ibu mereka tak tertolong. Bahkan, yang kudengar, kini Chansung
tinggal terpisah dari Chanwon karena mereka sudah tidak mau tinggal bersama.
Tapi, mereka masih bersekolah di sekolah yang sama. Jadi, selalu saja ada
keributan diantara mereka…,”
Aku berkaca-kaca
mendengar cerita Arif. Mungkin ini yang menyebabkan Chansung bersifat lebih
temperamental dari Chanwon. Mungkin ini yang menyebabkan Chansung bersikap
buruk saat mendengar nama Chanwon. Tanpa sadar, aku merasa kasihan dengan
mereka berdua.
“Kau kenapa,
Rin?” Tanya Arif heran. Aku buru-buru tersadar dari lamunanku.
“Hmm… Aku tidak
apa-apa,” ujarku. Aku berbohong pada Arif. Sebenarnya aku tengah merasa kasihan
pada Chansung dan Chanwon. Entah apa yang membuatku begitu kasihan.
*****
Keesokan hari…
Aku berangkat
sekolah seperti biasa. Aku berusaha kuat-kuat melupakan kejadian memalukan
kemarin. Lalu, aku bertekad, untuk mencari mobil sport yang membuat sial hariku kemarin. Coba saja, mobil sialan itu
tidak ada, mungkin aku tidak akan kecripatan sial!
Masuk ke
gerbang sekolah, kulihat banyak mobil siswa yang berjejer rapih di halaman
khusus parkir. Dengan iseng, kulihat mobil yang terparkir satu-satu. Aku
mencari mobil sialan itu. Kalau sampai ketemu, aku akan menendang mobil itu
sekuat tenaga!
Baru
melihat-lihat sebentar, aku melihat sebuah mobil sport warna merah terparkir.
Aku memperhatikan seksama. Ya, ampun! Itu mobil sport yang mencipratkan air
kubangan itu! Huh, akhirnya ketemu juga dia!
“MOBIL SIALAN!”
jeritku kesal. Sesuai janjiku dalam hati tadi, aku akan menendang mobil itu
sekuat tenagaku. Bahkan kalau perlu sampai membuat mobil itu penyok!
DUAKK..!!!
Aku menendang
bagian belakang mobil itu dengan kuat. Aduhh.. aku yang menendang, malah aku
yang kesakitan. Kurasakan kakiku jadi nyut-nyutan.
“Errhh…,”
gerutuku kesal. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki berdehem di belakangku.
“Ehem.. Ehem…
Apa yang sedang kau lakukan dengan mobilku?” Tanya laki-laki itu. Lalu aku
menoleh kebelakang. Kulihat seorang laki-laki berwajah cantik tapi garang itu
melihatku dengan tatapan aneh.
Ya ampun! Itu Chanwon
atau Chansung ya? Berarti, ini mobil…
“Chan… kau Chansung
apa Chanwon?” tanyaku bingung. Ia tersenyum.
“Aku Chanwon.
Kalau kau mau membedakan aku dengan Chansung, lihat saja pin-ku ini. Ada
tulisan namaku kan?” ujar Chanwon sambil memperlihatkan pin yang cukup besar di
seragamnya. Tulisannya dalam Hangul, bunyinya seperti ini ‘Chanwon Imnida.’
“Chan.. Chanwon… Jadi ini
mobilmu..,” kataku sambil tertunduk. Tadinya aku ingin marah, tapi melihat
wajah Chanwon yang imut itu jadi membuat amarahku mampat dan tersimpan dalam
hati. Chanwon tersenyum padaku, manis sekali.
“Maaf ya. Aku
tidak sengaja mencipratkan seragammu dengan mobilku. Aku benar-benar minta
maaf. Gara-gara aku, sepertinya kau mendapat kesialan kemarin..,” kata Chanwon.
Aku tertunduk malu. Mendadak malu melihat wajah Chanwon.
“Ah, tidak
apa-apa, Hwang Chanwon! Ini bukan salahmu juga kok, seharusnya aku lebih
berhati-hati kalau berjalan. Seperti katamu saat di Bandara waktu itu (baca One
Love in Memories episode 1), Sebaiknya kamu tidak banyak bengong, Nanti
kamu bisa celaka…,” Jawabku setengah malu. Chanwon tertawa kecil.
“Ahahaha… Kamu
lucu juga, ya! Oh ya, namamu Rinrin kan? Nama yang lucu dan manis buatku!”
katanya sambil tersenyum. “Ayo kita masuk kelas, sepertinya bel sudah berbunyi
daritadi.”
Ah, dia bilang
aku lucu, dan namaku lucu dan manis juga?
“Dagh, Rin!
Semoga nanti kita bertemu lagi, ya!” ucapnya sambil melambaikan tangan padaku.
Aku malah
terbengong. Kulihat Chanwon menjauh, ia sudah pergi. Aku merasa deg-degan saat Chanwon
bilang aku lucu. Duh, aku kenapa sih? Aku memegangi kedua pipiku erat-erat.
“Sadarlah,
Rinrin! Ayo, sadar!” teriakku sendiri.
******
Sehabis itu,
aku merasa berbeda. Kejadian memalukan kemarin terasa hilang dari otakku,
berganti kejadian tadi pagi di parkPujin mobil. Kejadian saat Chanwon tersenyum
padaku dan berkata kalau aku lucu. Chanwon terlihat seperti Prince Charming saat itu. Ia berhasil
membuatku melupakan kejadian-kejadian aneh waktu itu. Aduh..
KPuji-kPuji Chanwon sedang apa ya? Apakah ia sedang
memikirkanku seperti aku sedang memikirkan dia? Aduh! Kok aku jadi berpikir
seperti ini?
“Hei, lihat! Si
pendek itu sedang bengong! Kelihatan bodoh, ya?” tiba-tiba terdengar suara anak
perempuan mengejekku. Aku mencari sumber suara itu.
Hei, itu kan
anak perempuan yang kemarin! Dia itu yang menjahiliku sampai masuk kedalam
ruang kamar mandi anak laki-laki! Seketika aku langsung berdiri, menghampiri
gadis menyebalkan itu.
“Kau!” ujarku
dengan nada kesal. “kau kan yang menjahiliku kemarin! Euh, sialan! Kenapa kau
menjahiliku begitu, hah?!”
“Oh, kamu marah
ya?” anak perempuan itu meledekku. “Tapi sayang, aku tidak mau minta maaf! Aku
tidak mau minta maaf pada orang kampungan sepertimu!!”
Aku kesal.
Kesal sekali. Baru kali ini aku melihat orang sombong seperti ini!
“Maaf, ya!”
balasku. “Tapi sayang, sebenarnya aku pun tidak butuh maaf darimu. Itu tidak
penting untukku!”
Aku lihat wajah
gadis itu memerah. Marah rupanya mendengar aku bicara seperti itu. Ia terlihat
seperti hendak menamparku.
“Heu.. Kau
tidak tahu siapa aku ya?! Aku Victoria! Aku yang berkuasa di Hanyoung High
School ini! Kau itu Cuma anak baru disini! Kau ini benar-benar gadis yang
menyebalkan!” gadis yang ternyata namanya Victoria itu terlihat marah. Kulihat
tangannya sudah siap-siap hendak menamparku. Lalu ia mengayunkan tangannya,
sedangkan aku sudah memejamkan kedua mataku karena takut, dan…
BUUAAKK…!!!
Aku mengPuji
aku telah tertampar olehnya. Tapi aku tak merasa pipiku sakit. Saat aku membuka
mataku, kulihat gadis itu malah yang meringis kesakitan. Ia memegangi pipinya
sambil mengaduh kesakitan.
Lho? Kok malah
dia yang kesakitan begitu?
Aku melihat,
ada cowok yang kukenal. Ia Chansung! Aku tahu itu Chansung karena aku tak
melihat ada pin yang sering dipakai Chanwon di seragamnya. Kulihat Chansung
menggeram marah pada Victoria.
“Hei, Victoria!”
marah Chansung. “Kalau kau masih berbuat seperti itu pada anak lain di sekolah
ini, aku tak segan untuk mematahkan tanganmu itu, agar tidak bisa digunakan
lagi untuk menampar orang!”
Ah, Chansung!
Kok bisa dia yang menolongku?
~BERSAMBUNG~
(baca
terus episode selanjutnya ya, dijamin makin seru! ;D)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar