Sabtu, 17 November 2012

(FF) In the Middle of Heart chapter 1




In the Middle of Heart
Part 1
By: DylKyu Sweet

        Pagi itu agak berbeda untuk gadis cantik itu. Baru kali ini dia bisa tersenyum lebar menghadapi hari di depannya. Hari ini adalah hari dimana masa depannya dipertaruhkan.
            Make-up gadis itu melekat sempurna di wajahnya yang cantik. Lipstik warna peach terlihat senada dengan wajahnya. Rambutnya yang di-cat cokelat lalu diikat atasnya dan ia terlihat tambah manis. Lalu ia mengenakan dress warna hitam selutut dengan jaket putih panjang. Tak lupa ia mengenakan sepatu high hells yang senada dengan dress-nya yang berwarna hitam. Gadis bermata sipit itu terlihat seperti seorang bidadari. Ia memang harus tampil cantik hari ini.
            Setelah puas berdandan di depan meja riasnya, ia mulai beranjak pergi. Sebelum pergi, ia mengambil sebuah tas di samping meja riasnya. Ia lalu mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tas berwarna peach itu. Dilihatnya di layar, ada sebuah pesan yang baru masuk. Gadis cantik itu tersenyum lembut sambil membaca pesan itu.
Dear my Tiffany,
Semoga casting-mu hari ini berjalan lancar. Aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu. Berjuanglah, Tiffany. Saranghe!
From: Kai, kekasihmu
            Gadis bernama Tiffany itu pun langsung merasa mendapat suntikan energi besar setelah membaca pesan dari kekasihnya tersebut. Tiffany akan menjalani casting hari ini untuk  peran wanita utama di sebuah drama, dan ia merasa bahagia ada orang seperti Kai yang selalu mendukungnya kapan saja.
            Setelah lama tersenyum sendiri, Tiffany langsung meninggalkan apartemennya tersebut.
**********
            Untuk menuju tempat casting, Tiffany harus naik bus atau kereta bawah tanah. Tempat casting tersebut jauh di tengah kota. Tiffany memutuskan untuk naik kereta saja, alasannya agar ongkosnya lebih murah dan ia tidak akan terlambat sampai tempat casting. Sepanjang perjalanan menuju stasiun kereta, beberapa pria tampak iseng menggoda Tiffany.
            “Hei, cantik… Mau aku antar?” goda seorang pria muda. Ingin rasanya Tiffany menghajar namja itu, namun pasti itu akan membuat waktunya terbuang sia-sia. Diurungkan niatnya untuk memberi pelajaran pada namja kurang ajar itu.
            Lihat saja! Kalau aku sudah menjadi artis terkenal seperti BoA atau Go Hye Sun, aku akan memberimu pelajaran! Gerutu Tiffany sambil terus berjalan menuju stasiun.
            Sampai di stasiun, ia langsung mengantre di depan mesin tiket untuk membeli tiket kereta. Ia terpaksa berdempet-dempetan dengan para calon penumpang lain. Dengan sabar, Tiffany pun ikut mengantre dengan sabar. Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya mesin tiket itu lengang dan ia bisa membeli tiket.
            Setelah koin dimasukkan dan tiket telah keluar, Tiffany merasa senang. Saat ia membungkukan badannya untuk mengambil tiket, tiba-tiba…
            “Ah!” Tiffany menjerit keras. Ia merasa ada yang menepak ‘bokongnya’ dari belakang. Kurang ajar! Siapa yang berani memukul bokongku?! Tiffany marah-marah dalam hatinya. Ketika ia berbalik ke belakang, tampak seorang namja bermasker dan bertopi hitam berdiri di belakangnya. Tanpa pikir panjang, Tiffany langsung mengayunkan tas-nya ke arah muka namja tersebut karena ia yakin orang itu yang telah berbuat tak senonoh padanya.
            PAAKKK!!!
            “Kurang ajar! Beraninya kau berbuat seperti itu padaku!” marah Tiffany. “Dasar cabul!”
            “Hei, kenapa kau tiba-tiba memukulku seperti itu!?” ternyata namja bermasker itu menjawab dengan sengit. “Lalu siapa yang kau bilang cabul itu, hah!?”
            “Tentu saja kau! Dasar! Jangan pura-pura bodoh seperti itu!” bentak Tiffany. “Kau kan yang memukul pantatku tadi!?”
            “Hah? Kau ini! Aku daritadi tidak melakukan apa-apa!” bantah namja itu lagi. Dan lagi-lagi, PAAKK!!! Tiffany mengayunkan tasnya ke wajah namja itu tanpa ampun.
            “Pembohong! Kau kan dibelakangku tadi! Dasar namja cabul! Pembohong!” marah Tiffany.
            “Aku berani sumpah! Aku baru saja datang dan tiba-tiba kau memukulku! Kau salah menuduh orang!” jawab pria itu.
            “Apa!? Aku salah tuduh!? Kau kira…,” belum selesai Tiffany bicara, tiba-tiba ia mendengar suara keras dari pengeras suara stasiun.
            “KERETA KTX TUJUAN STASIUN GWANGMYEONG AKAN SEGERA BERANGKAT…,” terdengar suara dari pengeras tersebut. Tiffany langsung terbelalak. Itu adalah kereta tujuannya dan sebentar lagi akan berangkat.
            “Celaka! Keretanya! Aku bisa terlambat!” teriak Tiffany panik. Namja bermasker didepannya hanya dapat melihat Tiffany yang kebingungan. Tiffany sendiri tak lagi mempedulikan namja tersebut. Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju peron.
            Tiffany berlari secepat mungkin. Ia bisa terlambat kalau tidak naik kereta tersebut. Dengan pontang panting ia berlari menuju peron. Make-up yang ia kenakan kini mulai terlihat luntur karena keringatnya bercucuran. Sampai di peron, Tiffany terkulai lemas. Kereta ke tempat tujuannya bergerak meninggalkan stasiun.
            “Tunggu!” teriak Tiffany sambil mengejar kereta yang telah bergerak pergi. “Jangan pergi! Aku belum naik! Andwe!!!!”
            Sia-sia. Kereta itu telah pergi meninggalkan stasiun. Seketika Tiffany merasa harapannya untuk ikut casting hari itu memudar. Make-upnya telah luntur dan bajunya telah lusuh. Sambil menangis, Tiffany berjalan meninggalkan peron. Meninggalkan harapannya dalam-dalam karena ia telah terlambat.
            Saat berjalan di tangga, tiba-tiba…
            “Dasar yeoja bodoh!” tiba-tiba muncul seorang namja bermasker di depan Tiffany yang sedang menangis. Alangkah terkejutnya ia. Tiffany langsung membentak namja tersebut.
            “Jangan ganggu aku!” bentak gadis itu. “Gara-gara kau, aku tertinggal kereta!”
            Pabo!” gerutu namja bermasker itu. “Yang tadi pergi itu bukan kereta ke stasiun Gwangmyeong!”
            “Ha?” Tiffany terbelalak. “Maksudmu?”
            “Kau lihat kereta di sebelah sana. Itu kereta tujuan stasiun Gwangmyeong! Bukan kereta yang tadi! Dasar bodoh!” ucap namja itu. Tiffany kaget dan langsung tersadar. Benar, itulah kereta tujuannya, bukan yang tadi. Tiffany mendadak merasa bodoh sendiri.
            “Benarkah?” ucap Tiffany sambil garuk-garuk kepala. “Baiklah. Aku akan pergi. Terimakasih ya namja mata keranjang!” lalu gadis itu berlari meninggalkan namja itu.
            “Hei! Apa kau bilang tadi!? Dasar tidak tahu diri!” maki namja itu, namun Tiffany tidak peduli dan berlari menuju keretanya.
**************
            Tiffany lalu berlari kedalam kereta KTX yang akan melaju ke stasiun Gwangmyeong. Ia bernafas lega karena tidak ketinggalan kereta. Masa depannya di bidang entertainment masih terbuka luas seiring kereta yang melaju cepat. Dalam hati ia berterimakasih pada namja bermasker tadi, walaupun ia sempat dongkol karena namja itu telah bersikap kurang sopan padanya tadi.
            Tiffany lalu mencari tempat duduk. Ia mencari tempat duduk yang berada disebelah jendela. Tiffany paling suka tempat seperti itu. Setelah lama celingak-celinguk mencari, ada sebuah tempat duduk kosong disamping jendela kereta. Tampak disebelahnya ada seorang namja yang tengah duduk.
            Minahae, apa boleh saya duduk disamping kamu?” tanya Tiffany terlebih dahulu. Namja berkulit putih itu mengangguk pelan dan menjawab.
            “Silakan,” jawabnya singkat. Tiffany lalu langsung duduk disamping namja yang tampaknya pendiam itu. Mencoba mengakrabkan suasana, Tiffany mengajak namja itu mengobrol.
            “Hei, ngomong-ngomong, nama kamu siapa?” tanya Tiffany sambil tersenyum.
            “Cho Kyu Hyun,” jawab namja itu cepat. “Kau sendiri?”
            “Eung, Tiffany Hwang. Panggil saja aku Tiffany,” jawab Tiffany. “Kyuhyun, kau akan pergi kemana?”
            “Ke tempat yang menjadi masa depanku,” ujar namja yang ternyata namanya Kyuhyun itu. “Untuk apa tanya-tanya seperti itu? Kau sendiri memang mau kemana?”
            Tiffany tak menyangka namja disampingnya itu agak jutek. Ia memutuskan untuk menjawab sekali saja agar obrolan itu terhenti. Tampaknya Kyuhyun kurang suka mengobrol dengannya.
            “Aku mau ke tempat casting,” jawab Tiffany. Setelah itu mereka sama-sama terdiam. Tak ada lagi obrolan dan kereta itu terus melaju. Dalam hati, Tiffany berkata,
            Ya ampun, banyak sekali namja aneh hari ini. Aigo…
************
            Setelah hampir setengah jam berada di kereta, Tiffany sampai di tujuannya. Ia melihat Kyuhyun telah turun lebih dulu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan dengan wajah jutek-nya.
            “Dasar! Ketus sekali dia!” ujar Tiffany kesal. Lalu dia turun dari kereta KTX tersebut. Setelah itu, ia keluar stasiun dan menyewa taksi agar cepat sampai di tempat Casting.
            Setelah 15 menit naik Taksi, Tiffany turun di sebuah gedung megah. SM entertainment. Tiffany menghela nafas dan mencoba tersenyum riang.
            Tiffany, inilah saatnya. Tunjukkan bakatmu! Ujarnya dalam hati. Ia pun masih mengingat SMS Kai kepadanya tadi pagi, jadi ia tidak boleh mengecewakannya kali ini.
            Dengan mantap, Tiffany berjalan masuk gedung. Ia lalu menaiki lift, menuju lantai 3 dimana casting akan berlangsung. Setelah sampai di lantai 3, ia melihat antrean para peserta casting telah berjubel.
            “Tenang! Tenang semuanya!” terdengar jeritan panitia casting lewat pengeras suara. “Pertama kami ucapkan selamat datang pada peserta semuanya. Pada casting kali ini, kami akan menguji kemampuan anda di depan kamera. Peserta yang lolos dalam casting ini, akan bermain di drama berjudul ‘Hey, Beauty’ bersama bintang kami, Lee Donghae!”
            Riuh rendah para peserta saat mendengar pengumuman itu. Tiffany melonjak gembira dan bibirnya tak lepas berdo’a.
            “Juri Casting kali ini adalah Lee Donghae dan direktur kami, Lee Soo Man. Semoga sukses dan selamat pagi,”
            Setelah pengumuman itu, suasana berubah tegang. Satu persatu peserta dipanggil ke ruangan. Semua kegiatan para peserta di ruangan casting itu tampak terlihat di layar monitor.  Semua peserta terlihat serius dan ada yang konyol. Ada yang berakting, bernyanyi, bahkan ada yang salto. Terlihat bahwa Lee Soo Man dan Lee Donghae sudah geleng-geleng kepala. Tiffany sendiri hanya terdiam di pojok ruang tunggu, tidak memperhatikan monitor ditengah ruang. Bibirnya terus bergerak, berdo’a.
            “Peserta nomor 45, Cho Kyuhyun!” tiba-tiba terdengar suara panggilan dari juri. Tiffany agak terkejut. Ternyata Kyuhyun pergi ke tempat ini juga. Tiffany yang daritadi hanya terdiam sendiri, kini melihat monitor dimana para peserta sedang casting. Ia melihat Kyuhyun, si namja jutek itu tengah casting.
            “Namaku Cho Kyuhyun.” Kyuhyun memperkenalkan diri di depan Donghae dan Lee Soo Man. “Aku akan buktikan, aku adalah calon artis berbakat!”
            Peserta mulai heboh saat menyaksikan Kyuhyun di layar monitor. Tampak namja itu akan bernyanyi, dan benar saja, Kyuhyun bernyanyi.
Superstar ijen naya moksoril nopyeo jilleo
Naega nuguyeottdeon OK nae kkumeul hyanghayeo Let’s go
Superstar ijen neoya moksoril keuge jilleo
Chujeoma sijakhae neomanui ujureul boyeobwa”
            Terdengar suara Kyuhyun begitu merdu dan enak didengar. Semuanya bertepuk tangan, bahkan Donghae dan Lee Soo Man pun ikut bertepuk tangan.
            “Baik, coba sekarang kamu berakting. Temanya adalah namja yang putus cinta!” tantang Lee Soo Man. Kyuhyun tanpa pikir panjang langsung berakting. Ia memegangi dadanya sambil menangis dan tertunduk.
            “Kenapa kau tinggalkan aku begitu saja?” Kyuhyun berakting menangis. “Apa karena aku tidak sempurna!? Apa karena aku… Ah! Kau benar-benar melukai hati seorang pria sepertiku, Tiffany! Kenapa kau lakukan itu padaku!?”
            Tiffany terkejut bukan main. Kyuhyun menyebutkan namanya begitu jelas. Apa maksudnya ini? Lepas dari keterkejutan Tiffany, semua peserta bertepuk tangan begitu keras.
            “Selamat, Kyuhyun! Kau, adalah bakat yang kami cari!” ujar Lee Soo Man. Tiffany melihat Kyuhyun meloncat gembira.
            Gamsyahamida! Gamsyahamida!” ucap Kyuhyun. Lalu namja itu keluar dari ruangan tersebut.
            “Selanjutnya!” terdengar pengeras suara berbunyi lagi. “Peserta nomor 46, Tiffany Hwang!”
            Tiffany melonjak kaget. Apa? Ini gilirannya? Tiffany merasa jantungnya mau copot. Dengan hati berdebar-debar, yeoja itu memasuki ruangan casting. Kakinya terlihat agak gemetar.
            Sukseskah Tiffany?
~BERSAMBUNG~

Tidak ada komentar: