In the Middle of Heart
Part 2
By: Dylku Sweet
Aigoo! Tiffany menarik nafasnya
dalam-dalam. Ah, kenapa ini begitu menegangkan?
Tiffany memasuki ruang casting
dengan jantung berdegub kencang. Dilihatnya Lee Soo Man dan Lee Donghae telah
duduk di meja juri dengan wajah serius, dan itu membuatnya semakin gugup.
Namun, Tiffany tetap berusaha tenang.
“Selamat pagi!” Tiffany berusaha memberi
salam. “Namaku Tiffany Hwang. Aku disini akan menunjukkan bakatku berupa…,”
“Berupa apa?” Lee Soo Man langsung
menyela omongan Tiffany. Tiffany makin gugup.
“Dance.
Ya! Aku akan menunjukkan bakatku berupa dance!”
jawab Tiffany cepat. “Aku akan menari jazz
ballet,”
Lalu Tiffany menari Jazz Ballet dengan apik. Gerakannya
begitu bagus dan teratur. Tiffany sendiri memang adalah seorang penari, jadi dance seperti ini tidak begitu masalah
buatnya. Lagu jazz ballet terus
terdengar dan Tiffany terus menari dengan indah.
“Bagus! Bagus!” Lee Soo Man bertepuk
tangan, namun Donghae tidak sama sekali. “Coba, tunjukkan bakat aktingmu!”
Tiffany sempat menghapalkan beberapa
dialog drama buatannya. Tiba-tiba, Tiffany langsung menuju meja juri dan
menatap Donghae.
“Donghae,” ucap Tiffany mengawali
aktingnya. “Kau tahu, aku memang gadis biasa. Aku bukan siapa-siapa. Tapi, aku
tidak malu untuk menjadi yang terbaik untukmu,” Tiffany memegang tangan Donghae
sebagai aktingnya. “Karena aku tahu, Donghae adalah pria yang hanya ada di
hatiku. Sasileun joneun rinssireul
joahaeyo, Donghae-Oppa…,”
Tiffany berakting dengan bagus. Lee
Soo Man sudah bertepuk tangan dengan keras. Para peserta lainnya yang
menyaksikan akting Tiffany lewat layar pun ikut bertepuk tangan. Tiffany tersenyum
bahagia, nampaknya hari ini adalah hari kebahagiaannya. Saat ia melihat
Donghae, tak sedikitpun senyum atau tepuk tangan dari namja tampan itu.
“Cih, ternyata kau belum sadar juga!
Dasar! Pabbo!” ternyata Donghae malah
mencibirnya. Tiffany terkejut mendengar kata-kata Donghae.
“Apa? Maksudmu?” Tiffany terlihat
bingung bercampur kaget. Donghae hanya tersenyum sinis. Namja itu lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja jeans-nya,
ternyata sebuah masker hitam. Donghae lalu memakai masker hitam itu di
mulutnya. Tiffany baru sadar kalau Donghae itu adalah pria ber-masker yang
memukul bokongnya di stasiun!
“Kau…,” Tiffany kaget bukan main.
“Ternyata itu kau! Kamu kan namja di
stasiun itu! Namja kurang ajar yang
memukul bokong wanita sembarangan!”
“Dasar! Yeoja keras kepala!” Donghae jadi tersulut emosi. “Bukan aku yang
melakukan itu! Kau tidak tahu, sebelum aku datang ada seorang laki-laki yang
berada di belakangmu waktu itu! Dia yang memukulmu! Bukan aku!”
“Lantas, kenapa kau tidak
mencegahnya?!” Tiffany tak mau kalah. “Kau senang melihat seorang yeoja diperlakukan tidak senonoh seperti
itu?! Dasar artis kampungan! Mata keranjang!”
Donghae hanya menatap tajam Tiffany
yang tengah kalap. Lee Soo Man yang berada di situasi aneh itu hanya terdiam
bingung.
“Donghae, sebenarnya ada apa antara
kau dan yeoja itu?” tanya Soo Man.
Lee Donghe lalu menjawab.
“Yeoja
itu menuduhku berbuat aneh-aneh padanya. Padahal tidak!” jawab Donghae. “Aku
tidak suka kalau dia bermain drama bersamaku nanti!”
“Aku pun tidak sudi! Cuih!!!”
Tiffany sudah semakin kesal. “Aku tidak mau bermain drama bersama artis tidak
bermutu sepertimu! Mata keranjang!” Tiffany lalu pergi meninggalkan ruang casting dengan penuh amarah. Brraakk!! Dibantingnya
pintu ruang casting dengan kencang.
Seluruh peserta yang menyaksikannya lewat layarh hanya bisa ternganga kaget dan
melihat Tiffany berlalu saja.
“Apa?! Apa yang kalian lihat!?”
bentak Tiffany saat semua peserta memperhatikannya. Semuanya langsung pura-pura
sibuk dan tidak memperhatikan Tiffany. Tiffany lalu pergi meninggalkan gedung
tersebut.
Di tengah jalan, Tiffany menangis.
Ia tak tahan lagi. Dalam hati, ia sebenarnya menyesal telah menuduh
Donghae,tapi toh, egonya mengatakan lain. Karena amarahnya, kesempatan di masa
depannya sirna. Tiffany kesal. Ia menangis sejadi-jadinya.
Sedang menangis seperti itu,
tiba-tiba handpone Tiffany berbunyi. Ternyata ada pesan dari Kai, kekasihnya.
“Tiffany,
bagaimana castingmu? Sukses?
Aku akan datang ke
rumahmu untuk makan malam. Aku akan memasak ramen kesukaanmu.
Salam sayang, Kai.”
Tiffany makin menangis.
**********
Tiffany telah pulang ke apartemen.
Wajahnya kusut karena terus-terusan menangis. Daritadi ia belum ganti pakaian.
Dalam pikirannya terus melambung kejadian tadi pagi, kejadian buruk. Tiffany
mengacak-acak rambutnya hingga kusut.
“Ahh!!!” Tiffany berteriak kesal.
Rasanya ia ingin menelan apartemennya kalau bisa. Namun Tiffany cuma bisa kesal
sendiri. Ia lalu duduk di kursi meja makan. Kepalanya tertunduk lemas. Ah, sebaiknya aku menenangkan diriku dulu!
Pikir Tiffany akhirnya.
Teng-Tong!
Terdengar bunyi bel dari luar.
Tiffany berpikir itu pasti Kai. Ia lalu berteriak dari meja makan dapur dengan
keras.
“Masuk saja! Tidak dikunci!”
teriaknya. Tiffany masih terduduk di kursi meja makan. Ia berharap Kai segera
masuk dan langsung membelai rambutnya dengan lembut. Namun ternyata…
“Tiffany?” gadis itu mendengar suara
memanggilnya. Itu jelas-jelas bukan suara Kai. Tiffany lalu mengangkat
kepalanya dari meja makan dan melihat siapa orang itu. Dugaannya tepat. Itu
bukan Kai, tapi Kyuhyun!
“Waa! Kau!” jerit Tiffany kaget
melihat Kyuhyun sudah ada di sampingnya. “Kyuhyun? Kenapa kau bisa disini?”
“Tiffany, ketika kau pergi dari
gedung, kau melupakan sesuatu,” kata Kyuhyun dengan ekspresi datar. Kyuhyun
lalu merogoh kantung celananya, ia mengeluarkan sebuah kartu. “Ini kartu
namamu, kan? Aku menemukannya di depan pintu ruang juri!”
Tiffany lalu meraih kartu tersebut
dan melihatnya. Benar, itu kartu nama miliknya.
“Terimakasih, Kyuhyun. Aku tidak
tahu kalau kartu namaku ketinggalan,” jawab Tiffany. Kyuhyun hanya meliriknya
dengan aneh.
“Terimakasih? Hanya itu?” ucap
Kyuhyun dengan lirik aneh. Tiffany sudah tahu maksud namja itu. Dasar pamrih!
“Kau mau apa?” tanya Tiffany
akhirnya.
“Semangkuk nasi dan makanan. Kau
punya?” ternyata Kyuhyun meminta makanan. “Aku dari pagi belum makan apapun!”
Tiffany geleng-geleng kepala.
Kyuhyun memang agak aneh baginya. Dengan malas, Tiffany menjawab,
“Aku tak punya apa-apa, kecuali sisa
kimchi di kulkasku,” jawab Tiffany.
Kyuhyun cuma mengangguk kecil.
“Tidak apa-apa kalaupun dengan lauk kimchi saja!” ujar Kyuhyun. “Tolong
siapkan, ya!”
Apa!?
“Hei, kau pikir ini restoran? Ambil
saja sendiri!” jawab Tiffany malas. Tiba-tiba Kyuhyun langsung mengambil kartu
nama itu dari tangan Tiffany. “Hei, kembalikan!” protes gadis berambut cokelat
itu.
“Tidak akan kukembalikan. Aku tidak
mau memberi barang yang kutemukan pada gadis yang tidak sopan pada tamunya!”
jawab Kyuhyun dengan gaya yang menyebalkan. Tiffany merasa kesal, namun tak
bisa apa-apa.
“Baiklah! Baiklah!” akhirnya Tiffany
mengalah. “Aku akan siapkan makanannya. Tapi, berikan kartu namanya dulu!”
Kyuhyun mendelik, lalu akhirnya ia memberikan kartu itu pada Tiffany.
Tiffany sendiri langsung pergi ke dapur menyiapkan nasi dan lauk pada tamunya
yang menyebalkan itu. Sambil mendengus, ia mempersiapkan nasi dan kimchi.
“Awas saja! Dasar tamu tidak sopan!”
dengus Tiffany sendirian. Setelah makanannya ia siap, ia membawanya ke meja
makan. Kyuhyun sendiri sudah duduk manis di depan meja makan.
“Gomawo,
Tiffany!” katanya. Tanpa basa-basi ia langsung memakan semangkuk nasi dan
kimchi tersebut. Tiffany sendiri terheran-heran melihat namja itu tampak lapar. Akhirnya, baru beberapa menit, makanan
tersebut sudah habis.
“Ah, kenyang!” ujar Kyuhyun sambil
menepuk-nepuk perutnya. Tiffany cuma bisa melihat dengan tatapan kesal. “Hei,
kenapa, Tiffany? Apa kau lapar juga?”
Tiffany menggeleng.
“Oh, aku tahu. Kau pasti iri
denganku karena casting tadi pagi, kan?” ujar Kyuhyun lagi. Kali ini Tiffany
benar-benar ingin menggampar namja
itu.
“Diam! Jangan bicara tentang Casting itu lagi di depanku!” marah
Tiffany. “Lalu, kenapa kau pakai namaku saat kau berakting di depan juri?”
“Oh, itu…,” Kyuhyun hening sejenak.
“Dulu aku punya teman baik, namanya Tiffany juga. Sekarang dia sudah pergi,”
Tiffany hanya terbengong-bengong
melihat jawaban Kyuhyun.
“Oh, ya. Aku minta maaf ya, sebenarnya yang
memukul bokongmu di stasiun tadi pagi, adalah aku!”
Tiffany terbelalak. Dengan refleks
cepat, ia langsung melayangkan tamparannya ke muka Kyuhyun. PAKK!!! Tamparan
itu cukup keras dan membuat pipi Kyuhyun langsung memerah.
“Dasar! Namja mata keranjang!” Tiffany kalap. Ia lalu mendorong tubuh
Kyuhyun, “Pergi sana! PERGI!”
“Dengarkan aku, Tiffany!” Kyuhyun
berusaha membela diri. “Aku tak sengaja! Aku buru-buru, jadi aku tak sengaja
memukul bo..,”
“PERGIIIII!!!” jerit Tiffany marah.
Kali ini ia mendorong tubuh Kyuhyun dengan keras. “Aku bilang pergi! PERGI
SEKARANG JUGA! DASAR NAMJA TIDAK TAHU DIRI! CUIHH..!!!”
Teng-Tong!
“Gawat!” Tiffany mulai panik. “Itu
pasti Kai!”
“Kai? Siapa itu?” tanya Kyuhyun.
Tiffany lalu mempelototinya.
“Cepat! Sembunyi di bawah kolong
meja makan!” perintah Tiffany panik. “Cepat!”
Kyuhyun langsung sembunyi dibawah kolong meja makan
tersebut. Meja makan itu tertutup taplak yang cukup panjang hingga menyentuh
lantai. Tiffany sengaja menyembunyikan Kyuhyun agar Kai tidak menuduhnya
berbuat macam-macam saat melihat Kyuhyun.
“Tiffany,” tiba-tiba pintu utama
apartemen tersebut langsung terbuka. Tampak seorang namja dengan gayanya yang cool
dan tampan. Namja itu mengenakan
kemeja hitam dan celana hitam panjang. Rambutnya, ehm, pastinya enak dipandang
mata. Namja itu adalah Kai, kekasih
Tiffany.
“Kai, kau sudah datang?” Tiffany
langsung memeluk Kai. “Aku menunggumu daritadi!”
“Maaf. Aku harus beli bumbu ramen, dulu!” jawabnya sambil tersenyum
dan menunjukkan sebuah kantong plastik berisi bumbu ramen. “Oh, ya? Bagaimana casting-mu tadi pagi? Sukses?”
Tiffany menunduk. “Kai, aku tidak
lolos!”
“Hah? We?” Kai terlihat bingung dan kaget
saat Tiffany menjawab seperti itu. “Tiffany, kau pasti bercanda, kan? Kabuljima!”
“Tidak, aku serius,” jawab Tiffany
sambil tertunduk lesu. “Sesuatu telah mengganjalku. Aku pun bingung kenapa ini
semua terjadi!”
“Tiffany,” Kai lalu mengelus rambut
cokelat panjang Tiffany. “Kita tidak pernah menduga apa akan terjadi di waktu
yang akan datang, dan semuanya pasti telah diatur oleh Tuhan,”
Tiffany menatap Kai.
“Mungkin Tuhan telah menakdirkan
sesuatu yang lain untukmu. Mungkin Ia tidak memberimu lolos casting untuk hal
yang lebih bagik bagimu,” ucap Kai. Tiffany tersipu. Entah kenapa perasaan
kacaunya hilang demi sedkit saat Kai berkata seperti itu. Kai memang lebih muda
dari Tiffany, atpi kedewasaannya justru melebihi usia Tiffany sendiri.
“Kai, terimakasih. Kau memberi
sebuah semangat baru untukku,” jawab Tiffany, ia lalu tersenyum kembali. “Nah,
sekarang ayo kita masak ramennya!”
“Tunggu, Tiffany! Sebenarnya ada
yang ingin aku bicarakan denganmu sebelumnya,” tiba-tiba Kai berkata lagi.
Tiffany bingung.
“Bicara? Kau mau bicara apa, Kai?”
Tanya Tiffany bingung. Ia lalu mengajak Kai duduk di meja makannya. Ternyata
Tiffany lupa kalau ia menyembunyikan Kyuhyun dibawah meja makan tersebut.
“Hmm, ini tentang hubungan kita,”
jawab Kai. Ia terlihat memilin jari-jari tangannya karena terlihat gelisah.
“Aku…,”
“Kenapa, Kai? Kau membuatku makin
bingung!” sela Tiffany yang melihat wajah kekasihnya tersebut gelisah. Kai
tiba-tiba memegang kedua tangan Tiffany dengan erat.
“Tiffany Hwang, aku ingin… aku ingin
kau menjadi istriku,” ucap Kai sambil memegang tangan Tiffany. Gadis itu
langsung kaget. Ia tak menyangka kalau Kai…
“Kai, apa kau bercanda?” tanya
Tiffany. “Maksudku, ini tidak serius, kan?”
“Tidak, aku benar-benar serius,” Kai
menatap Tiffany yang terlihat bingung. “Maukah kau menjadi istriku, Tiffany?”
Tiffany terdiam dengan perasaan
gamang. Ia bahagia mendengar Kai berkata seperti itu, tapi… Ia merasa belum
tepat waktunya. Tiffany belum mau menikah, walau ia sangat mencintai Kai.
Apalagi ia dan Kai belum mendapat pekerjaan tetap. Kai cuma seorang penulis
lepas tanpa pendapatan yang pasti.
“Kai, aku…,” Tiffany menundukkan
kepalanya. “Minahae, tapi… Aku belum siap Kai… Maafkan aku, Kai!”
Kai terlihat kaget dengan jawaban
Tiffany. Ia memandang Tiffany, tapi Tiffany sendiri tak mau melihat wajah Kai.
“Tiffany,” ujar Kai. “Kenapa? Apa,
kau merasa belum cocok denganku?”
“Bukan begitu, Kai…,” Tiffany
mencoba menjelaskan. “Aku sangat mencintaimu, tapi… Aku belum bisa. Kau masih
sangat muda, usiamu baru 18 tahun dan baru lulus SMA…,”
“Lalu… Itu halangan untuk kita?”
tanya Kai.
“Bukan itu yang kumaksud. Kau tahu
sendiri, kita berdua belum mendapat pekerjaan tetap. Lihatlah aku, aku hanya
seorang dancer yang belum menjadi
artis berpenghasilan tetap. Dan kau…,” belum selesai Tiffany menjelaskan, Kai
langsung menyela dengan nada marah.
“Aku hanya seorang penulis lepas
yang tak punya penghasilan!” sela Kai. Namja
berwajah baby face itu langsung berdiri dan pergi dari hadapan Tiffany.
Wajahnya menunjukkan kekecewaan. Tiffany panik melihat kekasihnya tersebut
marah. Ia langsung memegang tangan Kai agar namja
itu tidak lekas pergi.
“Kai, tolong dengarkan aku dulu!”
ucap Tiffany panik. “Aku tidak bermaksud begitu. Kau pasti tahu alasanku. Aku
belum siap…,”
“Sudahlah, Tiffany. Mungkin kau
benar,” ujar Kai dan lalu ia melepaskan genggaman tangan Tiffany dari
tangannya. “Aku takkan memaksa bila kau belum siap menikah dengan namja yang tak punya penghasilan seperti
aku. Aku hanya seorang namja kurang
kerjaan yang melamar yeoja yang
kucintai tanpa punya penghasilan tetap. Maafkan aku, Tiffany. Aku akui, aku
hanya seorang yang miskin,”
“Kai…,” Tiffany pun menangis.
“Kumohon, jangan marah padaku. Aku masih sangat menyayangimu, Kai…,”
BRRRUUKK…!!!
Tiba-tiba terdengar suara keras dari
bawah meja makan Tiffany. Kedua pasangan itu terkejut, terlebih Tiffany. Pasti
Kyuhyun berbuat aneh-aneh. Kai yang curiga langsung menuju meja makan tersebut dan
langsung membuka kain penutup meja makan tersebut.
“Kai! Tunggu…,” Tiffany berusaha
mencegah Kai, namun terlambat.
Kai terkejut melihat ada seorang namja tengah membungkuk dibawah meja
makan tersebut. Namja tinggi kurus
yang tak Kai kenal itu tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala.
“Hai, aku Kyuhyun,” ucap namja itu. “Aku teman Tiffany. Kau pasti
pacarnya, kan?”
Kai terlihat muak. Tanpa pikir
panjang, ia langsung pergi dari Tiffany dan Kyuhyun tanpa sepatah kata pun.
Dari wajah Kai tersirat perasaan sakit hati. Ketika namja itu membanting pintu apartemen Tiffany tanpa ampun, yeoja berwajah cantik itu menangis
sejadi-jadinya. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya.
Kyuhyun lalu keluar dari meja makan
dan langsung menghampiri Tiffany yang terisak-isak.
“Tiffany, kau menangis?” tanya
Kyuhyun. Tiffany tak menjawab dan langsung mengambil sapu yang terletak di
sebelah meja makan. Ia langsung memukul Kyuhyun tanpa ampun.
“PERGI!” jerit Tiffany marah. “Pergi
atau kau babak belur disini!”
“Ah, ampun! Aw!” Kyuhyun kesakitan
karena dipukuli dengan sapu oleh Tiffany. Ia langsung pergi dari kamar
apartemen Tiffany. Tinggalah Tiffany sendiri yang tengah menangis. Ah…
“Tuhan,
kukira hari ini akan berakhir bahagia, tapi nyatanya…,” desis Tiffany. Ia langsung
membenturkan kepalanya di dinding hingga kepalanya benar-benar serasa mau
pecah.
~To Be Continue~
