One Love
in Memories
Karya:
Dyla Annisa Putri
Part 2
Cerita Sebelumnya:
(Rinrin, adalah seorang gadis asal Indonesia yang mendapat
beasiswa di Korea Selatan. Saat berada di Bandara Gimpo, Rinrin ditolong oleh
seorang laki-laki muda berwajah cantik ketika Tas-nya dicopet. Rinrin pun
akhirnya penasaran dengan cowok baik tersebut. Namun, saat di rumah Paman dan
Bibinya, cowok yang sama (Namanya Chansung) itu datang lagi, namun sikapnya
ketus dan mengatakan bukan ia yang menolong Rinrin di Bandara. Apa yang
sebenarnya terjadi? Dan siapa yang sebenarnya menolong Rinrin?)
…………Aku terdiam. Chansung benar-benar pergi.
“Sudahlah,
Rin!” kata Arif mencoba membuyarkan rasa anehku.
Aku tetap saja
heran. Ah! Lebih baik aku istPujihat saja sekarang! Besok aku harus datang
pagi-pagi ke Sekolah baruku, Hanyoung High School. Tidak boleh sampai terlambat!
********
Pukul 6 pagi
waktu Korea Selatan.
Aku tersenyum manis di depan
cermin kamarku yang lumayan besar, melihat seragam sekolah Hanyoung High School
yang baru untukku, terlihat begitu pas
di badanku. Seragam dengan jas warna cokelat bata, rok kotak-kotak warna senada
yang manis, kemeja putih dan dasi yang berwarna cokelat, semua itu tampak pas
di badanku. Aku tersenyum lebar-lebar.
“Rinrin,” tiba-tiba terdengar
suara Arif dari balik kamarku. “Ayo kita berangkat! Kamu tidak mau terlambat
kan?”
“Iya!” jawabku singkat. Lalu aku
bergegas keluar kamar. Saat keluar, Arif melihatku dengan tatapan takjub.
“Wow,” ujarnya. “Seragam Hanyoung
High School! Kau akan bersekolah disana?”
“Iya,” jawabku. “Memangnya
kenapa?”
“Hebat!” ucapnya sambil terus
melihatku dengan perasaan takjub. “Dulu aku ingin masuk ke sekolah itu, tapi
tidak diterima! Kamu hebat Rinrin! Aku salut sama kamu!”
Aku tersenyum. Ah, sepertinya
hari-hari baruku di Hanyoung High School nanti bakal ramai.
“Hei, kalian berdua! Ayo sarapan
dulu! Paman dan Bibi sudah belikan roti untuk kalian!” tiba-tiba terdengar
suara Paman Donghae dari dalam dapur.
Aku dan Arif lalu pergi ke dapur.
Kulihat Arif masih saja melihatku dan seragamku sampai di dapur.
*******
Setelah sarapan, aku dan Arif
berangkat ke sekolah masing-masing. Aku berangkat sendirian, tanpa ditemani
siapa-siapa.
Sambil berjalan menuju sekolah,
aku melihat keadaan sekitarku. Jalanan masih tampak lengang. Kulihat beberapa
pelajar sepertiku lewat didepanku sambil berjalan atau naik sepeda. Tak jarang
ada juga yang mengenakan sepeda motor. Aku melihat pertokoan baru ada beberapa
yang buka. Pohon-pohon terlihat berjejer rapih disekitar jalan, memberi nuansa
keteduhan. Ah, tanpa sadar aku berhasil melupakan kejadian tak mengenakan
kemarin malam dengan Hwang Chansung.
Aku tersenyum sendiri, Korea
Nampak begitu indah di kedua mataku. Tak lama aku berjalan, aku sampai di
sebuah sekolah dengan halaman yang mengampar luas dan gedung besar bertingkat
berwarna merah marun yang elegan. Di depannya ada taman besar yang hijau dan
rindang. Ada pagar besar yang terlihat kokoh di depannya. Kulihat mobil lalu
lalang masuk kedalamnya.
Ini dia, Hanyoung High School!
Sekolah baruku! Aku tersenyum takjub melihatnya.
“Wah, besar sekali sekolah ini!”
kataku agak norak, karena baru pertama kali melihat sekolah sebagus ini.
Tiba-tiba dari arah sampingku, BYUUURRR… Sebuah mobil mewah jenis sport mencipratkan air kubangan yang ia
lindas hingga membasahi seluruh seragamku!
“Hei, kau
menyebalkan sekali! Beraninya kau melakukan ini padaku!” jeritku kesal, hingga
semua yang lewat memperhatikanku seperti orang sakit jiwa. Aku mendengus kesal.
Ah, lebih baik
aku masuk saja!
*******
Aku melangkah
masuk, mendekati gerbang sekolah yang begitu besar bagiku. Dengan hati setengah
dongkol karena seragamku basah dan kotor karena mobil sport tadi!
Baru masuk ke gerbang sekolah
baru, tiba-tiba satpam sekolah mengejarku. Aduh! Kenapa lagi sih?
“Hoi!
Berhenti!” teriak si Satpam berbadan gemuk itu. “Kau tidak boleh masuk sekolah
dengan seragam kotor begitu!” aku tidak menggubris teriakannya, aku berlari
sekencang-kencangnya agar satpam itu tidak dapat mengejarku.
Tapi aku salah,
ternyata Satpam itu berlari cepat sekali walaupun badannya begitu gemuk! Baru
berlari sebentar, Satpam gemuk itu berhasil menangkapku. PLAK!! Dia memukulku
dengan pentungan satpam!
“Aduh!” jeritku
kesakitan. Satpam gendut bin bengis itu lalu berteriak padaku.
“LAIN KALI
KALAU MAU MASUK SEKOLAH, PAKAI SERAGAM YANG LEBIH PANTAS! DASAR BODOH!!”
teriaknya di telingaku. Ngung… Ngung… Ngung… Kupingku berdengung mendengarnya
berteriak-teriak.
“Hei,
Pak! Lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar suara cowok dari arah belakang kami.
Saat aku menoleh, kulihat sesosok cowok yang kukenal. Ha, Chansung!
“Iya, iya,” Jawab si Satpam itu sedikit takut. Lalu ia melepaskanku. Huff.. Leganya! Tapi, kok Satpam ini mau melepaskanku gara-gara Chansung ya?
“Iya, iya,” Jawab si Satpam itu sedikit takut. Lalu ia melepaskanku. Huff.. Leganya! Tapi, kok Satpam ini mau melepaskanku gara-gara Chansung ya?
Sementara itu, Chansung
melihatku dengan manis. Ia tersenyum padaku. Aneh! Tadi malam dia begitu ketus
padaku, bahkan mengataiku pendek. Tapi sekarang malah menolongku, bahkan
tersenyum sangat manis padaku. Aku heran.
“Hei, kau gadis
yang kutolong di Bandara kemarin sore kan?” tiba-tiba Hwang Chansung berkata
seperti itu. ha? Tadi malam dia tidak mengaku kalau dia yang menolongku di
Bandara, tapi sekarang… Aduh, ini benar-benar aneh! Aku jadi pusing sendiri.
“Lho? Kenapa
bengong?” Tanya Chansung bingung. “Oh, ya! Sebelumnya aku ingin berkenalan
denganmu. Namaku Hwang Chan Won. Kau bisa panggil aku Chanwon,”
HAH??? Chanwon?
Jadi ini bukan Chansung?!
“eu.. eu.. eu..
Kau Chanwon? Bukan Chansung?” tanyaku bingung. Ia terlihat ikut bingung
sepertiku.
“Chansung?
Hahaha… Aku bukan Chansung! Namaku kan Chanwon, kalau Chansung itu…,” tiba-tiba
omongan Chan Won terputus karena bel sekolah berbunyi.
“Wah, sudah
masuk! Aku duluan ya!” ujar Chanwon padaku. Sementara itu, aku masih
terbengong-bengong. Dengan mulut menganga seperti orang dungu, Aku melihat Chanwon
sudah berlari masuk kedalam sekolah.
Ah, Hari
pertama ini aneh!!!
******
Kulihat
arlojiku menunjukan pukul 7 pagi waktu Korea. Aku melangkah menuju kelas
baruku. Kelas yang tak pernah aku tahu sebelumnya…
“Rinrin
Karina!” tiba-tiba aku melihat seorang guru wanita berpakaian cukup sexy menhampiriku. Wajahnya terilihat
seperti orang Indonesia. Aku terdiam. Siapa dia? Mungkin dia guru disini.
“Kamu Rinrin,
kan?” Tanya guru itu dalam bahasa Indonesia. Aku mengangguk pelan. Wah, dia
bisa berbahasa Indonesia juga!
“Oh, baiklah!
Ayo ikut Ibu. Ibu akan menunjukkan kelas barumu,” kata Guru itu. “Oh, ya!
Sebelumnya perkenalkan, nama saya Ibu Puji Lestari. Kamu bisa panggil saya Ibu
Puji. Saya orang Indonesia seperti kamu.”
Aku tersenyum,
“Iya, bu..”
Baru melangkah
sebentar, tiba-tiba Ibu Puji menghentikan langkahnya. Ia lalu memperhatikan aku
seksama, lebih tepatnya memperhatikan seragamku.
“Seragammu
kotor sekali!” omel Ibu Puji padaku. “Ayo! Ganti dulu sana! Ambil seragam
cadanganmu di ruang olahraga!”
Ah, sial!
“Baik, bu!” jawabku setengah dongkol. Lalu aku melangkah pergi menuju ruang olahraga.
Baru jalan sebentar, aku menyadari kalau aku tidak tahu dimana ruang olahraga
itu sendiri. Lalu aku berbalik, hendak menanyakan dimana ruang olahraga.
“Ah, Bu! Kalau
ruang olahraga itu dimana?” tanyaku sambil berbalik. Ketika sudah berbalik ke belakang,
kulihat sudah tak ada siapa-siapa. Bu Puji sudah pergi!
“Uh,” gerutuku.
Sekarang aku tampak seperti orang bodoh, tak tahu mau kemana.
Lalu aku
melihat 3 orang anak perempuan sepertiku lewat dihadapanku. Mereka terlihat
sombong, mungkin itu Cuma perasaanku. Mereka melihatku dengan tatapan aneh,
tampaknya mereka tak menyukaiku, mungkin karena aku terlihat berbeda dari
mereka.
Ah, lebih baik
aku tanya pada mereka dimana ruang olahraga! “Maaf, apa kalian tahu dimana
ruang olahraga?” tanyaku pada mereka. Mereka terlihat sinis saat aku berbicara,
lalu salah satu diantara mereka, yang rambutnya lurus dan hitam serta memakai
bando putih di kepalanya, menjawab pertanyaanku.
“Ruang
olahraga? Oh, itu ada di sebelah kiri ruang kesenian. Kau tinggal jalan lurus
dari sini, belok kanan kalau ada kantin, lalu lurus lagi. Kalau kau melihat
ruangan dengan pintu biru muda, kau masuk saja. Itu ruang olahraganya!” jawab
gadis itu dengan gelagat aneh. Tapi aku merasa tak curiga, mungkin mukanya
memang seperti itu.
“Oh, baiklah.
Terimakasih, ya!” ujarku sambil tersenyum. Ketiga anak perempuan itu tersenyum
aneh, lalu pergi.
Ah, sekarang
tinggal ke ruang olahraga, deh!
*******
Aku melangkah
menyusuri sekolah, menuju ruang olahraga yang diberitahu ketiga gadis tadi.
Hmm,
ngomong-ngomong, sekolah disini bersih juga ya! Semua tertata rapih, cat-cat di
dindingnya juga bagus. Kulihat banyak lukisan hasil karya siswa yang dipajang
di dinding. Hmm.. bagus juga ya.
Setelah lama
berjalan, sampailah aku di depan ruangan di depan pintu biru muda. Pintu itu
tidak ada tulisannya. Lalu aku membuka pintu tersebut.
Krreekk…
Pintu terbuka.
Kulihat disekeliling ruangan ini. Banyak ruangan lagi, seperti WC. Hawanya pun
lain, pengap seperti kamar mandi. Lalu aku melihat wastafel dan cermin bulat
seperti di kamar mandi.
Aneh, apa
ruangan olahraga di Korea itu seperti ini? Lebih mirip WC ketimbang ruang
olahraga. Lalu aku mendengar suara cekikikan anak cowok dari dalam dan suara
shower mengalir. Perasaanku jadi tak enak. Lalu aku berteriak.
“Halooo… Apa
ada orang didalam?” teriakku. Lalu, tak berapa lama kemudian, dari dalam
ruangan yang lain, tepat dari ruangan yang terdengar bunyi tertawa anak cowok
dan suara shower, muncul segerombolan anak cowok. Mereka tak memakai seragam,
hanya sehelai handuk. Kulihat rambut mereka basah dan kulitnya pun basah.
Sepertinya habis mandi. Aku kaget bukan main melihat cowok-cowok itu.
Ya Ampun!
Ternyata ini kamar mandi! Lebih tepatnya kamar mandi anak laki-laki. Aduh!
Sialan sekali ketiga anak perempuan tadi! Berani sekali menipuku kalau ini
ruang olahraga! Sialan!
“KYYYAAAAA…!!!!”
jeritku kaget sekali. Aku tak berani membuka kedua mataku. Kudengar suara
tertawa cowok-cowok tersebut. Keras sekali.
“HAHAHAHA…!!!”
tawa mereka kencang.
“Hei, pendek! Apa
yang kau lakukan disini!?” kudengar suara cowok memanggilku dengan nada marah.
Seperti suara Chansung ataupun Chanwon. Tapi aku tak berani membuka kedua
mataku, aku tak mau melihat cowok yang pakai handuk! Iuh..!!
“Kau siapa? Chansung?” tanyaku sedikit takut.
Lalu cowok itu menyeretku keluar dari ruangan neraka itu.
“Iya! Dasar
bodoh! Keluar sana!” teriaknya. Lalu aku membuka kedua mataku, benar itu Chansung.
Dari nada bicaranya yang ketus saja sudah ketahuan! Dan, Ya ampun! Dia masih
memakai handuk seperti yang lain.
“KYYAAAAA…!!!” jeritku lagi.
“Hei, tenanglah! Jangan
berteriak-teriak seperti itu! kau benar-benar bodoh sekali!” marah Chansung.
“kau sudah diluar tahu!”
“oh, terimakasih Chansung,”
ujarku. Dengan mata yang kututup dengan tanganku, aku berbicara lagi. “terus,
kalau kita sudah diluar, kenapa kau masih disini? Kau kan masih pakai handuk,
tahu!”
Chansung terhenyak. Ia sadar, ia
sudah diluar, tapi masih memakai handuk. Aku mendengar suara derap kaki Chansung
yang terburu-buru kedalam ruangan kamar mandi dengan cepat. Aku mendengar suara
tawa anak-anak lain disekitar kami. Tampaknya mereka mentertawakan aku dan Chansung.
“Awas kau! Dasar bodoh!” jerit Chansung
dari dalam ruangan kamar mandi. Aku terhenyak. Kudengar tawa anak-anak lain
makin keras sambil mengataiku bodoh.
“Hahahaha…!!! Mereka berdua bodoh
sekali! Hahaha…!!!” tawa mereka. Aku malu sekali, lalu aku berlari
sekencang-kencangnya, menjauh dari orang-orang yang mentertawaiku tadi.
Ah, hari ini benar-benar
menyebalkan!
*******
“Hahahaha… Kau benar-benar lucu!”
tawa Arif saat mendengar ceritaku saat di sekolah tadi. Ia terlihat puas
mentertawakanku, puas sekali.
“Apanya yang lucu! Itu namanya
sial, tahu!” gerutuku sebal.
“Hahahaha…!!! Mungkin kalau aku
ada saat itu, mungkin aku sudah sakit perut karena tertawa terus! Hahaha…!!!”
tawanya makin menjadi.
“Ah, kau sama saja seperti
mereka! Mereka yang menyebalkan! Arrghh…!!!” gerutuku sebal.
“Wahaha, jangan marah dong, Rin!
Aku kan hanya bercanda!” kata Arif padaku. Aku Cuma cemberut saja.
“Iya, aku tahu!” kataku setengah
ikhlas. “eh, tapi aku mau bertanya. Boleh?”
“Boleh. Memang mau bertanya apa?”
Tanya Arif.
“Hmm… Apakah Chansung dan Chanwon
itu kembar? Kulihat mereka mirip sekali,” tanyaku Arif terdiam sesaat.
“Iya,” jawabnya. “Mereka memang
saudara kembar, tapi sayang…,”
“Tapi sayang kenapa?” tanyaku
penasaran. Arif terlihat mengambil nafas sejenak. Sepertinya ada hal yang
kurang enak terjadi.
“Sayang saja, mereka sudah
membenci satu sama lain. Ah, apa aku harus cerita padamu?” Arif terlihat agak
ragu.
“Wah, ceritakan dong! Aku janji,
tidak akan bilang siapa-siapa!” ujarku.
Arif mengambil nafas lagi. Mie
instant stirofom yang dimakannya diletakkan di sisi lain. Tampaknya akan ada
rahasia yang akan ia ceritakan…
~BERSAMBUNG~
(Wahaha,
gimana ceritanya? Penasaran kan? Baca terus ya, and jangan lupa leave a comment
buat ini ya… J)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar