Minggu, 12 Agustus 2012

One Love in Memories (part 2)




One Love in Memories
Karya: Dyla Annisa Putri
Part 2
Cerita Sebelumnya:
(Rinrin, adalah seorang gadis asal Indonesia yang mendapat beasiswa di Korea Selatan. Saat berada di Bandara Gimpo, Rinrin ditolong oleh seorang laki-laki muda berwajah cantik ketika Tas-nya dicopet. Rinrin pun akhirnya penasaran dengan cowok baik tersebut. Namun, saat di rumah Paman dan Bibinya, cowok yang sama (Namanya Chansung) itu datang lagi, namun sikapnya ketus dan mengatakan bukan ia yang menolong Rinrin di Bandara. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa yang sebenarnya menolong Rinrin?)

…………Aku terdiam. Chansung benar-benar pergi.
          “Sudahlah, Rin!” kata Arif mencoba membuyarkan rasa anehku.
          Aku tetap saja heran. Ah! Lebih baik aku istPujihat saja sekarang! Besok aku harus datang pagi-pagi ke Sekolah baruku, Hanyoung High School. Tidak boleh sampai terlambat!
********
          Pukul 6 pagi waktu Korea Selatan.
Aku tersenyum manis di depan cermin kamarku yang lumayan besar, melihat seragam sekolah Hanyoung High School yang baru untukku, terlihat begitu  pas di badanku. Seragam dengan jas warna cokelat bata, rok kotak-kotak warna senada yang manis, kemeja putih dan dasi yang berwarna cokelat, semua itu tampak pas di badanku. Aku tersenyum lebar-lebar.
“Rinrin,” tiba-tiba terdengar suara Arif dari balik kamarku. “Ayo kita berangkat! Kamu tidak mau terlambat kan?”
“Iya!” jawabku singkat. Lalu aku bergegas keluar kamar. Saat keluar, Arif melihatku dengan tatapan takjub.
“Wow,” ujarnya. “Seragam Hanyoung High School! Kau akan bersekolah disana?”
“Iya,” jawabku. “Memangnya kenapa?”
“Hebat!” ucapnya sambil terus melihatku dengan perasaan takjub. “Dulu aku ingin masuk ke sekolah itu, tapi tidak diterima! Kamu hebat Rinrin! Aku salut sama kamu!”
Aku tersenyum. Ah, sepertinya hari-hari baruku di Hanyoung High School nanti bakal ramai.
“Hei, kalian berdua! Ayo sarapan dulu! Paman dan Bibi sudah belikan roti untuk kalian!” tiba-tiba terdengar suara Paman Donghae dari dalam dapur.
Aku dan Arif lalu pergi ke dapur. Kulihat Arif masih saja melihatku dan seragamku sampai di dapur.
*******
Setelah sarapan, aku dan Arif berangkat ke sekolah masing-masing. Aku berangkat sendirian, tanpa ditemani siapa-siapa.
Sambil berjalan menuju sekolah, aku melihat keadaan sekitarku. Jalanan masih tampak lengang. Kulihat beberapa pelajar sepertiku lewat didepanku sambil berjalan atau naik sepeda. Tak jarang ada juga yang mengenakan sepeda motor. Aku melihat pertokoan baru ada beberapa yang buka. Pohon-pohon terlihat berjejer rapih disekitar jalan, memberi nuansa keteduhan. Ah, tanpa sadar aku berhasil melupakan kejadian tak mengenakan kemarin malam dengan Hwang Chansung.
Aku tersenyum sendiri, Korea Nampak begitu indah di kedua mataku. Tak lama aku berjalan, aku sampai di sebuah sekolah dengan halaman yang mengampar luas dan gedung besar bertingkat berwarna merah marun yang elegan. Di depannya ada taman besar yang hijau dan rindang. Ada pagar besar yang terlihat kokoh di depannya. Kulihat mobil lalu lalang masuk kedalamnya.
Ini dia, Hanyoung High School! Sekolah baruku! Aku tersenyum takjub melihatnya.
“Wah, besar sekali sekolah ini!” kataku agak norak, karena baru pertama kali melihat sekolah sebagus ini. Tiba-tiba dari arah sampingku, BYUUURRR… Sebuah mobil mewah jenis sport mencipratkan air kubangan yang ia lindas hingga membasahi seluruh seragamku!
          “Hei, kau menyebalkan sekali! Beraninya kau melakukan ini padaku!” jeritku kesal, hingga semua yang lewat memperhatikanku seperti orang sakit jiwa. Aku mendengus kesal.
          Ah, lebih baik aku masuk saja!
*******
          Aku melangkah masuk, mendekati gerbang sekolah yang begitu besar bagiku. Dengan hati setengah dongkol karena seragamku basah dan kotor karena mobil sport  tadi!
Baru masuk ke gerbang sekolah baru, tiba-tiba satpam sekolah mengejarku. Aduh! Kenapa lagi sih?
          “Hoi! Berhenti!” teriak si Satpam berbadan gemuk itu. “Kau tidak boleh masuk sekolah dengan seragam kotor begitu!” aku tidak menggubris teriakannya, aku berlari sekencang-kencangnya agar satpam itu tidak dapat mengejarku.
          Tapi aku salah, ternyata Satpam itu berlari cepat sekali walaupun badannya begitu gemuk! Baru berlari sebentar, Satpam gemuk itu berhasil menangkapku. PLAK!! Dia memukulku dengan pentungan satpam!
          “Aduh!” jeritku kesakitan. Satpam gendut bin bengis itu lalu berteriak padaku.
          “LAIN KALI KALAU MAU MASUK SEKOLAH, PAKAI SERAGAM YANG LEBIH PANTAS! DASAR BODOH!!” teriaknya di telingaku. Ngung… Ngung… Ngung… Kupingku berdengung mendengarnya berteriak-teriak.
          “Hei, Pak! Lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar suara cowok dari arah belakang kami. Saat aku menoleh, kulihat sesosok cowok yang kukenal. Ha, Chansung!
          “Iya, iya,” Jawab si Satpam itu sedikit takut. Lalu ia melepaskanku. Huff.. Leganya! Tapi, kok Satpam ini mau melepaskanku gara-gara Chansung ya?
          Sementara itu, Chansung melihatku dengan manis. Ia tersenyum padaku. Aneh! Tadi malam dia begitu ketus padaku, bahkan mengataiku pendek. Tapi sekarang malah menolongku, bahkan tersenyum sangat manis padaku. Aku heran.
          “Hei, kau gadis yang kutolong di Bandara kemarin sore kan?” tiba-tiba Hwang Chansung berkata seperti itu. ha? Tadi malam dia tidak mengaku kalau dia yang menolongku di Bandara, tapi sekarang… Aduh, ini benar-benar aneh! Aku jadi pusing sendiri.
          “Lho? Kenapa bengong?” Tanya Chansung bingung. “Oh, ya! Sebelumnya aku ingin berkenalan denganmu. Namaku Hwang Chan Won. Kau bisa panggil aku Chanwon,”
          HAH??? Chanwon? Jadi ini bukan Chansung?!
          “eu.. eu.. eu.. Kau Chanwon? Bukan Chansung?” tanyaku bingung. Ia terlihat ikut bingung sepertiku.
          “Chansung? Hahaha… Aku bukan Chansung! Namaku kan Chanwon, kalau Chansung itu…,” tiba-tiba omongan Chan Won terputus karena bel sekolah berbunyi.
          “Wah, sudah masuk! Aku duluan ya!” ujar Chanwon padaku. Sementara itu, aku masih terbengong-bengong. Dengan mulut menganga seperti orang dungu, Aku melihat Chanwon sudah berlari masuk kedalam sekolah.
          Ah, Hari pertama ini aneh!!!
******
          Kulihat arlojiku menunjukan pukul 7 pagi waktu Korea. Aku melangkah menuju kelas baruku. Kelas yang tak pernah aku tahu sebelumnya…
          “Rinrin Karina!” tiba-tiba aku melihat seorang guru wanita berpakaian cukup sexy menhampiriku. Wajahnya terilihat seperti orang Indonesia. Aku terdiam. Siapa dia? Mungkin dia guru disini.
          “Kamu Rinrin, kan?” Tanya guru itu dalam bahasa Indonesia. Aku mengangguk pelan. Wah, dia bisa berbahasa Indonesia juga!
          “Oh, baiklah! Ayo ikut Ibu. Ibu akan menunjukkan kelas barumu,” kata Guru itu. “Oh, ya! Sebelumnya perkenalkan, nama saya Ibu Puji Lestari. Kamu bisa panggil saya Ibu Puji. Saya orang Indonesia seperti kamu.”
          Aku tersenyum, “Iya, bu..”
          Baru melangkah sebentar, tiba-tiba Ibu Puji menghentikan langkahnya. Ia lalu memperhatikan aku seksama, lebih tepatnya memperhatikan seragamku.
          “Seragammu kotor sekali!” omel Ibu Puji padaku. “Ayo! Ganti dulu sana! Ambil seragam cadanganmu di ruang olahraga!”
          Ah, sial! “Baik, bu!” jawabku setengah dongkol. Lalu aku melangkah pergi menuju ruang olahraga. Baru jalan sebentar, aku menyadari kalau aku tidak tahu dimana ruang olahraga itu sendiri. Lalu aku berbalik, hendak menanyakan dimana ruang olahraga.
          “Ah, Bu! Kalau ruang olahraga itu dimana?” tanyaku sambil berbalik. Ketika sudah berbalik ke belakang, kulihat sudah tak ada siapa-siapa. Bu Puji sudah pergi!
          “Uh,” gerutuku. Sekarang aku tampak seperti orang bodoh, tak tahu mau kemana.
          Lalu aku melihat 3 orang anak perempuan sepertiku lewat dihadapanku. Mereka terlihat sombong, mungkin itu Cuma perasaanku. Mereka melihatku dengan tatapan aneh, tampaknya mereka tak menyukaiku, mungkin karena aku terlihat berbeda dari mereka.
          Ah, lebih baik aku tanya pada mereka dimana ruang olahraga! “Maaf, apa kalian tahu dimana ruang olahraga?” tanyaku pada mereka. Mereka terlihat sinis saat aku berbicara, lalu salah satu diantara mereka, yang rambutnya lurus dan hitam serta memakai bando putih di kepalanya, menjawab pertanyaanku.
          “Ruang olahraga? Oh, itu ada di sebelah kiri ruang kesenian. Kau tinggal jalan lurus dari sini, belok kanan kalau ada kantin, lalu lurus lagi. Kalau kau melihat ruangan dengan pintu biru muda, kau masuk saja. Itu ruang olahraganya!” jawab gadis itu dengan gelagat aneh. Tapi aku merasa tak curiga, mungkin mukanya memang seperti itu.
          “Oh, baiklah. Terimakasih, ya!” ujarku sambil tersenyum. Ketiga anak perempuan itu tersenyum aneh, lalu pergi.
          Ah, sekarang tinggal ke ruang olahraga, deh!
*******
          Aku melangkah menyusuri sekolah, menuju ruang olahraga yang diberitahu ketiga gadis tadi.
          Hmm, ngomong-ngomong, sekolah disini bersih juga ya! Semua tertata rapih, cat-cat di dindingnya juga bagus. Kulihat banyak lukisan hasil karya siswa yang dipajang di dinding. Hmm.. bagus juga ya.
          Setelah lama berjalan, sampailah aku di depan ruangan di depan pintu biru muda. Pintu itu tidak ada tulisannya. Lalu aku membuka pintu tersebut.
          Krreekk…
          Pintu terbuka. Kulihat disekeliling ruangan ini. Banyak ruangan lagi, seperti WC. Hawanya pun lain, pengap seperti kamar mandi. Lalu aku melihat wastafel dan cermin bulat seperti di kamar mandi.
          Aneh, apa ruangan olahraga di Korea itu seperti ini? Lebih mirip WC ketimbang ruang olahraga. Lalu aku mendengar suara cekikikan anak cowok dari dalam dan suara shower mengalir. Perasaanku jadi tak enak. Lalu aku berteriak.
          “Halooo… Apa ada orang didalam?” teriakku. Lalu, tak berapa lama kemudian, dari dalam ruangan yang lain, tepat dari ruangan yang terdengar bunyi tertawa anak cowok dan suara shower, muncul segerombolan anak cowok. Mereka tak memakai seragam, hanya sehelai handuk. Kulihat rambut mereka basah dan kulitnya pun basah. Sepertinya habis mandi. Aku kaget bukan main melihat cowok-cowok itu.
          Ya Ampun! Ternyata ini kamar mandi! Lebih tepatnya kamar mandi anak laki-laki. Aduh! Sialan sekali ketiga anak perempuan tadi! Berani sekali menipuku kalau ini ruang olahraga! Sialan!
          “KYYYAAAAA…!!!!” jeritku kaget sekali. Aku tak berani membuka kedua mataku. Kudengar suara tertawa cowok-cowok tersebut. Keras sekali.
          “HAHAHAHA…!!!” tawa mereka kencang.
          “Hei, pendek! Apa yang kau lakukan disini!?” kudengar suara cowok memanggilku dengan nada marah. Seperti suara Chansung ataupun Chanwon. Tapi aku tak berani membuka kedua mataku, aku tak mau melihat cowok yang pakai handuk! Iuh..!!
            “Kau siapa? Chansung?” tanyaku sedikit takut. Lalu cowok itu menyeretku keluar dari ruangan neraka itu.
          “Iya! Dasar bodoh! Keluar sana!” teriaknya. Lalu aku membuka kedua mataku, benar itu Chansung. Dari nada bicaranya yang ketus saja sudah ketahuan! Dan, Ya ampun! Dia masih memakai handuk seperti yang lain.
“KYYAAAAA…!!!” jeritku lagi.
“Hei, tenanglah! Jangan berteriak-teriak seperti itu! kau benar-benar bodoh sekali!” marah Chansung. “kau sudah diluar tahu!”
“oh, terimakasih Chansung,” ujarku. Dengan mata yang kututup dengan tanganku, aku berbicara lagi. “terus, kalau kita sudah diluar, kenapa kau masih disini? Kau kan masih pakai handuk, tahu!”
Chansung terhenyak. Ia sadar, ia sudah diluar, tapi masih memakai handuk. Aku mendengar suara derap kaki Chansung yang terburu-buru kedalam ruangan kamar mandi dengan cepat. Aku mendengar suara tawa anak-anak lain disekitar kami. Tampaknya mereka mentertawakan aku dan Chansung.
“Awas kau! Dasar bodoh!” jerit Chansung dari dalam ruangan kamar mandi. Aku terhenyak. Kudengar tawa anak-anak lain makin keras sambil mengataiku bodoh.
“Hahahaha…!!! Mereka berdua bodoh sekali! Hahaha…!!!” tawa mereka. Aku malu sekali, lalu aku berlari sekencang-kencangnya, menjauh dari orang-orang yang mentertawaiku tadi.
Ah, hari ini benar-benar menyebalkan!
*******
“Hahahaha… Kau benar-benar lucu!” tawa Arif saat mendengar ceritaku saat di sekolah tadi. Ia terlihat puas mentertawakanku, puas sekali.
“Apanya yang lucu! Itu namanya sial, tahu!” gerutuku sebal.
“Hahahaha…!!! Mungkin kalau aku ada saat itu, mungkin aku sudah sakit perut karena tertawa terus! Hahaha…!!!” tawanya makin menjadi.
“Ah, kau sama saja seperti mereka! Mereka yang menyebalkan! Arrghh…!!!” gerutuku sebal.
“Wahaha, jangan marah dong, Rin! Aku kan hanya bercanda!” kata Arif padaku. Aku Cuma cemberut saja.
“Iya, aku tahu!” kataku setengah ikhlas. “eh, tapi aku mau bertanya. Boleh?”
“Boleh. Memang mau bertanya apa?” Tanya Arif.
“Hmm… Apakah Chansung dan Chanwon itu kembar? Kulihat mereka mirip sekali,” tanyaku Arif terdiam sesaat.
“Iya,” jawabnya. “Mereka memang saudara kembar, tapi sayang…,”
“Tapi sayang kenapa?” tanyaku penasaran. Arif terlihat mengambil nafas sejenak. Sepertinya ada hal yang kurang enak terjadi.
“Sayang saja, mereka sudah membenci satu sama lain. Ah, apa aku harus cerita padamu?” Arif terlihat agak ragu.
“Wah, ceritakan dong! Aku janji, tidak akan bilang siapa-siapa!” ujarku.
Arif mengambil nafas lagi. Mie instant stirofom yang dimakannya diletakkan di sisi lain. Tampaknya akan ada rahasia yang akan ia ceritakan…
~BERSAMBUNG~
(Wahaha, gimana ceritanya? Penasaran kan? Baca terus ya, and jangan lupa leave a comment buat ini ya… J)

Tidak ada komentar: