Gadis Kuburan
Karya: Dyla Annisa Putri
Aneh, perempuan itu datang lagi dengan seikat bunga, sekantung kemenyan, dan kelopak bunga ziarah, serta sapu lidi.
Tampilannya bersih, seperti orang yang akan berziarah. Tapi, ini ganjil. Gadis berkulit putih itu terus datang ke pemakaman ini setiap hari. Gadis itu pasti akan selalu berziarah di makam dengan nisan bertuliskan, ‘Wati Iskandar binti Abdullah, lahir tahun 1964, meninggal dunia 1985’.
Seakan hapal, aku tahu tata cara gadis berwajah cantik itu melakuan ziarah. Pertama ia akan membakar kemenyan, lalu menaburkan kelopak-kelopak mawar diatas tanah makam. Gadis itu lalu membersihkan sampah-sampah daun yang berserakan di sekitar makam dengan sapu lidi yang ia bawa, dan yang aneh-ia tidak hanya membersihkan sampah-sampah disekitar kuburan yang ia ziarahi, tetapi juga seluruh area makam yang luas ini dengan sapu lidi kecilnya hingga larut malam.
Mungkin itu makam kerabatnya atau Ibunya, pikirku. Ah, mungkin memang begitu.
Kulihat gadis itu masih menyapu.
Mungkin gadis itu agak terganggu jiwanya, pikirku lagi. Bukankah banyak orang depresi setelah ditinggal orang yang mereka cinta, lalu akhirnya menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa Grogol yang mencekam dan gelap.
Tak terasa aku melamunkan gadis itu.
Kulihat gadis itu masih menyapu, dan kini ia mendekat dengan tempatku berdiri. Saat ia berada di depanku, ia memukul-mukul kecil kakiku dengan sapu lidinya.
“Maaf, tuan,” ujarnya pelan. “Bisa minggir sebenntar, aku sedang menyapu.”
“Baiklah,” jawabku sambil bergeser. “kulihat kamu sering berada di pemakaman ini.” Aku mencoba memancing reaksi gadis aneh itu.
“Memang,” jawabnya. “itu adalah pekerjaanku,” matanya yang pucat tak bersemangat itu terus berkonsentrasi dengan sampah yang ia bawa dengan sapu lidinya. Aku bingung.
“Pekerjaan? Kau tukang sapu disini?” tanyaku heran. Gadis itu tersenyum ganjil padaku.
“Tuan tidak perlu tahu.” Jawabnya. Uh, aneh!
Lalu gadis itu perlahan menjauh, sambil terus menyapu areal pemakaman yang luas ini dengan sapunya.
*********
Ah, seminggu aku tak mengunjungi areal pemakaman. Memang tak ada satu pun anggota keluargaku yang telah meninggal dimakamkan disini, tapi gadis di kuburan memancing rasa penasaran pria single sepertiku.
Ku melangkah perlahan, pemakaman tampak sepi. Tak ada tanda-tanda gadis misterius itu disini. Tak ada bau kemenyan terbakar, tak ada sebaran bunga-bunga diatas makam, dan tak terdengar suara sapu lidi. Kuburan ini tampak ditinggalkan.
Aneh, apa gadis itu libur berkerja di hari senin yang cerah ini?
Mengusir rasa keanehan, aku mencoba mendatangi makam yang sering dikunjungi si gadis aneh. Ya, makam ber-nisan ‘Wati Iskandar binti Abdullah’. Kulihat kuburan itu tampak rapih, tidak seperti kuburan yang lainnya. Tak ada sampah dedaunan yang berserakan. Aku terus menatap kuburan itu seksama.
Tiba-tiba, hidungku mencium bau kemenyan bakar dan dan harum kelopak mawar. Aku merasa pusing. Mungkin gadis itu telah datang, tapi setelah melihat-lihat tak ada satu pun orang yang terlihat.
Ah, entahlah! Lebih baik, aku pergi!
*********
Esok hari, aku tetap mengunjungi pemakaman itu. Menunggu gadis itu datang, yang terus menggelorakan rasa penasaran dalam pikiranku.
Dari jam 7 pagi, aku berdiri di areal pemakaman, hingga jam 12 siang yang terasa terik ini. Gadis itu tetap belum datang.
Ah, aku merasa bodoh. Untuk apa menunggu disini, berdiri seperti orang dungu selama 5 jam untuk menunggu seseorang yang tak kukenal. Seseorang yang masih gelap dan misterius.
Aku akan pergi, putusku. Sebelum kakiku benar-benar melangkah, kulihat seorang nenek tua penuh keriput dan noda hitam di pipinya. Nenek itu aneh bagiku. Untuk apa seorang nenek uzur mendatangi pemakaman siang bolong begini? Kulihat tongkat yang ia pakai patah, dan Nenek malang itu jatuh tersungkur di tanah, BLUUKK…
Aku bergegas berlari untuk menolong nenek tersebut. Kupapah tubuhnya yang ringkih dan berkeriput agar ia bisa berdiri. Nenek itu tersenyum padaku.
“Terimakasih, kau anak muda yang baik,” pujinya. “Bisa antar nenek ke kuburan itu? Nenek ingin berziarah.” Pinta Nenek itu.
Lalu aku mengantarkan Nenek itu ke kuburan yang ia tuju. Ternyata kuburan yang ia maksud adalah kuburan ber-nisan ‘Wati Iskandar binti Abdullah’, kuburan yang sering dikunjungi oleh si gadis aneh.
Nenek itu mengelus nisan dengan tangannya yang kurus kering dengan lembut, lalu bibirnya bergerak mengucapkan do’a. Begitu khusyuk dan damai. Kulihat tangannya menggenggam bingkai foto berdebu.
“Wati, Ibu rindu kau, nak…,” ucapnya lirih. Ternyata Nenek itu adalah Ibu dari orang yang dikubur disini. Lalu ia menatapku dengan berkaca-kaca.
“Nak, tahukah kamu… Ini kuburan putriku, Wati Iskandar. Ia meninggal 27 tahun yang lalu akibat dibunuh Ayahnya sendiri yang terkena gangguan jiwa,” cerita Nenek itu padaku. Aku bergidik ngeri.
“Sebelum ia meninggal, ia bilang padaku akan menjaga makamnya sendiri, seakan ia tahu tak akan ada orang yang akan mengurus makamnya kelak,” Nenek itu menghapus air matanya. “Aku menyesal telah membiarkan ia berbicara seperti itu.”
Aku terbawa emosi kesedihan yang dipancarkan Nenek tua itu. Aku termasuk orang yang berhati keras dan anti menangis, tapi justru menangis mendengar cerita dari seorang Nenek-Nenek.
Lalu Nenek itu meletakkan foto berbingkai tua dan berdebu diatas tanah makam. Ia lalu mengelus-elus foto itu dan nisan kubur. Kuperhatikan gadis dalam foto tersebut seksama. Sepertinya aku kenal gadis itu.
Aku teringat. Ya Allah, itu gadis aneh yang sering menyapu pemakaman ini! Aku terkejut. Jadi…
“Nek, kalau boleh tahu, gadis dalam foto ini siapa?” tanyaku pada Nenek tersebut.
“Ini Wati, orang yang tengah terbaring damai di makam ini,” Jawab Nenek itu. “Dia anakku.”
Glek!
Aku menelan ludah. Jadi, gadis aneh itu, selama ini muncul dalam penglihatanku, telah mati dari dulu? Jadi gadis itu… Ah, entahlah! Aku merasa pusing. Asap kemenyan, harum kelopak mawar, dan suara sapu lidi gadis itu memenuhi otakku. Otakku menjadi penuh dan pekat, setelah itu kurasakan duniaku menjadi monokrom, hanya hitam dan putih.
~SELESAI~
Keterangan:

2 komentar:
huumt bener bget memang kemalesan menjauhkan kita dari kesuksesan kawan,
hoho, malas itu manusiawi, tapi kalau kita terus menurutinya, alangkah banyak waktu yang terbuang percuma..
Posting Komentar