Crazy Smile
Karya: Dyla Annisa Putri
Duh, kakak itu tersenyum lagi!
Sudah berapa kali sih dia senyum padaku hari ini. Nggak di kantin, di perpustakaan, bahkan sampai di ruang guru pun begitu. Uhh…
Masih untung senyumnya manis! Kalau tidak, mungkin aku sudah memasang lakban tebal agar senyumnya tidak terlihat. Terkadang melihat ia tersenyum, aku merasa berada di dunia yang tidak kukenal. Asing. Tapi, ah masa bodo!
Kali ini kantin begitu sempit karena dipenuhi murid-murid berperut lapar. Sedang bersesak-sesakan, tiba-tiba kakak datang dan…. Kau tahu apa yang terjadi kan? Dia tersenyum lagi. Kali ini aku merasa agak terganggu.
Mungkin kakak itu agak stress… pikirku. Kali ini aku balas saja senyumannya dengan senyumku, biar puas! Biar kita sama-sama stress!
“senyum yang bagus,” celetuk kakak itu padaku. Apa?
Aku makin memerah. Kayaknya kakak itu hobi banget bikin aku kegeeran! Melihat kakak itu masih tersenyum lagi, ingin rasanya aku ingin melemparnya dengan meja kantin agar berhenti memasang senyum seperti itu.
“nama kamu siapa?” Tanya kakak itu lagi. Kali ini aku tidak meladeninya. Aku pergi saja tanpa memberi senyum apa-apa lagi. Bye-bye, tuan senyum!
“Namanya Harun,” kata temanku. “dia ketua klub ROHIS,”
Oh, jadi nama kakak itu Harun!
“kau tahu darimana namanya Harun?” tanyaku heran.
“ya ampun, aku kan LESTARI! Detektif professional!” kata temanku itu. “oh, ya! Setiap informasi itu kan berharga, jadi aku kasih tahu nama dia nggak gratis dong!”
Dengan dongkol, ku keluarkan selembar uang Rp 5.000,00 dari sakuku. Ia terlihat puas. Dasar detektif bayaran!
“wahaha… gitu dong, Nis! Lain kali minta bantuan sama Lestari, ya!” ujar Lestari senang. Aku cuma tertawa hambar. Kalau aku minta bantuan kamu terus, bisa-bisa kantongku yang kosong!
Eh.. eh!
Harun?
Kakak ROHIS?
Jadi itu identitas si tuan senyum! Hahaha...
Tapi, kenapa dia selalu tersenyum padaku? Apa tidak ada perempuan yang lebih cantik untuk disenyumi selain aku? Atau, mungkin otaknya agak konslet? Entahlah!
Lalu, aku keluar kelas. Menikmati udara segar daripada terus memikirkan si tuan senyum yang aneh itu. Tapi… dipikir-pikir, ia lumayan tampan juga! Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung dan tidak seperti aku yang berhidung pas-pasan ini. Walaupun terkesan imut-imut alias pendek, tapi ketampanannya nggak luntur sama sekali. Hmm…
Saat berada di depan pintu kelas, tiba-tiba si tuan senyum itu lewat lagi. Kali ini tidak hanya tersenyum, tapi sambil mengucapkan salam.
“assalamualaikum…,” sapanya. Manis sekali.
“waalaikumsalam..,” jawabku sambil setengah dongkol. Ah! Si tuan senyum lagi!
Lalu si tuan senyum itu pergi lagi. Dan tentu saja sambil tersenyum. Kali ini aku sudah benar-benar menganggapnya agak konslet!
******
Allahuakbar… Allahuakbar!!!
Terdengar suara adzan dzuhur yang mengalun lembut dan merdu dari masjid sekolah. Aku yang tengah mengantuk karena belajar Pkn jadi tersihir, ingin pergi ke masjid untuk sholat.
“nah, anak-anak! Boleh sholat dulu di masjid,” kata guru Pkn di kelasku. Entah kenapa, aku yang biasanya paling malas soal ibadah, jadi begitu semangat ingin sampai masjid duluan. Mungkin karena suara adzan yang merdu tadi, aku jadi semangat.
Hap… Hap.. Hap…!!!
Aku berlari menuju masjid. Tapi, saat sampai masjid, aku lupa membawa mukena! Mukenaku tertinggal di kelas. Aku langsung bingung, ah! Kalau pakai mukena masjid sekolah bisa ikut kena bau apek-nya!
“kamu tidak bawa mukena?” tiba-tiba terdengar suara yang lembut. Seperti suara adzan yang merdu tadi. Aku lalu menoleh kebelakang. Ah! Si tuan senyum! Kak Harun!
“aaaa… iya, kak! Mukenaku ketinggalan di kelas,” jawabku. Aduh! Dia senyum lagi!
“tidak apa-apa. Kamu pasti nggak mau pakai mukena sekolah, kan?” kata Kak Harun sambil tersenyum. “ini, pakai dulu saja mukena ini,”
Ya Allah… Kak Harun, si tuan senyum itu, menawarkan mukena padaku. Flash!!! Seketika aku terbengong-bengong. Heran.
“kakak, punya mukena juga?” tanyaku heran. “kakak sholat pakai mukena, ya?”
“wahaha… aku kan laki-laki! Masa’ pakai mukena!” tawa Kak Harun. “ini punya Ibuku. Katanya, kalau ada ukhti (perempuan) yang lupa bawa mukena, pinjamkan saja mukena miliknya ini,”
Oohh…
“sudah jangan bengong! Ayo cepat sholat sana!” kata Kak Harun membuyarkan lamunanku. Langsung aku bergegas pergi ke tempat wudhu, mengambil air wudhu pastinya.
Dari wudhu sampai sholat berjamaah dengan anak-anak lainnya, aku terus memikirkan kejadian tadi. Rasanya, enggan melepaskan mukena ini! Aku ingin mukena ini terus melekat di tubuhku yang ceking, lalu aku akan berteriak-teriak di halaman sekolah, “whoi! Mukena ini dipinjamkan dari Kak Harun!!! Lo semua belum tentu pasti dipinjamkan mukena oleh Kak Harun seperti ini!!! LO SEMUA WAJIB IRI!!!!!”
Sholat jamaah telah usai. Aku lalu membereskan mukena tersebut, dan hendak mengebalikannya kepada Kak Harun.
Ah, beres! Sekarang tinggal cari Kak Harun!
Aku lalu mencari-cari Kak Harun di sekitar masjid. Tidak ada tanda-tanda kehadiran si tuan senyum. Jangan-jangan, dia sudah kembali ke kelasnya.
“whoi, Nis! Ngapain kamu bengong disini?” tiba-tiba terdengar suara Wilan, teman sebangkuku.
“enggak,” jawabku. “aku lagi nyari Kak Harun. Tadi, dia minjemin mukena ini ke aku,”
“CIE…!!!” Wilan mulai kumat lagi untuk menggodaku. “nggak nyangka, ternyata sahabatku bisa narik perhatian Kak Harun, cowok most wanted di sekolah!”
“hus..!” aku agak dongkol. “kamu ini apa-apaan sih?” Wilan Cuma tertawa cekikikan.
“ah, telat kamu kalau nyari Kak Harun sekarang,” kata Wilan “daritadi dia sudah kembali ke kelasnya!”
Ahh… Tuan senyum! Mukena ini bagaimana???
*******
Esok harinya, aku mencari-cari Kak Harun untuk mengembalikan mukena yang dipinjamkannya padaku. Tapi, sepertinya Tuan Senyum tidak kelihatan!
Lalu aku pergi ke kelasnya. Aku berusaha menahan malu. Tapi, yah! Mau bagaimana lagi! Kalau tidak dikembalikan, bisa-bisa aku dituduh nyolong!
Kelas 12 IPA *** (maaf, disensor!)… Kelas Kak Harun…
“Assalamualaikum,” sapaku di kelas Kak Harun. “maaf, Kak Harun-nya ada?”
“oh, Harun? Dia ada di masjid!” sahut teman-temannya. Aku mengangguk mengerti, lalu pergi ke masjid.
Sampai di masjid sekolah, kulihat sesosok laki-laki tengah membaca Al-Qur’an didalam masjid yang sepi. Karena tidak ada siapa-siapa, suaranya jadi terdengar jelas. Merdu sekali dan enak didengar. Lagi-lagi aku tersihir…
BLAS!
Itu Kak Harun! Dialah yang sedang membaca Al-Qur’an tersebut… Dialah pemilik suara merdu itu… Aku terbengong-bengong melihatnya.
“lho? Kamu?” tiba-tiba terdengar suara Kak Harun. Rupanya ia berhenti dulu membaca Al-Qur’an karena melihatku. Aku jadi tergagap-gagap.
“i… iya, kak! Aku mau balikin mukena ini ke kakak,” kataku.
“oh,” kata Kak Harun. Lalu aku menyodorkan mukena tersebut, tapi Kak Harun malah tersenyum. “mukena ini hadiah untukmu saja,”
BLAS!
Jantungku serasa amblas ke usus. Kak Harun? Memberi mukena ini untukku? Untukku? Ya Allah!!! TERIMAKASIH!!!! TERIMAKASIH!!!!!
“lho, kamu bengong lagi?” tegur Kak Harun. Aku lalu cepat-cepat tersadar.
“ah, nggak kok, Kak! Hehehe… Beneran mukena ini buatku, Kak?” aku terkekeh sendiri.
“iya,” jawab Kak Harun sambil tersenyum. “tapi kamu harus janji, kamu harus sholat lebih rajin, ya!”
“iya, kak! Insyaallah….!” Jawabku. Rasanya aku ingin bersalto keliling sekolah sambil teriak-teriakan sekarang. Lalu aku pamit dari hadapan Kak Harun.
“eh, tunggu…,” tiba-tiba Kak Harun memanggilku lagi. “nama kamu siapa?”
“Annisa, kak!” jawabku sambil berlari ke kelas. Kulihat Kak Harun masih tersenyum.
Ah, Tuan Senyum!!! Terimakasih!!!
*******
Berminggu-minggu aku dibuat melayang oleh mukena yang diberikan Kak Harun. Ah, rasanya kalau melihat mukena putih ini, seperti melihat Kak Harun yang tengah mengaji dengan merdu. Seperti melihat Kak Harun yang tengah tersenyum manis. Ahahaha…!!! Lama-lama aku bisa gila!
“what? Kak Harun ROHIS jadian sama Mumtaz? Anak kelas 10-H yang jago bahasa perancis itu?” tiba-tiba aku mendengar suara temanku tengah menggosip. Aku terbelalak tak percaya. Hah??
“iya, aku lihat Kak Harun sedang menembak Mumtaz di taman sekolah kemarin. Wah, so sweet, lho!” gosip temanku yang lain. APA?
Kulihat mukena yang tadi kupegang. Euh! Tuan senyum! Kau mau memberiku harapan palsu hah?
“kamu tahu nggak Kak Harun nembak Mumtaz ngasih apa?” gosip temanku yang lain. “dia nembak Mumtaz sambil ngasih mukena dan Al-Qur’an!”
“hahaha… kayak orang kawinan aja pakai Mukena dan Al-Qur’an!” tawa temanku. “tapi, so sweet juga yah!”
“iya… Iiihh… Kak Harun! Sudah ganteng, sholeh, romantic pula! Mumtaz, kamu beruntung sekali. Coba aja kita jadi Mumtaz, ya….,” Teman-temanku mulai mengkhayal. PLAK!
Ah, sebel! Lalu aku melihat mukenaku lagi, lebih dalam dan dalam. Masih terlihat senyum Kak Harun yang manis dan membuatnya lebih tampan. Ah… rasanya aku ingin menjadikan mukena ini kain lap kalau boleh!
Dulu aku merasa gila jika melihat senyum Kak Harun, dan sekarang aku gila betulan! Kak Harun seperti memberi harapan indah lewat senyuman dan mukenanya, tapi ujungnya sama seperti bunyi kentut (sorry, bukan maksud buat ngomong jorok, ya!). Keras bunyi-nya, lalu menghilang gitu aja terbawa angin dan dihirup oleh semua orang (iihh…!). Arghh…!!!
Kak Harun ternyata memilih Mumtaz… sedangkan aku?
Ah, Kak Harun!
Apa selama ini senyum yang dia berikan itu Cuma pura-pura? Atau memang kebiasaannya untuk tersenyum pada orang lain. Entahlah! Aku jadi malas memikirkannya! Semakin memikirkan senyumnya, semakin membuat harapan kosong itu makin melebar dalam otakku. Semakin melebar, lalu tiba-tiba menyempitkan otakku hingga aku tidak bisa berpikir dan benar-benar menjadi gila!
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar