Rabu, 25 Januari 2012

Cerpen: Hari Esok Masih Ada


Hari Esok Masih Ada
Karya: Dyla Annisa P

          Gozi tenggelam diantara puluhan buku perpusatakaan. Ia tak bisa beranjak dari tempat duduknya di ruangan tersebut. Begitu serius ia membaca, hingga ia seolah-olah telah terkubur oleh buku-buku usang di perpustakaan tersebut. Matanya tak henti terbelalak melihat kata-kata dalam setiap kalimat di buku usang yang ia baca.
            Sebenarnya, berdesak-desakkan dengan buku usang di perpustakaan sudah menjadi kebiasaan Gozi dari dulu. Lebih tepatnya setelah Ayahnya meninggal 5 bulan yang lalu. Karena tak ada penopang hidup di keluarganya, Ibu Gozi tak bisa memberi uang saku sepeser pun untuknya. Ibu Gozi yang cuma buruh cuci yang tak jelas penghasilannya tiap hari, tak mampu memberi uang saku yang sebetulnya hak bagi setiap anak di dunia ini. Tapi syukurlah Gozi mengerti kesulitan tersebut. Akhirnya, sejak itu pula, ia menjadi penghuni perpustakaan. Berada diantara buku-buku tua yang hampir lapuk membuat Gozi merasa kenyang dan lupa derita lapar yang ia punya karena tak diberi uang jajan.
            Berada di perpustakaan tak kan perlu mengeluarkan uang, pikir Gozi. Di perpustakaan sempit ini ia hanya duduk dan menikamati buku-buku usang untuk dibaca. Untuk apa mengeluarkan uang hanya untuk membaca buku-buku tua yang sudah ketinggalan zaman?
            Gozi masih berkutat dengan buku tua yang ia baca. Ia kini sedang membaca buku ‘Lelaki Tua dan Laut’ karya Ernest Hemingway. Tapi pikirannya tidak sedang membayangkan perjuangan Santiago, seorang nelayan tua yang berusaha mendapatkan ikan yang besar dalam sejarah hidupnya dalam buku tersebut, melainkan pikirannya melayang kembali ke rumahnya. Ibu-nya kini tengah sakit keras dan adiknya mengeluh kalau ia selalu ditegur gurunya di sekolah karena belum membayar uang LKS.
            Apa ibu sudah sehat? Apa ada seorang dermawan yang memberi adikku uang untuk membayar LKS-nya? Pikir Gozi. Memikirkan hal itu membuat Gozi teringat akan laparnya. Ia belum makan dari pagi hingga membuat kadar gula darahnya naik turun seperti orang bermain Yoyo. Belum lagi masalah di rumah memenuhi pikirannya. Sial, sial, sial… gumam Gozi mengutuki diri sendiri 
            Sedang tenggelam dipermasalahannya sendiri dan buku yang ia baca, tiba-tiba telinga Gozi terasa pekak saat ada seseorang berteriak tepat di lubang telinganya.
            “WOI! Serius amat!” teriak seseorang. Gozi lalu menoleh kearah suara tersebut. Ternyata disebelahnya sudah ada Andra, teman sekelasnya yang terkenal kaya dan suka pamer di sekolah.
            “Kau membuatku hampir tuli!” omel Gozi. Andra tertawa.
            “Hahahaha… maaf membuatmu kaget. Betah banget di tempat sempit begini!” sindir Andra. Gozi cuma tertawa hambar. Berada di perpustakaan ini membuatku lupa akan laparku, bodoh! Caci Gozi dalam hatinya.
            “terserah,” jawab Gozi singkat. “kau mau apa?”
            “aku tahu kamu lapar, Gozi!” kata Andra. Aku mencium yang tidak beres.
            “terus?” tanya Gozi.
            “daripada di tempat sempit begini, kita ke kantin saja yuk! Aku ingin beli bakso,” ajak Andra.
            “kau saja sendiri!” kata Gozi. “kau tahu kan aku tak punya uang buat beli bakso?”
            “tahu, kok! Makanya aku mau traktir kamu!” jawab Andra. Traktir? Yang benar saja! Cibir Gozi dalam hati.
            “Ditraktir? Hmm… kayaknya nggak perlu deh. Soalnya…,” belum sempat Gozi selesai berbicara , Andra menarik lengan Gozi untuk pergi dari perpustakaan.
            “udah, ayo ikut aja!” kata Andra memaksa Gozi pergi. Gozi akhirnya ikut juga mengikuti Andra ke kantin.
            Sampai di kantin, Andra langsung memesan bakso pada Pak Kimung, tukang bakso paling terkenal di SMA mereka.
            “pak, bakso dua mangkok ya!” pesan Andra. Pak Kimung lalu lekas membuat dua buah porsi bakso. Lalu Andra dan Gozi mencari tempat duduk.
            “Andra, tumben kamu mau traktir saya,” kata Gozi. Andra tertawa kecil.
            “yah, sebenarnya sih… Ada yang ingin aku omongin,” jawab Andra.
            “apa?” tanya Gozi.
            “sebenarnya…,” belum usai Andra bicara, dua porsi bakso sudah siap dan menggoda mulut Gozi untuk segera melahapnya.
            “eh, kita makan dulu aja deh! Yok dimakan..,” persilahkan Andra. Tanpa pikir panjang, Gozi segera menyantap semangkuk bakso di depan matanya denga lahap. Seketika rasa lapar yang ia tahan daritadi pagi kini sirna berganti hangatnya kuah bakso.
            “gimana, Goz? Enak?” tanya Andra. Gozi mengangguk senang.
            “sebenarnya, aku mau minta bantuan sama kamu. Nanti kan ulangan matematika, kamu mau kan mengerjakan ulangan saya?” ucap Andra. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk… Gozi terbatuk-batuk mendengarnya. Kuah bakso yang tadi ia seruput kini berubah hambar. Apa?!
            “bantu mengerjakan ulangan kamu??” tanya Gozi tak percaya.
            “iya! Kan kamu udah aku traktir bakso! Jadi, kamu harus ngasih imbalan ke saya! Cuma buat ngerjain ulangan aku doang apa susahnya?” Andra kini melotot kepada Gozi. “kalau nggak, aku nggak jadi traktir kamu bakso! Biar kamu bayar sendiri! Aku tahu kamu lagi tidak punya uang, dan kamu tahu sendiri kan Pak Kimung nggak nerima hutang?”
            JEDARR..!!! Gozi serasa otaknya diledakkan dengan dinamit berkekuatan tinggi. Ia merasa otaknya sudah pecah berkeping-keping. Ia terdiam sejenak. Pusing, ruwet. Ia tak bisa melakukan apa yang diperintahkan Andra. Berlaku curang adalah hal paling Gozi hindari selama hidupnya. Ibu-nya pun selalu berpesan, bahwa orang miskin seperti mereka tak punya lagi apa-apa selain kejujuran dan kerja keras, dan itulah yang harus ia pegang teguh selama masih bernafas di bumi milik tuhan ini.
            “gimana? Nanti aku kasih uang lima puluh ribu kalau kamu mau!” Andra semakin menjadi-jadi. Mendengar kata uang lima puluh ribu membuat iman Gozi yang tadinya sebesar gunung berubah runtuh seketika.
            Lima puluh ribu? Gumam Gozi dalam hati. Jumlah yang cukup besar untuknya. Dengan uang tersebut ia bisa membeli obat untuk ibunya dan membayar tunggakan LKS adiknya. Tapi apa harus dengan cara begini? Gozi merasa posisinya Skakmat. Tidak bisa apa-apa lagi.
            TEETT…!!!!
            Bunyi bel jelas terdengar. Andra menatap Gozi yang masih bingung.
            “Goz, udah bel! Gimana?” tanya Andra lagi. Dan lalu…
            “Aku mau ngerjain ulangan kamu!” putus Gozi. Andra tersenyum lebar. Tapi bagi Gozi itu senyum terburuk yang pernah ia lihat. Senyum penuh kelicikan.
            “bagus!” kata Andra. “ayo kita ke kelas!”
            Lalu kedua laki-laki itu pergi menuju kelas. Gozi merasa bakso yang tadi ia makan menjadi pahit di tenggorokannya.


            Ulangan matematika pun dimulai. Semua anak serius mengerjakannya, termasuk Gozi. Apalagi kini dia harus mengerjakan dua ulangan sekaligus. Miliknya dan milik Andra. Gozi merasa ia telah membohongi hatinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi?
Ah, lebih baik tadi aku tetap di perpustakaan, melahap buku-buku tua dan rasanya lebih kenyang daripada makan bakso hasil traktiran kaki tangan iblis seperti Andra. Gumam Gozi. Tapi tak ada waktu untuk bergumam sekarang, ia harus mengerjakan ulangan matematika!
Waktu berlalu, ulangan yang dikerjakan Gozi pun selesai, termasuk ulangan Andra. Lalu ia mengumpulkannya tanpa rasa curiga sedikitpun dari guru matematika bahwa ia mengumpulkan dua jawaban sekaligus. Lalu Gozi menatap Andra yang tengah berpura-pura mengerjakan ulangan di bangkunya. Dasar licik! Maki Gozi dalam hati.
Setelah ulangan selesai, Andra menghampiri Gozi. Dengan sombongnya ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompet buatan Swiss miliknya. Gozi merasa sebal melihatnya.
“terimakasih ya, sudah mau bantu saya!” ucap Andra seraya memberi Gozi uang tersebut. Gozi makin sebal. Lalu Andra pergi meninggalkannya.
“Cuihh..!!” Maki Gozi.


Sampai di rumah, Gozi segera menghampiri Ibunya yang tengah meringkuk di kasur karena sakit parah.
“Ibu,” ujar Gozi. “kita ke puskesmas, yuk.”
“puskesmas? Uang dari mana, Gozi?” Ibu menatap Gozi nanar.
“Gozi punya uang, bu. Ayo kita ke puskesmas, saya khawatir sama ibu.” Bujuk Gozi. Ibu Gozi terlihat heran melihat putra sulungnya bicara begitu.
“uang? Kamu dapat uang darimana?” tanya Ibu Gozi heran. Terpaksa, karena tak mau membohongi Ibu-nya yang tengah sakit, Gozi menceritakan semua yang terjadi tadi di sekolah sampai uang lima puluh ribu berada di tangannya. Seketika Ibu langsung kaget dan terlihat marah pada Gozi.
“Gozi, Ibu tidak mau pergi ke puskesmas!” jawab Ibu tegas. “apalagi uangnya hasil dari kecurangan! Ibu nggak sudi, Goz!”
“tapi, bu… Gozi…,” omongan Gozi terputus.
“tapi apa? Kamu menjual semua kejujuran kamu dengan selembar uang lima puluh ribu itu?!” Ibu kian marah.
“Goz, Ibu tahu kita tidak punya apa-apa lagi! Ibu tahu! Tapi Ibu tidak suka dengan cara kamu mendapatkan uang tersebut! Kamu rela ngasih duit  haram buat Ibu berobat? Ibu bukannya malah sembuh, tapi makin parah!” Ibu melotot pada Gozi. Gozi cuma terdiam.
“dengar Goz, apa yang dihasilkan dari yang tidak benar tidak akan pernah menjadi baik pada ujungnya. Berharaplah sekarang tuhan masih memberimu hari esok untuk memperbaiki kesalahanmu hari ini!” kata Ibu, lalu ia pergi meninggalkan Gozi.
Sementara itu, Gozi masih terdiam. Omongan Ibu tadi membuatnya kian sadar kalau kejujuran tak bisa dibeli apapun. Gozi lalu memutuskan untuk mengembalikan uang lima puluh ribu tersebut pada Andra. Ia lalu berharap pada tuhan, semoga hari esok masih ada, untuk memperbaiki kesalahannya di hari ini.    
~SELESAI~

Tidak ada komentar: