Sabtu, 19 November 2011

cerpen baru!


Pelajaran dari Sebotol Racun      
Karya: Dyla Annisa Putri
          Sore itu, hujan tengah mengguyur Padalarang dengan derasnya. Waktu itu, aku tengah bersiap-siap pergi ke klinik dengan kedua orangtuaku. Kami sudah punya janji dengan dokter gigi sore ini.
       “ayo, Dyla! Mamah sama papah sudah siap!” teriak mamahku dari halaman rumah, membuyarkan lamunanku. Lalu aku berlari keluar rumah dan kulihat orangtuaku sudah siap. Kami menaiki motor, dan bertiga naik motor sekaligus itu sebenarnya tidak bagus. Tapi, hanya inilah kendaraan yang kami punya.
          Di tengah perjalanan, kulihat keramaian di sepanjang jalan Padalarang. Padalarang terasa sempit bagiku sekarang. Toko-toko, kendaraan yang lalu lalang, dan pejalan kaki yang sembarangan menyebrang jalan seakan membuat Padalarang kian sempit. Tak seperti saat aku pindah kesini, dulu Padalarang adalah tempat yang paling sepi yang pernah kupijak. Tapi sepertinya image Padalarang itu sepi sepertinya sudah luntur.
          Asyik melamun di jalan, tak terasa aku dan orangtuaku telah sampai di klinik. Sampai disana, kulihat sekerumunan orang berwajah panik didepan pintu klinik. Dari wajah mereka, sepertinya ada sesuatu yang genting sedang terjadi. Aku dan orangtuaku penasaran, lalu mencoba menghampari kerumunan tersebut. Saat kulihat apa yang sedang dikerumuni orang itu, aku terkejut bukan main.
          Kulihat seorang remaja laki-laki sekitar 19 tahun tergeletak didepan pintu klink. Tubuhnya pucat seperti kertas dan ia terlihat sangat lemah. Dari mulutnya kulihat ada busa yang keluar. Ia merintih minta tolong. Ia terlihat sangat menderita.
          “Astaghfirullah…, kenapa dia?” tanyaku.
          “ini neng, dia minum racun!” jawab salah seorang bapak-bapak. Aku makin terkejut. Minum racun?
          Tak lama kemudian, datang ambulans dengan sirene-nya yang meraung-raung keras. Lalu remaja malang itu dibawa kedalam ambulans untuk segera diberi pertolongan. Ambulans itu lalu pergi membawa-nya.
          “lho? Kenapa dibawa ambulans? Bukannya di klinik ini obat-obatnya lengkap?” Tanya bapakku.
          “di klinik nggak sedia infus. Sedangkan orang tadi harus segera diinfus. Makanya kita panggil ambulans biar dia segera dibawa ke rumah sakit terdekat dan dapat pertolongan,” jawab si penjaga klinik. Bapakku mengangguk-angguk tanda mengerti.
          Lalu kerumunan orang-orang tadi, tanpa dikomando, membubarkan diri. Klinik menjadi sepi. Aku masih terngiang-ngiang dengan peristiwa yang tadi kulihat. Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku.
          “kenapa orang itu nekat sekali melakukan itu? Padahal umurnya masih muda dan masa depannya masih panjang?” tanyaku dalam hati.
JJJJJJ
          Sehabis memeriksakan gigi di klinik, aku dan kedua orangtuaku bergegas pulang ke rumah. Dalam benakku, masih teringat kejadian mengerikan sore tadi di depan klinik. Aku terus memikirkannya hingga kami sampai di rumah.
          Kejadian itu terus kupikirkan. Akhirnya, aku tidak bisa berkonsentrasi belajar. Ibuku yang melihatku terus melamun dari tadi, lalu menegurku.
          “Dyla, kok kamu melamun terus dari tadi? Memangnya kamu nggak belajar?” tegur Ibuku.
          “eh, nggak kok, mah!” jawabku. ”Dyla cuma lagi mikir aja, kok orang tadi nekat sekali minum racun? Padahal dia masih muda banget, masih punya masa depan, tapi kok rela mengakhiri hidupnya dengan cara begitu?” tanyaku.
          “Dyla,” Ibuku tersenyum. “ itulah kalau iman kita sebagai orang Islam sudah hilang dari hati kita. Akhirnya, kita jadi tidak percaya lagi pada takdir dan kuasa Allah. Padahal kalau kita punya masalah, seberat apapun, pasti Allah akan bantu jika kita terus meminta pada-Nya. Tapi kalau iman kita hilang, kita tidak akan kehilangan arah dan tersesat,” jawab beliau panjang lebar. “oleh karena itu, jagalah iman kita dari sekarang, biar tidak hilang dari hati kita. Kalau tidak, mungkin kita akan seperti orang tadi, hidupnya jadi berakhir sia-sia dengan sebotol racun!”
          Aku termenung mendengar perkataan Ibu. Dalam hati aku bertanya, apakah aku sudah berusaha menjaga imanku sendiri? Padahal kerap kali kulewatkan waktu sholat dan mengajiku hanya untuk main-main yang tidak memberi manfaat apapun. Berapa kali kebohongan telah keluar dari bibir ini. Telah tak terhitung, aku menyakiti hati kedua orangtuaku dengan apapun. Berapa banyak waktu yang kubuang percuma tanpa mengingat-Nya.
          “Astaghfirullah…,” aku beristigfar memohon ampun saat kuingat itu semua. Tanpa sadar selama ini telah kugerus imanku ini dengan dosa yang telah kubuat. Kurasakan aku telah jauh dari-Nya. Kurasakan ada yang membasahi pipiku. Ya, aku menangisi semua dosa yang kupunya.
          Ya Allah, minta ampun atas semua dosa yang telah kulakukan. Jangan engkau hilangkan imanku ini dari hatiku, Do’a ku dalam hati.

Tidak ada komentar: