Kamis, 22 September 2011

Cerpen: Yang Terakhir

Yang Terakhir
Karya: Dyla Annisa Putri

            Namaku Sarah Annisa. Aku berasal dari kota Ambon, Maluku. Usiaku sekarang telah 15 tahun. Aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Aku tinggal di panti asuhan Kasih Ibu di Ambon.
 Walau aku tak tinggal bersama orangtua seperti kalian, tapi aku masih mempunyai teman-teman yang baik serta menyenangkan. Akan tetapi, kami masih sama dengan anak-anak lainnya. Kami juga ingin memiliki keluarga yang utuh seperti anak-anak lainnya.  Tetapi, nasib yang telah menyeret kami ke tempat ini. Seandainya kerusuhan antar penganut agama di Ambon waktu itu tak terjadi, tentu kami tidak akan berada di tempat seperti ini.  Tapi apadaya, memang inilah yang terjadi.
Masih teringat di benakku saat kerusuhan Ambon tahun 1999. Rumah, pasar, sampai gedung-gedung penting pun dihancurkan saat kerusuhan itu terjadi. Waktu itu aku masih berumur 3 tahun. Saat kerusuhan terjadi, aku tengah pergi ke pasar dengan ibuku. Kami hendak berbelanja bahan untuk membuat papeda kuah kuning. Saat tengah berbelanja, tiba-tiba segerombolan orang datang sambil mengacung-acungkan parang dan senjata tajam lainnya. Mereka mengobrak-abrik pasar dengan membabi- buta. Seluruh orang di pasar lari tunggang langgang karena ketakutan. Aku dan ibu juga ikut berlari karena takut. Tetapi, karena sibuk berlari, aku terpisah dari ibu. Aku yang masih kecil menangis. Saat itulah aku terakhir kalinya melihat wajah ibuku sendiri. Kini, aku tak bisa lagi mengingat wajah beliau kembali. Mungkin karena telah bertahun-tahun tak bertemu, aku jadi lupa dengan wajah ibuku sendiri. Itu pula lah yang terjadi dengan teman-temanku di panti asuhan. Kami harus kehilangan orangtua dan sanak saudara akibat kerusuhan tersebut. 
Walaupun kini kami tak punya orangtua dan sanak saudara, aku dan teman-teman lainnya di panti asuhan tak pernah merasa tak memiliki ibu. Ibu Renata, atau lebih akrab dipanggil ibu Rena, selalu ada untuk kami. Beliau adalah pengurus panti asuhan Kasih Ibu. Ibu Rena adalah wanita yang sangat baik. Selain baik, ibu Rena juga sangat pandai dan sering mengajari kami berbagai hal. Ia seperti oasis ilmu bagi kami yang kehausan akan ilmu di gurun sahara.  Dan yang paling aku kagumi dari beliau, ia tak pernah membeda-bedakan kami walau berbeda keyakinan dengan beliau. Ia sering mengingatkan kami untuk sholat 5 waktu , bahkan memanggilkan guru mengaji ke panti asuhan. Ibu Rena pun sering mengucapkan selamat pada hari raya islam seperti lebaran atau idul adha kepada kami. Walaupun kami tak pernah melakukan hal yang serupa seperti beliau karena memang keyakinan kami melarang hal itu, tapi ibu Rena mengerti dan tak pernah mempermasalahkan hal itu.
Suatu malam, aku berbicara dengan ibu Rena
“ibu Rena, aku lupa dengan wajah ibuku sendiri sekarang. Apa itu salah?” tanyaku pada ibu Rena. Beliau lalu tersenyum mendengarnya.
“mungkin itu karena kamu tidak pernah lagi melihat ibumu,” jawab ibu Rena singkat.
“tapi, apa ibu pernah melihat ibuku?” tanyaku lagi.
“pernah,” jawab Ibu Rena lagi. Aku tersenyum senang mendengarnya.
“bagaimana wajah ibu saat itu?” tanyaku.
“cantik. Seperti kamu, Sarah…,” jawab ibu Rena.
“ouhh…,” ujarku. “aku jadi ingin bertemu dengan ibuku…,”
Ibu Rena kembali tersenyum dan berkata. “mungkin suatu saat, tuhan akan mempertemukan kembali kamu dengan ibumu kembali. Ibu do’akan itu,”
“aminn..,” ujarku mengamini. “ehm, ibu… boleh aku memeluk ibu?” tanyaku malu-malu. Ibu Rena tersenyum.
“boleh…,” jawab Ibu Rena. Lalu aku memeluk tubuh Ibu Rena yang kurus. Aku mendekapnya dengan erat seperti anak kecil. Tapi, saat memeluk beliau, aku tak merasakan kasih sayang  seorang ibu sedikit pun.
   “Sarah, “ ucap Ibu Rena sembari mengelus rambutku yang keriting. “sudah dulu, ya? Kamu harus tidur sekarang. Nanti kamu terlambat masuk sekolah,” lalu aku melepaskan pelukanku pada beliau. Kemudian ibu Rena pergi dari hadapanku.
  Kurasakan ada air yang menetes dari kedua bola mataku. Kini, selain merindukan wajah ibu, aku merindukan pelukan seorang ibu, pelukan yang bisa menghangatkan dan menenangkan aku.  Tapi rasanya mustahil untuk itu semua. Lalu dalam hatiku, aku berkata sendiri.
“Ya Allah, aku merindukan pelukan hangat dari ibuku seperti dulu…,”

Siang hari itu begitu panas buatku. Dengan langkah gontai, aku berjalan pulang dari sekolah. Hawa kota Ambon yang panas kini benar-benar menyengat hingga serasa menembus tulangku. Keringat telah membanjiri seragam SMA-ku. Kulihat jalanan sepi siang ini. Mungkin karena panas, orang jadi malas keluar rumah.
Saat berjalan pulang ke panti, aku melihat puing-puing sisa kerusuhan Ambon beberapa tahun yang lalu.  Rumah-rumah yang kini tinggal tiangnya saja, bahkan ada yang hampir rata dengan tanah. Kulihat juga sebuah bangunan masjid yang kosong bekas terbakar. Benar-benar mengerikan walau cuma melihat bekas puing-puingnya. Selain itu, melihat itu semua, aku jadi teringat saat aku terpisah dari ibu. Aku mencoba mengingat-ingat wajah ibu saat itu, tapi tidak bisa. Otakku seakan menolak untuk mengingat itu kembali.
Diantara puing-puing tersebut, kulihat sesosok wanita kumal dengan baju compang-camping. Rambutnya kusam, sama seperti wajahnya. Wajah wanita tersebut menampakan rasa kehampaan dan kehilangan. Wanita itu tak asing bagiku. Ia salah satu korban kekerasan di Ambon dulu. Dia adalah Mak Nyong. Sebenarnya namanya bukan Mak Nyong. Tetapi karena sering menampakan diri dengan wajah bersungut-sungut alias monyong, ia dijuluki Mak Nyong. Ia adalah wanita yang kurang waras, sehingga banyak orang tidak mau dekat-dekat dengannya.
Seperti orang kebanyakan, aku pun tidak suka dekat-dekat dengan Mak Nyong, malah kini aku takut padanya. Akhir-akhir ini, ia sering mengamuk di jalanan, hingga membuat banyak orang takut. Dan saat kulihat Mak Nyong diantara puing-puing bangunan tersebut, tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Aku kaget bukan main.
“anak beta… anak beta…,” ucap Mak Nyong saat melihatku. Ia lalu berdiri dan hendak menghampiriku. Aku kaget bercampur takut. Tanpa piker panjang, aku langsung berlari karena takut didekati oleh Mak Nyong. Tapi, ternyata Mak Nyong pun juga mengejarku.
“anak beta…!!! Anak beta…!!!” jerit wanita itu saat mengejarku. Aku takut sekali. aku berusaha mempercepat langkahku, tapi Mak Nyong serasa makin mendekat.
“tolooongg….!!!” Jeritku meminta tolong. Tapi tak ada satu pun yang menolongku. Aku makin panik. Kali ini kukerahkan seluruh tenagaku agar bisa menjauh dari Mak Nyong.
“Anak beta…!!!” jerit Mak Nyong lagi. Aku tak peduli. Aku terus berlari hingga sampai di panti asuhan. Kulihat ibu Rena tengah menyapu halaman. Aku langsung menghambur kearah beliau dan menangis. Ibu Rena kaget sekaligus bingung melihatku.
“Sarah, ada apa?” Tanya ibu Rena padaku. Tapi aku tak bisa menjawabnya.
Tiba-tiba, dari belakang kulihat wanita kumal itu datang. Aku langsung memeluk tubuh ibu Rena karena takut melihatnya. Tapi, kulihat ibu Rena malah terdiam mematung melihat Mak Nyong.
Mak Nyong lalu mendekati aku dan ibu Rena. Kulihat ia memperhatikan kami dengan seksama. Kulihat juga ada air yang membasahi pipinya yang hitam legam karena sering terbakar sinar matahari. Tak kuduga, ia malah tersungkur ke tanah sembari memeluk kaki ibu Rena.
“anak beta… anak beta…,” lirih Mak Nyong sambil menangis. Kulihat ibu Rena pun  menangis. Aku bingung melihat ini semua. Lalu, ibu Rena mencoba mengangkat tubuh Mak Nyong yang kurus.
“Zahra…,” ucap ibu Rena pelan. Aku keget saat ibu Rena memanggil Mak Nyong dengan nama Zahra. Apa Zahra itu nama asli Mak Nyong? Darimana ibu Rena tahu? Tanyaku dalam hati.
            “Zahra, anakmu Sarah baik-baik saja. Kini ia berada didepanmu…,” ujar ibu Rena. Aku lebih kaget mendengar perkataan ibu Rena yang satu ini. Mak Nyong? Ibuku?
            “ibu Rena… Jadi ibu kandungku itu…,” ujarku kaget. Ibu Rena mengangguk pelan. Kini aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Langsung saja kupeluk tubuh Mak Nyong yang ternyata ibuku. Walaupun  badannya berbau busuk, tapi aku bisa merasakan hangatnya kasih seorang ibu dalam pelukan tersebut. Aku menangis. Cuma bisa menangis.
            “Mak Nyong ini adalah ibumu. Nama aslinya adalah Zahra. Ia juga saudara ibu. Karena itu, saat ia depresi pasca kerusuhan Ambon waktu itu, ibu memutuskan untuk merawat kamu, Sarah…,” jelas ibu Rena.
            Setelah lama berpelukan, Mak Nyong lalu pergi. Ia lalu menghilang entah kemana. Aku berkata dalam hatiku.
            “Ya Allah, terimakasih telah menjawab do’aku. Kini aku bisa memeluk ibuku sendiri walaupun itu cuma yang terakhir untukku…,”
***SELESAI***

Tidak ada komentar: