Minggu, 16 Desember 2012

In the Middle of Heart part 2


In the Middle of Heart
Part 2
By: Dylku Sweet



            Aigoo! Tiffany menarik nafasnya dalam-dalam. Ah, kenapa ini begitu menegangkan?
            Tiffany memasuki ruang casting dengan jantung berdegub kencang. Dilihatnya Lee Soo Man dan Lee Donghae telah duduk di meja juri dengan wajah serius, dan itu membuatnya semakin gugup. Namun, Tiffany tetap berusaha tenang.
            “Selamat pagi!” Tiffany berusaha memberi salam. “Namaku Tiffany Hwang. Aku disini akan menunjukkan bakatku berupa…,”
            “Berupa apa?” Lee Soo Man langsung menyela omongan Tiffany. Tiffany makin gugup.
            Dance. Ya! Aku akan menunjukkan bakatku berupa dance!” jawab Tiffany cepat. “Aku akan menari jazz ballet,”
            Lalu Tiffany menari Jazz Ballet dengan apik. Gerakannya begitu bagus dan teratur. Tiffany sendiri memang adalah seorang penari, jadi dance seperti ini tidak begitu masalah buatnya. Lagu jazz ballet terus terdengar dan Tiffany terus menari dengan indah.
            “Bagus! Bagus!” Lee Soo Man bertepuk tangan, namun Donghae tidak sama sekali. “Coba, tunjukkan bakat aktingmu!”
            Tiffany sempat menghapalkan beberapa dialog drama buatannya. Tiba-tiba, Tiffany langsung menuju meja juri dan menatap Donghae.
            “Donghae,” ucap Tiffany mengawali aktingnya. “Kau tahu, aku memang gadis biasa. Aku bukan siapa-siapa. Tapi, aku tidak malu untuk menjadi yang terbaik untukmu,” Tiffany memegang tangan Donghae sebagai aktingnya. “Karena aku tahu, Donghae adalah pria yang hanya ada di hatiku. Sasileun joneun rinssireul joahaeyo, Donghae-Oppa…,”
            Tiffany berakting dengan bagus. Lee Soo Man sudah bertepuk tangan dengan keras. Para peserta lainnya yang menyaksikan akting Tiffany lewat layar pun ikut bertepuk tangan. Tiffany tersenyum bahagia, nampaknya hari ini adalah hari kebahagiaannya. Saat ia melihat Donghae, tak sedikitpun senyum atau tepuk tangan dari namja tampan itu.
            “Cih, ternyata kau belum sadar juga! Dasar! Pabbo!” ternyata Donghae malah mencibirnya. Tiffany terkejut mendengar kata-kata Donghae.
            “Apa? Maksudmu?” Tiffany terlihat bingung bercampur kaget. Donghae hanya tersenyum sinis. Namja itu lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja jeans-nya, ternyata sebuah masker hitam. Donghae lalu memakai masker hitam itu di mulutnya. Tiffany baru sadar kalau Donghae itu adalah pria ber-masker yang memukul bokongnya di stasiun!
            “Kau…,” Tiffany kaget bukan main. “Ternyata itu kau! Kamu kan namja di stasiun itu! Namja kurang ajar yang memukul bokong wanita sembarangan!”
            “Dasar! Yeoja keras kepala!” Donghae jadi tersulut emosi. “Bukan aku yang melakukan itu! Kau tidak tahu, sebelum aku datang ada seorang laki-laki yang berada di belakangmu waktu itu! Dia yang memukulmu! Bukan aku!”
            “Lantas, kenapa kau tidak mencegahnya?!” Tiffany tak mau kalah. “Kau senang melihat seorang yeoja diperlakukan tidak senonoh seperti itu?! Dasar artis kampungan! Mata keranjang!”
            Donghae hanya menatap tajam Tiffany yang tengah kalap. Lee Soo Man yang berada di situasi aneh itu hanya terdiam bingung.
            “Donghae, sebenarnya ada apa antara kau dan yeoja itu?” tanya Soo Man. Lee Donghe lalu menjawab.
            Yeoja itu menuduhku berbuat aneh-aneh padanya. Padahal tidak!” jawab Donghae. “Aku tidak suka kalau dia bermain drama bersamaku nanti!”
            “Aku pun tidak sudi! Cuih!!!” Tiffany sudah semakin kesal. “Aku tidak mau bermain drama bersama artis tidak bermutu sepertimu! Mata keranjang!” Tiffany lalu pergi meninggalkan ruang casting dengan penuh amarah. Brraakk!! Dibantingnya pintu ruang casting dengan kencang. Seluruh peserta yang menyaksikannya lewat layarh hanya bisa ternganga kaget dan melihat Tiffany berlalu saja.
            “Apa?! Apa yang kalian lihat!?” bentak Tiffany saat semua peserta memperhatikannya. Semuanya langsung pura-pura sibuk dan tidak memperhatikan Tiffany. Tiffany lalu pergi meninggalkan gedung tersebut.
            Di tengah jalan, Tiffany menangis. Ia tak tahan lagi. Dalam hati, ia sebenarnya menyesal telah menuduh Donghae,tapi toh, egonya mengatakan lain. Karena amarahnya, kesempatan di masa depannya sirna. Tiffany kesal. Ia menangis sejadi-jadinya.
            Sedang menangis seperti itu, tiba-tiba handpone Tiffany berbunyi. Ternyata ada pesan dari Kai, kekasihnya.
Tiffany, bagaimana castingmu? Sukses?
Aku akan datang ke rumahmu untuk makan malam. Aku akan memasak ramen kesukaanmu.
Salam sayang, Kai.”
            Tiffany makin menangis.
**********
            Tiffany telah pulang ke apartemen. Wajahnya kusut karena terus-terusan menangis. Daritadi ia belum ganti pakaian. Dalam pikirannya terus melambung kejadian tadi pagi, kejadian buruk. Tiffany mengacak-acak rambutnya hingga kusut.
            “Ahh!!!” Tiffany berteriak kesal. Rasanya ia ingin menelan apartemennya kalau bisa. Namun Tiffany cuma bisa kesal sendiri. Ia lalu duduk di kursi meja makan. Kepalanya tertunduk lemas. Ah, sebaiknya aku menenangkan diriku dulu! Pikir Tiffany akhirnya.
            Teng-Tong!
            Terdengar bunyi bel dari luar. Tiffany berpikir itu pasti Kai. Ia lalu berteriak dari meja makan dapur dengan keras.
            “Masuk saja! Tidak dikunci!” teriaknya. Tiffany masih terduduk di kursi meja makan. Ia berharap Kai segera masuk dan langsung membelai rambutnya dengan lembut. Namun ternyata…
            “Tiffany?” gadis itu mendengar suara memanggilnya. Itu jelas-jelas bukan suara Kai. Tiffany lalu mengangkat kepalanya dari meja makan dan melihat siapa orang itu. Dugaannya tepat. Itu bukan Kai, tapi Kyuhyun!
            “Waa! Kau!” jerit Tiffany kaget melihat Kyuhyun sudah ada di sampingnya. “Kyuhyun? Kenapa kau bisa disini?”
            “Tiffany, ketika kau pergi dari gedung, kau melupakan sesuatu,” kata Kyuhyun dengan ekspresi datar. Kyuhyun lalu merogoh kantung celananya, ia mengeluarkan sebuah kartu. “Ini kartu namamu, kan? Aku menemukannya di depan pintu ruang juri!”
            Tiffany lalu meraih kartu tersebut dan melihatnya. Benar, itu kartu nama miliknya.
            “Terimakasih, Kyuhyun. Aku tidak tahu kalau kartu namaku ketinggalan,” jawab Tiffany. Kyuhyun hanya meliriknya dengan aneh.
            “Terimakasih? Hanya itu?” ucap Kyuhyun dengan lirik aneh. Tiffany sudah tahu maksud namja itu. Dasar pamrih!
            “Kau mau apa?” tanya Tiffany akhirnya.
            “Semangkuk nasi dan makanan. Kau punya?” ternyata Kyuhyun meminta makanan. “Aku dari pagi belum makan apapun!”
            Tiffany geleng-geleng kepala. Kyuhyun memang agak aneh baginya. Dengan malas, Tiffany menjawab,
            “Aku tak punya apa-apa, kecuali sisa kimchi di kulkasku,” jawab Tiffany. Kyuhyun cuma mengangguk kecil.
            “Tidak apa-apa kalaupun dengan lauk kimchi saja!” ujar Kyuhyun. “Tolong siapkan, ya!”
            Apa!?
            “Hei, kau pikir ini restoran? Ambil saja sendiri!” jawab Tiffany malas. Tiba-tiba Kyuhyun langsung mengambil kartu nama itu dari tangan Tiffany. “Hei, kembalikan!” protes gadis berambut cokelat itu.
            “Tidak akan kukembalikan. Aku tidak mau memberi barang yang kutemukan pada gadis yang tidak sopan pada tamunya!” jawab Kyuhyun dengan gaya yang menyebalkan. Tiffany merasa kesal, namun tak bisa apa-apa.
            “Baiklah! Baiklah!” akhirnya Tiffany mengalah. “Aku akan siapkan makanannya. Tapi, berikan kartu namanya dulu!”
               Kyuhyun mendelik, lalu akhirnya ia memberikan kartu itu pada Tiffany. Tiffany sendiri langsung pergi ke dapur menyiapkan nasi dan lauk pada tamunya yang menyebalkan itu. Sambil mendengus, ia mempersiapkan nasi dan kimchi.
            “Awas saja! Dasar tamu tidak sopan!” dengus Tiffany sendirian. Setelah makanannya ia siap, ia membawanya ke meja makan. Kyuhyun sendiri sudah duduk manis di depan meja makan.
            Gomawo, Tiffany!” katanya. Tanpa basa-basi ia langsung memakan semangkuk nasi dan kimchi tersebut. Tiffany sendiri terheran-heran melihat namja itu tampak lapar. Akhirnya, baru beberapa menit, makanan tersebut sudah habis.
            “Ah, kenyang!” ujar Kyuhyun sambil menepuk-nepuk perutnya. Tiffany cuma bisa melihat dengan tatapan kesal. “Hei, kenapa, Tiffany? Apa kau lapar juga?”
            Tiffany menggeleng.
            “Oh, aku tahu. Kau pasti iri denganku karena casting tadi pagi, kan?” ujar Kyuhyun lagi. Kali ini Tiffany benar-benar ingin menggampar namja itu.
            “Diam! Jangan bicara tentang Casting itu lagi di depanku!” marah Tiffany. “Lalu, kenapa kau pakai namaku saat kau berakting di depan juri?”
            “Oh, itu…,” Kyuhyun hening sejenak. “Dulu aku punya teman baik, namanya Tiffany juga. Sekarang dia sudah pergi,”
            Tiffany hanya terbengong-bengong melihat jawaban Kyuhyun.
             “Oh, ya. Aku minta maaf ya, sebenarnya yang memukul bokongmu di stasiun tadi pagi, adalah aku!”
            Tiffany terbelalak. Dengan refleks cepat, ia langsung melayangkan tamparannya ke muka Kyuhyun. PAKK!!! Tamparan itu cukup keras dan membuat pipi Kyuhyun langsung memerah.
            “Dasar! Namja mata keranjang!” Tiffany kalap. Ia lalu mendorong tubuh Kyuhyun, “Pergi sana! PERGI!”
            “Dengarkan aku, Tiffany!” Kyuhyun berusaha membela diri. “Aku tak sengaja! Aku buru-buru, jadi aku tak sengaja memukul bo..,”
            “PERGIIIII!!!” jerit Tiffany marah. Kali ini ia mendorong tubuh Kyuhyun dengan keras. “Aku bilang pergi! PERGI SEKARANG JUGA! DASAR NAMJA TIDAK TAHU DIRI! CUIHH..!!!”
            Teng-Tong!
            “Gawat!” Tiffany mulai panik. “Itu pasti Kai!”
            “Kai? Siapa itu?” tanya Kyuhyun. Tiffany lalu mempelototinya.
            “Cepat! Sembunyi di bawah kolong meja makan!” perintah Tiffany panik. “Cepat!”
            Kyuhyun  langsung sembunyi dibawah kolong meja makan tersebut. Meja makan itu tertutup taplak yang cukup panjang hingga menyentuh lantai. Tiffany sengaja menyembunyikan Kyuhyun agar Kai tidak menuduhnya berbuat macam-macam saat melihat Kyuhyun.
            “Tiffany,” tiba-tiba pintu utama apartemen tersebut langsung terbuka. Tampak seorang namja dengan gayanya yang cool dan tampan. Namja itu mengenakan kemeja hitam dan celana hitam panjang. Rambutnya, ehm, pastinya enak dipandang mata. Namja itu adalah Kai, kekasih Tiffany.
            “Kai, kau sudah datang?” Tiffany langsung memeluk Kai. “Aku menunggumu daritadi!”
            “Maaf. Aku harus beli  bumbu ramen, dulu!” jawabnya sambil tersenyum dan menunjukkan sebuah kantong plastik berisi bumbu ramen. “Oh, ya? Bagaimana casting-mu tadi pagi? Sukses?”
            Tiffany menunduk. “Kai, aku tidak lolos!”
            “Hah? We?” Kai terlihat bingung dan kaget  saat Tiffany menjawab seperti itu. “Tiffany, kau pasti bercanda, kan? Kabuljima!”
            “Tidak, aku serius,” jawab Tiffany sambil tertunduk lesu. “Sesuatu telah mengganjalku. Aku pun bingung kenapa ini semua terjadi!”
            “Tiffany,” Kai lalu mengelus rambut cokelat panjang Tiffany. “Kita tidak pernah menduga apa akan terjadi di waktu yang akan datang, dan semuanya pasti telah diatur oleh Tuhan,”
            Tiffany menatap Kai.
            “Mungkin Tuhan telah menakdirkan sesuatu yang lain untukmu. Mungkin Ia tidak memberimu lolos casting untuk hal yang lebih bagik bagimu,” ucap Kai. Tiffany tersipu. Entah kenapa perasaan kacaunya hilang demi sedkit saat Kai berkata seperti itu. Kai memang lebih muda dari Tiffany, atpi kedewasaannya justru melebihi usia Tiffany sendiri.
            “Kai, terimakasih. Kau memberi sebuah semangat baru untukku,” jawab Tiffany, ia lalu tersenyum kembali. “Nah, sekarang ayo kita masak ramennya!”
            “Tunggu, Tiffany! Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebelumnya,” tiba-tiba Kai berkata lagi. Tiffany bingung.
            “Bicara? Kau mau bicara apa, Kai?” Tanya Tiffany bingung. Ia lalu mengajak Kai duduk di meja makannya. Ternyata Tiffany lupa kalau ia menyembunyikan Kyuhyun dibawah meja makan tersebut.
            “Hmm, ini tentang hubungan kita,” jawab Kai. Ia terlihat memilin jari-jari tangannya karena terlihat gelisah. “Aku…,”
            “Kenapa, Kai? Kau membuatku makin bingung!” sela Tiffany yang melihat wajah kekasihnya tersebut gelisah. Kai tiba-tiba memegang kedua tangan Tiffany dengan erat.
            “Tiffany Hwang, aku ingin… aku ingin kau menjadi istriku,” ucap Kai sambil memegang tangan Tiffany. Gadis itu langsung kaget. Ia tak menyangka kalau Kai…
            “Kai, apa kau bercanda?” tanya Tiffany. “Maksudku, ini tidak serius, kan?”
            “Tidak, aku benar-benar serius,” Kai menatap Tiffany yang terlihat bingung. “Maukah kau menjadi istriku, Tiffany?”
            Tiffany terdiam dengan perasaan gamang. Ia bahagia mendengar Kai berkata seperti itu, tapi… Ia merasa belum tepat waktunya. Tiffany belum mau menikah, walau ia sangat mencintai Kai. Apalagi ia dan Kai belum mendapat pekerjaan tetap. Kai cuma seorang penulis lepas tanpa pendapatan yang pasti.
            “Kai, aku…,” Tiffany menundukkan kepalanya. “Minahae, tapi… Aku belum siap Kai… Maafkan aku, Kai!”
            Kai terlihat kaget dengan jawaban Tiffany. Ia memandang Tiffany, tapi Tiffany sendiri tak mau melihat wajah Kai.
            “Tiffany,” ujar Kai. “Kenapa? Apa, kau merasa belum cocok denganku?”
            “Bukan begitu, Kai…,” Tiffany mencoba menjelaskan. “Aku sangat mencintaimu, tapi… Aku belum bisa. Kau masih sangat muda, usiamu baru 18 tahun dan baru lulus SMA…,”
            “Lalu… Itu halangan untuk kita?” tanya Kai.
            “Bukan itu yang kumaksud. Kau tahu sendiri, kita berdua belum mendapat pekerjaan tetap. Lihatlah aku, aku hanya seorang dancer yang belum menjadi artis berpenghasilan tetap. Dan kau…,” belum selesai Tiffany menjelaskan, Kai langsung menyela dengan nada marah.
            “Aku hanya seorang penulis lepas yang tak punya penghasilan!” sela Kai. Namja berwajah baby face itu langsung berdiri dan pergi dari hadapan Tiffany. Wajahnya menunjukkan kekecewaan. Tiffany panik melihat kekasihnya tersebut marah. Ia langsung memegang tangan Kai agar namja itu tidak lekas pergi.
            “Kai, tolong dengarkan aku dulu!” ucap Tiffany panik. “Aku tidak bermaksud begitu. Kau pasti tahu alasanku. Aku belum siap…,”
            “Sudahlah, Tiffany. Mungkin kau benar,” ujar Kai dan lalu ia melepaskan genggaman tangan Tiffany dari tangannya. “Aku takkan memaksa bila kau belum siap menikah dengan namja yang tak punya penghasilan seperti aku. Aku hanya seorang namja kurang kerjaan yang melamar yeoja yang kucintai tanpa punya penghasilan tetap. Maafkan aku, Tiffany. Aku akui, aku hanya seorang yang miskin,”
            “Kai…,” Tiffany pun menangis. “Kumohon, jangan marah padaku. Aku masih sangat menyayangimu, Kai…,”
            BRRRUUKK…!!!
            Tiba-tiba terdengar suara keras dari bawah meja makan Tiffany. Kedua pasangan itu terkejut, terlebih Tiffany. Pasti Kyuhyun berbuat aneh-aneh. Kai yang curiga langsung menuju meja makan tersebut dan langsung membuka kain penutup meja makan tersebut.
            “Kai! Tunggu…,” Tiffany berusaha mencegah Kai, namun terlambat.
            Kai terkejut melihat ada seorang namja tengah membungkuk dibawah meja makan tersebut. Namja tinggi kurus yang tak Kai kenal itu tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala.
            “Hai, aku Kyuhyun,” ucap namja itu. “Aku teman Tiffany. Kau pasti pacarnya, kan?”
            Kai terlihat muak. Tanpa pikir panjang, ia langsung pergi dari Tiffany dan Kyuhyun tanpa sepatah kata pun. Dari wajah Kai tersirat perasaan sakit hati. Ketika namja itu membanting pintu apartemen Tiffany tanpa ampun, yeoja berwajah cantik itu menangis sejadi-jadinya. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya.
            Kyuhyun lalu keluar dari meja makan dan langsung menghampiri Tiffany yang terisak-isak.
            “Tiffany, kau menangis?” tanya Kyuhyun. Tiffany tak menjawab dan langsung mengambil sapu yang terletak di sebelah meja makan. Ia langsung memukul Kyuhyun tanpa ampun.
            “PERGI!” jerit Tiffany marah. “Pergi atau kau babak belur disini!”
            “Ah, ampun! Aw!” Kyuhyun kesakitan karena dipukuli dengan sapu oleh Tiffany. Ia langsung pergi dari kamar apartemen Tiffany. Tinggalah Tiffany sendiri yang tengah menangis. Ah…
            “Tuhan, kukira hari ini akan berakhir bahagia, tapi nyatanya…,” desis Tiffany. Ia langsung membenturkan kepalanya di dinding hingga kepalanya benar-benar serasa mau pecah.

~To Be Continue~