Kak
3 Menit
Karya:
Dyla Annisa Putri
Pagi
terasa melelahkan untukku. Aku, lagi-lagi terlambat bangun pagi dan membuatku
terlambat pergi ke sekolah juga. Jarak ke sekolahku cukup dekat, namun kalau
terlambat tetap saja terlambat!
Aku berlari sambil menggendong tas
ranselku. Keringat sudah bercucuran sedemikian rupa di wajahku. Perut terasa
keroncongan karena aku belum sarapan. Ah, nggak
peduli! Yang penting aku harus sampai sekolah sekarang. Karena terburu-buru,
aku tidak memperhatikan kalau ada polisi tidur di depan mataku, dan…
BUUAAKK…
“Aduh! Sialan!” makiku sebal saat
terjatuh gara-gara menyandung polisi tidur tersebut. Kulihat lututku
mengeluarkan darah segar yang cukup banyak, dan rasanya perih sekali. Aku
meringis kesakitan.
Aku mencoba bangun, tapi lututku
tidak mau berkompromi. Tampaknya lukaku ini cukup parah. Lalu kulihat arloji
warna biru muda yang melingkar di tangan kananku. Ya ampun, sudah jam 7 lewat!
“Aish!” jeritku kesal. Pagi ini
adalah pagi tersial dalam hidupku. Aku jadi menggerutu sendirian, seperti orang
gila. Namun, tak lama kemudian…
“Assalamualaikum…,” tiba-tiba
terdengar suara lembut di telingaku. Aku terkejut. Aku lalu menoleh ke samping,
ternyata ada seorang cowok dengan sepeda motor tuanya. Cowok itu berseragam SMA
sama sepertiku. Dia tersenyum manis. Siapa dia?
“Waalaikumsalam…,” jawabku, walau
dalam hati aku masih bingung dengan cowok ini. Wajah cowok itu manis dan putih
bersih. Hidungnya mancung dan matanya lebar, tidak seperti wajahku yang berkebalikan
180 derajat darinya. Ia terus tersenyum.
“Kamu ngapain marah-marah disini? Sekarang sudah jam masuk sekolah!”
tegurnya. Tampaknya cowok itu kakak kelasku.
“Hmm, iya kak…,” jawabku. Lalu aku
mencoba berdiri dan berjalan, padahal lututku masih sakit setengah mati.
Jalanku jadi terpincang-pincang. “Aduh!”
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya cowok manis
itu. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sibuk dengan luka di lutuku.
“Oh, lututmu berdarah?” ujar cowok
itu lagi. Lalu dia membuka tas-nya dan mengeluarkan sesuatu. “Ini, aku punya
plester. Cepat tutup lukamu itu dengan ini!”
Ternyata dia mengeluarkan plester,
dan ia memberikan itu padaku. Aku tertegun. Kulihat tangannya menyodorkan
plester dengan motif bintang. Entah kenapa aku tak bisa berkata apa-apa.
“Haha, kok malah bengong?” tanyanya
lagi sambil tertawa. Lalu, diluar dugaanku, dia memasang plester tersebut di
lututku. Dengan sabar, ia memasangnya dengan hati-hati. Aku merasa malu dengan
yang dilakukan cowok itu.
“Nah, sudah selesai,” katanya. Lalu dia
memegang pundakku dan membantuku berdiri. “Kamu tidak bisa berjalan ke sekolah
dengan keadaan seperti ini. Ayo, kakak antar dengan sepeda motor,”
Aku makin kaget. “Apa? Eh, naik
motor itu dengan kakak? Hmm… Aku bisa jalan sendiri kak. Benar aku bisa kok!”
“Beneran
kamu bisa jalan sendirian?” Tanya cowok itu lagi. Aku lalu mencoba berjalan,
namun kakiku jadi sakit. Aku meringis lagi. “Ahh..,”
“Tuh kan. Kakimu masih sakit,”
ujarnya. Dia lalu memapahku dan menyuruhku naik motornya lagi. Akhirnya, dengan
terpaksa aku ikut membonceng.
Setelah aku dan cowok itu naik
keatas motor tua warna hitam tersebut, cowok berwajah lembut lagi manis itu
menyalakan mesin motor tersebut. Tekkk… Tekkk… Tekkk… Terdengar bunyi mesin tua
dari motor tersebut. Aku agak tengsin
naik motor ini, soalnya jadi lebih mirip kakek dan nenek lagi boncengan.
“Pegangan, ya!” katanya. Lalu motor
itu berjalan pelan menuju sekolah kami. Aku agak malu, namun entah kenapa ada
perasaan bahagia yang terselip di hatiku. Aku tersenyum manis saat motor itu
terus melaju. Mungkinkah…
“Hei, kamu bengong ya? Kita sudah
sampai di sekolah!” tiba-tiba cowok itru mengagetkanku. Aku terhenyak. Ya
ampun, ternyata aku benar-benar bengong daritadi. Aku langsung turun dari motor
tua tersebut.
“Thanks,
ya.” Ucapku. Cowok itu tersenyum lagi. Ya ampun, beneran manis ni cowok!
“Sama-sama,” jawabnya. Lalu cowok
yang sepertinya kakak kelasku itu pergi meninggalkanku. Sementara aku, masih
berdiri di sebelah motor tuanya. Aku masih memikirkan cowok manis itu. Lalu, saat
cowok itu benar-benar pergi, aku jadi teringat sesuatu.
“Ya ampun! Kenapa gua nggak
nanya namanya?! Bego! Putri bego!” gerutuku sebal.
********
Seminggu berlalu, tapi bayangan
cowok manis itu tidak mau pergi. Plester bintang yang ia kasih pun masih aku
pakai, padahal aku yakin lututku sudah sembuh. Lalu, kalau lihat motor tua
warna hitam yang lewat dijalan, pasti aku langsung ingat dengan cowok manis
itu. Kadang-kadang geli juga sih, ganteng-ganteng kok motornya jadul banget!
Namun, dibalik semua itu, aku kagum dengan sosok cowok itu. Dia berbeda dari
cowok kebanyakan. Bahasanya sopan dan ramah. Tampaknya dia cowok alim deh!
“Oh, liat ya! Tiga menit lagi, dia bakalan jadi pacar gue! Liat
aja!” tiba-tiba temanku, Ijup, mengagetkanku dengan suaranya.
“Apaan sih lo, jup! Dateng-dateng
udah teriak-teriakan!” omelku. Ijup cuma menjulurkan lidahnya kepadaku.
“Wee… Biarin!” jawabnya. “Put, Put, tahu
nggak sama kakak kelas yang namanya Rahman? Gila bree.. Ganteng BANGET!”
“Rahman? Siapa tuh?” tanyaku. Aku
memang kurang kenal dengan kakak-kakak kelasku.
“Ya ampun, Putri! Makanya gaul dikit dong! Jangan temenan mulu ama buku fisika!” gerutunya. “Rahman
tu ketua ROHIS di sekolah kita! Masa
nggak tahu?”
“Ya ampun, sumpah deh jup! Yang mana
sih orangnya?” tanyaku masih bingung. Tak berapa lama, tiba-tiba…
“Assalamualaikum…,” tiba-tiba
terdengar suara lembut dari arah belakang kami. Saat aku dan Ijup menoleh ke
belakang, ternyata itu cowok manis yang menolongku seminggu yang lalu! Aku
langsung tergagap-gagap.
“Waalaikumsalam, kak Rahman…,” jawab
Ijup sok manis. Aku baru sadar, tenyata cowok itu yang bernama Rahman, si ketua
ROHIS.
Setelah cowok itu pergi dari hadapan
kami, aku dan Ijup masih terbengong-bengong. Gila, kalau Ijup tahu aku pernah
ditolong bahkan dibonceng sama kak Rahman tadi, bisa-bisa digantung gue sama Ijup!
“Nah, itu yang namanya Kak Rahman!
Ganteng kan? Hahaha…!” terdengar celotehan Ijup lagi. “Liat aja, tiga menit lagi Kak Rahman bakalan jadi pacar gue!”
“Yee.. Udah lewat tiga menit tuh!”
sahutku.
*********
Gara-gara Ijup sering bilang kalau
Kak Rahman akan jadi pacarnya dalam tiga menit lagi, aku jadi menjuluki cowok
itu Kak tiga menit. Aneh sih kedengarannya, tapi hitung-hitung buat nama
samaran deh! Jadi nggak ada yang tahu
kalau aku sedang mengagumi si ketua ROHIS itu.
Saat sedang berjalan menuju
perpustakaan, tiba-tiba dari arah belakangku lagi, terdengar suara lembut
seorang cowok.
“Assalamualaikum…,” terdengar suara
lembut itu. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Kak tiga menit! Aku jadi agak
malu bercampur senang karena disapa olehnya.
“Waalaikumsalam…,” jawabku. Kak tiga
menit lalu tersenyum padaku.
“Kakimu sudah sembuh?” tiba-tiba dia
bertanya seperti itu. Tampaknya dia masih ingat dengan kejadian minggu lalu. “Kok
plesternya masih dipakai?”
“Eh, ini kak, belum berani dibuka.
Takut perih. Hehehe…,” jawabku malu-malu, jadinya kelihatan bego banget. Kak
tiga menit tersenyum.
“Oh, begitu. Hmm… Mau ke
perpustakaan ya?” tanyanya lagi.
“Iya, kak.” Jawabku.
“Oh, aku juga mau ke perpustakaan.
Kebetulan bisa bareng nih!” katanya senang. “Boleh ya, kakak bareng sama kamu?”
Boleh, kak! BOOLLEEHH banget! Batinku.
Aku mengangguk tanda setuju. Kami berdua pun berjalan bersama ke perpustakaan.
Aku merasa jadi cewek paling beruntung se-SMA ini. Jarang lho yang bisa jalan
sama Kak tiga menit sampai sedekat ini!
“Haha,
kamu bengong lagi. Kebiasaan deh,” tegurna sambil tertawa kecil. Aku hanya
tersenyum. Iya, kak… Aku emang lagi
ngelamunin kakak…
********
Semenjak itulah, perasaanku kepada Kak tiga menit alias
Kak Rahman menjadi perasaan tak biasa. Hampir tiap hari pikiranku melayang
kepada Kak tiga menit. Motor tuanya, plester bintang yang ia beri, sampai
memori di perpustakaan selalu menjadi playlist
wajib dalam setiap pikiranku. Aduh, inikah yang namanya falling in love on first sight?
Kali
ini adalah waktunya pulang sekolah. Semua siswa keluar berduyun-duyun dari
kelasnya masing-masing, termasuk aku. Di tanganku terdapat sebuah kotak kue
cokelat. Kalian tahu apa rencanaku?
Aku
mengahampiri tempat parkir, dimana Kak 3 menit memakirkan motor tua warna
hitamnya. Inilah rencanaku, aku akan menaruh kue ini tepat diatas motornya, dan
didalam kue cokelat spesial itu ada sebuah pesan terimakasih. Ketika Kak 3
menit selesai memakan kue itu, dia akan menemukan pesan manis itu. Ah,
senangnya bila itu benar-benar terjadi!
Kebetulan
belum ada siapa-siapa di tempat parkir, jadi aku bisa leluasa menaruh kue
tersebut diatas motor Kak 3 menit. Aku lalu bersembunyi dibalik tembok tempat parkir.
Aku penasaran apa yang akan dilakukan kak 3 menit dengan kue cokelat dariku
tersebut.
Tak
berapa lama, yang ditunggu pun datang juga. Aku melihat Kak 3 menit berjalan
menuju motor tuanya. Aku menggigit bibirku dalam-dalam, inilah saatnya. Aku
melihat dia memperhatikan kotak kue cokelat itu yang kuletakkan diatas
motornya.
“Apa
ini?” aku mendengar Kak 3 menit berbicara sendiri, dia memegang kotak kueku
dengan raut wajah bingung. Tak lama, tiba-tiba seorang gadis datang
menghampirinya. Aku terkejut. Ya ampun, itu kan Ijup!
“Kak,
itu kotak apa?” kulihat Ijup mengobrol dengan Kak 3 menit. Kak 3 menit langsung
menjawab,
“Nggak tahu, sayang…,” Apa!? Sayang?!
Mendengar itu hatiku jadi remuk redam. Ternyata, Kak 3 menit sudah punya pacar,
dan pacarnya adalaah teman baikku, Ijup! Kenapa Ijup tidak pernah cerita sama
aku?!
“Oh,
coba aku lihat,” Ijup lalu memegang kotak kueku. Dia lalu membukanya dan ia
mendapati ada kue cokelat didalamnya. “Kak, ini kue cokelat. Kayaknya enak
nih!”
“Oh,
ya? Kalau begitu kita bisa makan kue bareng-bareng
nih!” ujar Kak 3 menit. “Eh, ayo kita pulang!”
Kulihat
Ijup lalu naik keatas motor tua Kak 3 menit. Lalu Kak 3 menit menyalakan mesin
motornya. Kulihat motor itu melaju pelan, persis seperti saat aku membonceng
waktu itu. Motor yang mereka tumpangi pun pergi meninggalkan tempat parkir
sekolah. Kak 3 menit dan Ijup terlihat sangat mesra.
Sementara
aku, dibalik tembok tempat parkir ini aku menangis. Aku cuma bisa memperhatikan
kedua orang itu begitu mesra. Ternyata Kak 3 menit memilih Ijup, teman baikku.
Aku merasa ada sebesit luka di hatiku. Kulihat plester motif bintang yang masih
melekat di lututku. Dengan kesal, aku mencabutnya keras-keras. Aku tak mau
melihat plester itu lagi. Aku pun merasa tak mau melihat wajah Kak 3 menit
lagi, dan seketika memori yang kuingat bersamanya menjadi bumerang bagiku. Kini
air mataku mengalir begitu saja. Ah, Kak tiga menit… Kenapa kamu harus muncul
dalam kehidupanku!?
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar