Kamis, 01 November 2012

Cerpen-Kak 3 menit


Kak 3 Menit
Karya: Dyla Annisa Putri



          Pagi terasa melelahkan untukku. Aku, lagi-lagi terlambat bangun pagi dan membuatku terlambat pergi ke sekolah juga. Jarak ke sekolahku cukup dekat, namun kalau terlambat tetap saja terlambat!
            Aku berlari sambil menggendong tas ranselku. Keringat sudah bercucuran sedemikian rupa di wajahku. Perut terasa keroncongan karena aku belum sarapan. Ah, nggak peduli! Yang penting aku harus sampai sekolah sekarang. Karena terburu-buru, aku tidak memperhatikan kalau ada polisi tidur di depan mataku, dan…
            BUUAAKK…
            “Aduh! Sialan!” makiku sebal saat terjatuh gara-gara menyandung polisi tidur tersebut. Kulihat lututku mengeluarkan darah segar yang cukup banyak, dan rasanya perih sekali. Aku meringis kesakitan.
            Aku mencoba bangun, tapi lututku tidak mau berkompromi. Tampaknya lukaku ini cukup parah. Lalu kulihat arloji warna biru muda yang melingkar di tangan kananku. Ya ampun, sudah jam 7 lewat!
            “Aish!” jeritku kesal. Pagi ini adalah pagi tersial dalam hidupku. Aku jadi menggerutu sendirian, seperti orang gila. Namun, tak lama kemudian…
            “Assalamualaikum…,” tiba-tiba terdengar suara lembut di telingaku. Aku terkejut. Aku lalu menoleh ke samping, ternyata ada seorang cowok dengan sepeda motor tuanya. Cowok itu berseragam SMA sama sepertiku. Dia tersenyum manis. Siapa dia?
            “Waalaikumsalam…,” jawabku, walau dalam hati aku masih bingung dengan cowok ini. Wajah cowok itu manis dan putih bersih. Hidungnya mancung dan matanya lebar, tidak seperti wajahku yang berkebalikan 180 derajat darinya. Ia terus tersenyum.
            “Kamu ngapain marah-marah disini? Sekarang sudah jam masuk sekolah!” tegurnya. Tampaknya cowok itu kakak kelasku.
            “Hmm, iya kak…,” jawabku. Lalu aku mencoba berdiri dan berjalan, padahal lututku masih sakit setengah mati. Jalanku jadi terpincang-pincang. “Aduh!”
            “Kamu tidak apa-apa?” Tanya cowok manis itu. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sibuk dengan luka di lutuku.
            “Oh, lututmu berdarah?” ujar cowok itu lagi. Lalu dia membuka tas-nya dan mengeluarkan sesuatu. “Ini, aku punya plester. Cepat tutup lukamu itu dengan ini!”
            Ternyata dia mengeluarkan plester, dan ia memberikan itu padaku. Aku tertegun. Kulihat tangannya menyodorkan plester dengan motif bintang. Entah kenapa aku tak bisa berkata apa-apa.
            “Haha, kok malah bengong?” tanyanya lagi sambil tertawa. Lalu, diluar dugaanku, dia memasang plester tersebut di lututku. Dengan sabar, ia memasangnya dengan hati-hati. Aku merasa malu dengan yang dilakukan cowok itu.
            “Nah, sudah selesai,” katanya. Lalu dia memegang pundakku dan membantuku berdiri. “Kamu tidak bisa berjalan ke sekolah dengan keadaan seperti ini. Ayo, kakak antar dengan sepeda motor,”
            Aku makin kaget. “Apa? Eh, naik motor itu dengan kakak? Hmm… Aku bisa jalan sendiri kak. Benar aku bisa kok!”
            Beneran kamu bisa jalan sendirian?” Tanya cowok itu lagi. Aku lalu mencoba berjalan, namun kakiku jadi sakit. Aku meringis lagi. “Ahh..,”
            “Tuh kan. Kakimu masih sakit,” ujarnya. Dia lalu memapahku dan menyuruhku naik motornya lagi. Akhirnya, dengan terpaksa aku ikut membonceng.
            Setelah aku dan cowok itu naik keatas motor tua warna hitam tersebut, cowok berwajah lembut lagi manis itu menyalakan mesin motor tersebut. Tekkk… Tekkk… Tekkk… Terdengar bunyi mesin tua dari motor tersebut. Aku agak tengsin naik motor ini, soalnya jadi lebih mirip kakek dan nenek lagi boncengan.
            “Pegangan, ya!” katanya. Lalu motor itu berjalan pelan menuju sekolah kami. Aku agak malu, namun entah kenapa ada perasaan bahagia yang terselip di hatiku. Aku tersenyum manis saat motor itu terus melaju. Mungkinkah…
            “Hei, kamu bengong ya? Kita sudah sampai di sekolah!” tiba-tiba cowok itru mengagetkanku. Aku terhenyak. Ya ampun, ternyata aku benar-benar bengong daritadi. Aku langsung turun dari motor tua tersebut.
            Thanks, ya.” Ucapku. Cowok itu tersenyum lagi. Ya ampun, beneran manis ni cowok!
            “Sama-sama,” jawabnya. Lalu cowok yang sepertinya kakak kelasku itu pergi meninggalkanku. Sementara aku, masih berdiri di sebelah motor tuanya. Aku masih memikirkan cowok manis itu. Lalu, saat cowok itu benar-benar pergi, aku jadi teringat sesuatu.
            “Ya ampun! Kenapa gua nggak nanya namanya?! Bego! Putri bego!” gerutuku sebal.
********
            Seminggu berlalu, tapi bayangan cowok manis itu tidak mau pergi. Plester bintang yang ia kasih pun masih aku pakai, padahal aku yakin lututku sudah sembuh. Lalu, kalau lihat motor tua warna hitam yang lewat dijalan, pasti aku langsung ingat dengan cowok manis itu. Kadang-kadang geli juga sih, ganteng-ganteng kok motornya jadul banget! Namun, dibalik semua itu, aku kagum dengan sosok cowok itu. Dia berbeda dari cowok kebanyakan. Bahasanya sopan dan ramah. Tampaknya dia cowok alim deh!
            “Oh, liat ya! Tiga menit lagi, dia bakalan jadi pacar gue! Liat aja!” tiba-tiba temanku, Ijup, mengagetkanku dengan suaranya.
            “Apaan sih lo, jup! Dateng-dateng udah teriak-teriakan!” omelku. Ijup cuma menjulurkan lidahnya kepadaku.
            “Wee… Biarin!” jawabnya. “Put, Put, tahu nggak sama kakak kelas yang namanya Rahman? Gila bree.. Ganteng BANGET!”
            “Rahman? Siapa tuh?” tanyaku. Aku memang kurang kenal dengan kakak-kakak kelasku.
            “Ya ampun, Putri! Makanya gaul dikit dong! Jangan temenan mulu ama buku fisika!” gerutunya. “Rahman tu ketua ROHIS di sekolah kita! Masa nggak tahu?”
            “Ya ampun, sumpah deh jup! Yang mana sih orangnya?” tanyaku masih bingung. Tak berapa lama, tiba-tiba…
            “Assalamualaikum…,” tiba-tiba terdengar suara lembut dari arah belakang kami. Saat aku dan Ijup menoleh ke belakang, ternyata itu cowok manis yang menolongku seminggu yang lalu! Aku langsung tergagap-gagap.
            “Waalaikumsalam, kak Rahman…,” jawab Ijup sok manis. Aku baru sadar, tenyata cowok itu yang bernama Rahman, si ketua ROHIS.
            Setelah cowok itu pergi dari hadapan kami, aku dan Ijup masih terbengong-bengong. Gila, kalau Ijup tahu aku pernah ditolong bahkan dibonceng sama kak Rahman tadi, bisa-bisa digantung gue sama Ijup!
            “Nah, itu yang namanya Kak Rahman! Ganteng kan? Hahaha…!” terdengar celotehan Ijup lagi. “Liat aja, tiga menit lagi Kak Rahman bakalan jadi pacar gue!”
            “Yee.. Udah lewat tiga menit tuh!” sahutku.
*********
            Gara-gara Ijup sering bilang kalau Kak Rahman akan jadi pacarnya dalam tiga menit lagi, aku jadi menjuluki cowok itu Kak tiga menit. Aneh sih kedengarannya, tapi hitung-hitung buat nama samaran deh! Jadi nggak ada yang tahu kalau aku sedang mengagumi si ketua ROHIS itu.
            Saat sedang berjalan menuju perpustakaan, tiba-tiba dari arah belakangku lagi, terdengar suara lembut seorang cowok.
            “Assalamualaikum…,” terdengar suara lembut itu. Aku menoleh ke belakang. Ternyata Kak tiga menit! Aku jadi agak malu bercampur senang karena disapa olehnya.
            “Waalaikumsalam…,” jawabku. Kak tiga menit lalu tersenyum padaku.
            “Kakimu sudah sembuh?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Tampaknya dia masih ingat dengan kejadian minggu lalu. “Kok plesternya masih dipakai?”
            “Eh, ini kak, belum berani dibuka. Takut perih. Hehehe…,” jawabku malu-malu, jadinya kelihatan bego banget. Kak tiga menit tersenyum.
            “Oh, begitu. Hmm… Mau ke perpustakaan ya?” tanyanya lagi.
            “Iya, kak.” Jawabku.
            “Oh, aku juga mau ke perpustakaan. Kebetulan bisa bareng nih!” katanya senang. “Boleh ya, kakak bareng sama kamu?”
            Boleh, kak! BOOLLEEHH banget! Batinku. Aku mengangguk tanda setuju. Kami berdua pun berjalan bersama ke perpustakaan. Aku merasa jadi cewek paling beruntung se-SMA ini. Jarang lho yang bisa jalan sama Kak tiga menit sampai sedekat ini!
            “Haha, kamu bengong lagi. Kebiasaan deh,” tegurna sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum. Iya, kak… Aku emang lagi ngelamunin kakak…
********
            Semenjak itulah, perasaanku kepada Kak tiga menit alias Kak Rahman menjadi perasaan tak biasa. Hampir tiap hari pikiranku melayang kepada Kak tiga menit. Motor tuanya, plester bintang yang ia beri, sampai memori di perpustakaan selalu menjadi playlist wajib dalam setiap pikiranku. Aduh, inikah yang namanya falling in love on first sight?
            Kali ini adalah waktunya pulang sekolah. Semua siswa keluar berduyun-duyun dari kelasnya masing-masing, termasuk aku. Di tanganku terdapat sebuah kotak kue cokelat. Kalian tahu apa rencanaku?
            Aku mengahampiri tempat parkir, dimana Kak 3 menit memakirkan motor tua warna hitamnya. Inilah rencanaku, aku akan menaruh kue ini tepat diatas motornya, dan didalam kue cokelat spesial itu ada sebuah pesan terimakasih. Ketika Kak 3 menit selesai memakan kue itu, dia akan menemukan pesan manis itu. Ah, senangnya bila itu benar-benar terjadi!
            Kebetulan belum ada siapa-siapa di tempat parkir, jadi aku bisa leluasa menaruh kue tersebut diatas motor Kak 3 menit. Aku lalu bersembunyi dibalik tembok tempat parkir. Aku penasaran apa yang akan dilakukan kak 3 menit dengan kue cokelat dariku tersebut.
            Tak berapa lama, yang ditunggu pun datang juga. Aku melihat Kak 3 menit berjalan menuju motor tuanya. Aku menggigit bibirku dalam-dalam, inilah saatnya. Aku melihat dia memperhatikan kotak kue cokelat itu yang kuletakkan diatas motornya.
            “Apa ini?” aku mendengar Kak 3 menit berbicara sendiri, dia memegang kotak kueku dengan raut wajah bingung. Tak lama, tiba-tiba seorang gadis datang menghampirinya. Aku terkejut. Ya ampun, itu kan Ijup!
            “Kak, itu kotak apa?” kulihat Ijup mengobrol dengan Kak 3 menit. Kak 3 menit langsung menjawab,
            Nggak tahu, sayang…,” Apa!? Sayang?! Mendengar itu hatiku jadi remuk redam. Ternyata, Kak 3 menit sudah punya pacar, dan pacarnya adalaah teman baikku, Ijup! Kenapa Ijup tidak pernah cerita sama aku?!
            “Oh, coba aku lihat,” Ijup lalu memegang kotak kueku. Dia lalu membukanya dan ia mendapati ada kue cokelat didalamnya. “Kak, ini kue cokelat. Kayaknya enak nih!”
            “Oh, ya? Kalau begitu kita bisa makan kue bareng-bareng nih!” ujar Kak 3 menit. “Eh, ayo kita pulang!”
            Kulihat Ijup lalu naik keatas motor tua Kak 3 menit. Lalu Kak 3 menit menyalakan mesin motornya. Kulihat motor itu melaju pelan, persis seperti saat aku membonceng waktu itu. Motor yang mereka tumpangi pun pergi meninggalkan tempat parkir sekolah. Kak 3 menit dan Ijup terlihat sangat mesra.
            Sementara aku, dibalik tembok tempat parkir ini aku menangis. Aku cuma bisa memperhatikan kedua orang itu begitu mesra. Ternyata Kak 3 menit memilih Ijup, teman baikku. Aku merasa ada sebesit luka di hatiku. Kulihat plester motif bintang yang masih melekat di lututku. Dengan kesal, aku mencabutnya keras-keras. Aku tak mau melihat plester itu lagi. Aku pun merasa tak mau melihat wajah Kak 3 menit lagi, dan seketika memori yang kuingat bersamanya menjadi bumerang bagiku. Kini air mataku mengalir begitu saja. Ah, Kak tiga menit… Kenapa kamu harus muncul dalam kehidupanku!?
~SELESAI~
           
           

Tidak ada komentar: