Jumat, 10 Agustus 2012

One Love in Memories (karya Dyla A.P)


(wahaha, akhirnya muncul deh FF pertama. Judulnya ‘One Love in Memories’. Maaf banget kalau rada nggak jelas kayak yang buat. Dan, selamat membaca!)

One Love in Memories
Karya: Dyla A.P
Part 1
Sore hari, di Bandara Internasional Gimpo, Seoul, Korea Selatan…
          Aku terpesona melihat tempat yang baru kujajaki ini. Aku menghirup udara kuat-kuat lewat hidungku yang kecil. Hmmff.. Udara di Korea seperti ini… dingin dan menyejukkan…
          Kulihat Bandara ini cukup ramai. Banyak orang asing yang lalu lalang di hadapanku. Semuanya terlihat asing untuk pendatang sepertiku. Aku seperti setitik susu cokelat diantara sekumpulan salju-salju putih, begitu asing.
          Aku mencari-cari Paman Donghae. Ya, dialah Pamanku yang satu-satunya asli dari Korea dan akan kujadikan tumpuan hidup selama aku bersekolah di Korea. Tapi, aku tak melihat dia. Aku kebingungan sendiri.
          Dimana Paman Donghae? Gumamku panik. Aku merasa sendirian ditengah-tengah kerumunan orang yang tak kukenal. Aku mencoba tenang.
          Tenang… tenang… Pasti Paman Donghae datang sebentar lagi! Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Kulihat arloji-ku, ternyata sudah jam 5 sore waktu Korea.
          Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Uh!
          Ah, lebih baik aku ke kamar mandi saja dulu, putusku. Lalu aku mencari WC umum. Baru saja melangkah sebentar, tiba-tiba ada yang menarik Tas-ku. Sialan! Copet! Ya ampun, ternyata di Korea ada copet juga!
          “Tolong..! Tolong…!” jeritku panik. Aku berusaha mempertahankan tas-ku, tapi ternyata copet itu lebih kuat dariku. Tasku, yang isinya semua barang berharga seperti Handpone, Dompet, dan lain-lain hilang dibawa pergi sang copet. Aku terus menjerit-jerit.
          “Tolong…! Tas-ku dicuri!” teriakku dalam bahasa Korea yang acak-acakan karena panik. Tiba-tiba dari arah belakangku, Syuuutt…!! Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut cokelat secepat kilat mengejar pencopet sialan itu.
          Aku terdiam. Aku berdoa semoga laki-laki tadi berhasil mengambil tas-ku. Tak berapa lama kemudian, ketika aku hampir putus asa, laki-laki itu datang! Ia pun tersenyum sambil membawa tasku.
          Aku melihatnya seksama, melihat cowok baik hati yang menolongku. Ternyata seorang laki-laki muda seumuranku. Dia tinggi, berkulit putih pucat, dan bermata bulat. Tidak seperti orang Korea kebanyakan yang matanya sipit. Rambutnya cokelat dan berponi hingga menutupi mata sebelah kirinya. Badannya kekar dan tegap. Tapi, tetap saja wajahnya seperti cewek.
          “Terimakasih,” ucapku padanya. Ia hanya tersenyum kecil.
          “Sebaiknya kamu tidak banyak bengong,” katanya kalem. “Nanti kamu bisa celaka,”
          “Iya, baiklah. Terimakasih banyak ya…,” jawabku dengan bahasa Korea yang masih acak-acakan. Ia tertawa kecil, lalu pergi dari hadapanku.
          Siapa nama cowok itu? aku bertanya-tanya dalam hati. Ih, bodohnya aku! Kenapa tidak sekalian saja menanyakan namanya! Tapi, ah! Cowok cantik itu sudah pergi. Biarkan sajalah!
          “eh, rupanya kamu disini, Rinrin!” tiba-tiba aku mendengar suara berat tapi enak didengar. Itu suara Pamanku, Paman Donghae.
          “Paman!” aku lalu menghampirinya dengan setengah kesal. “Paman lama sekali! Aku tadi hampir kehilangan tas saat menunggu Paman tahu!”
          “Waduh, benarkah? Maafkan, Paman ya! Tadi Paman mengantarkan Arif dulu ke tempat kursus, jadi Paman terlambat sedikit.” Paman Donghae terlihat menyesal. “Tapi kau tidak apa-apa kan? Paman jadi khawatir.”
          “Aku tidak apa-apa, Paman!” jawabku.
          “Oh, baiklah. Kalau begitu, ayo sekarang kita cari Taksi. Bibi-mu sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.” Kata Paman Donghae.
          Aku mengangguk senang. Lalu kami mencari taksi untuk pulang. Sepanjang berada di Taksi menuju rumah Paman, aku terus memikirkan cowok cantik yang baik hati tadi, cowok yang menolongku tadi.
*********
          Di taksi, Paman bertanya padaku.
          “Rin, kamu mendapat beasiswa di Sekolah apa?” Tanya Paman Donghae.
          “Di Hanyoung High School, Paman…,” jawabku.
          “Wah? Benarkah?” Paman Donghae terlihat terkejut. “Itu kan sekolah orang-orang elite yang kaya dan pintar! Kamu hebat sekali, Rin! Bisa masuk ke Hanyoung High School bagi orang biasa itu hebat sekali bagi Paman!”
          “Hahaha…, Terimakasih Paman.” Jawabku.
 Tak berapa lama kemdian, Taksi yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah mungil. Itu rumah Paman Donghae.
          “Ya Ampun, Keponakan Bibi dari Indonesia sudah datang!” tiba-tiba aku melihat sesosok wanita seusia Ibuku, ya kira-kira sekitar 46 tahun. Ia terlihat sibuk menyambut kedatanganku. Ya, ia adalah Bibiku, Bibi Lis. Dia wanita asli Indonesia sepertiku dan menikah dengan Paman Donghae. Namun dia sudah menjadi warga Negara Korea, bukan Warga Negara Indonesia lagi.
          “Bibi, lama sekali kita tidak bertemu.” Kataku pada Bibi. Beliau tersenyum riang.
          “Benar, kita sudah lama tidak bertemu,” jawabnya sambil memperhatikan seluruh tubuhku. “kau sudah besar sekali, ya…,”
          Aku hanya tersenyum.
          “Ah, istriku! Jangan berbicara di luar seperti ini! Kau tidak kasihan pada Rinrin yang sudah kedinginan begitu!?” ujar Paman Donghae pada Bibi Lis sambil membawa barang-barangku masuk kedalam rumahnya.
          “Iya, iya! Kau bawel sekali!” Bibi Lis mengomel kecil. Lalu ia mempersilahkan aku masuk. “Ayo, Rin. Ayo masuk kedalam!”
          Aku tersenyum, lalu masuk kedalam rumah Paman dan Bibi.
*******
          Malam yang dingin di Korea.
          Bibi Lis menyiapkan makan malam. Ia meletakan wadah dari bambu yang berisi nasi, lalu menyiapkan mangkok-mangkok untuk kami. Malam ini, bibi memasak Sup, dengan banchan (lauk) berupa kimchi dan daging rebus. Begitu sederhana, karena aku tahu Paman Donghae dan Bibi Lis itu sangat sederhana dan berekonomi pas-pasan seperti keluargaku di Indonesia. Ah, melihat pemandangan ini aku jadi rindu keluaga di Bandung…
          “ayo makan, Rin!” tawar Paman Donghae padaku. Aku tersenyum.
          “Paman dan Bibi makan saja dulu, aku nanti saja,” jawabku.
          Tak lama kemudian, dua orang laki-laki remaja seusiaku masuk kedalam rumah. Tanpa permisi, tanpa mengucapkan apapun. Kulihat salah seorang diantara mereka, ada satu sosok yang kukenal. Laki-laki berambut cokelat dan berwajah cantik. Ya, cowok itu mirip dengan yang menolongku di Bandara tadi sore, dan mungkin memang dia. Aku kaget, begitu pun mereka.
          “Ibu, maaf aku baru pulang. Tadi aku meminjam buku Sejarah dulu di perpustakaan Nasional dengan Chansung!” kata cowok yang satunya lagi, dan bukan si cowok cantik. Lalu dia menoleh kearahku. 
          “Hei, pasti kamu Rinrin kan?” cowok itu menyapaku. Aku terdiam sejenak, sepertinya aku kenal orang ini. Ya ampun! Dia kan Arif! Sepupuku!
          “Arif,” kataku terkejut. “iya, aku Rinrin! Kamu tampak beda sekali sekarang!”
          “Hoho… kan kita sudah 10 tahun tidak bertemu!” katanya. “Aku kangen sama kamu dan keluarga di Indonesia, Rin!” ujarnya lagi riang. Lalu ia dan teman asingnya duduk di depanku.
           “Mamah dan Papahku juga kangen kok, Rif.” Jawabku. “ngomong-ngomong, ini temanmu ya?” aku menunjuk kearah cowok cantik itu. Cowok itu tampak tidak senang aku tunjuk.
          “oh, ini namanya Hwang Chansung. Panggil saja dia Chansung!” Arif memperkenalkanku pada cowok cantik itu. “Hei, Chansung! Kenalkan, ini namanya Rinrin. Dia sepupuku dari Indonesia,”
          “Oh,” jawabnya singkat. Aneh, di Bandara tadi sore ia tampak begitu ramah padaku, kenapa sekarang terlihat tidak bersahabat padaku?
          “Hmmm… Kau yang menolongku tadi di Bandara kan? Terimakasih, ya!” ujarku pada Chansung. Chansung terlihat bingung.
          “Aku? Menolongmu? Di Bandara? Aku sepertinya tidak melakukan itu!” ujarnya ketus.
          “lho? Kalau bukan kamu, berarti siapa?” aku bingung. Tiba-tiba cowok itu langsung berdiri.
          “Mana aku tahu, pendek!” jawabnya bernada ketus “mungkin yang menolongmu tadi Hwang Chanwon! Bukan aku!”. Apa!? Dia panggil aku pendek!? Dan, Siapa lagi sih Hwang Chanwon? Dan, kenapa Chansung terlihat begitu tidak suka?
Lalu Chansung pergi tanpa permisi pada aku, paman dan bibi. “Arif, aku pulang!”
                   “Hei.. Hei… Kau kenapa? Baru berkunjung sebentar malah pulang!” Arif kebingungan melihat temannya itu. Aku pun ikut bingung dan makin bingung.
          Ada apa sih sebenarnya???
~BERSAMBUNG~
(siapakah Hwang Chanwon itu, dan kenapa Chansung terlihat begitu tidak suka? Baca saja episode selanjutnya ya!)

Tidak ada komentar: