(wahaha, akhirnya muncul deh FF pertama. Judulnya ‘One Love in
Memories’. Maaf banget kalau rada nggak jelas
kayak yang buat. Dan, selamat
membaca!)
One Love
in Memories
Karya:
Dyla A.P
Part 1
Sore hari, di Bandara Internasional Gimpo, Seoul, Korea Selatan…
Aku terpesona
melihat tempat yang baru kujajaki ini. Aku menghirup udara kuat-kuat lewat
hidungku yang kecil. Hmmff.. Udara di Korea seperti ini… dingin dan
menyejukkan…
Kulihat Bandara
ini cukup ramai. Banyak orang asing yang lalu lalang di hadapanku. Semuanya
terlihat asing untuk pendatang sepertiku. Aku seperti setitik susu cokelat
diantara sekumpulan salju-salju putih, begitu asing.
Aku
mencari-cari Paman Donghae. Ya, dialah Pamanku yang satu-satunya asli dari
Korea dan akan kujadikan tumpuan hidup selama aku bersekolah di Korea. Tapi,
aku tak melihat dia. Aku kebingungan sendiri.
Dimana Paman
Donghae? Gumamku panik. Aku merasa sendirian ditengah-tengah kerumunan orang
yang tak kukenal. Aku mencoba tenang.
Tenang… tenang…
Pasti Paman Donghae datang sebentar lagi! Aku mencoba menenangkan diriku
sendiri. Kulihat arloji-ku, ternyata sudah jam 5 sore waktu Korea.
Tiba-tiba aku
merasa ingin buang air kecil. Uh!
Ah, lebih baik
aku ke kamar mandi saja dulu, putusku. Lalu aku mencari WC umum. Baru saja
melangkah sebentar, tiba-tiba ada yang menarik Tas-ku. Sialan! Copet! Ya ampun,
ternyata di Korea ada copet juga!
“Tolong..!
Tolong…!” jeritku panik. Aku berusaha mempertahankan tas-ku, tapi ternyata
copet itu lebih kuat dariku. Tasku, yang isinya semua barang berharga seperti
Handpone, Dompet, dan lain-lain hilang dibawa pergi sang copet. Aku terus
menjerit-jerit.
“Tolong…!
Tas-ku dicuri!” teriakku dalam bahasa Korea yang acak-acakan karena panik.
Tiba-tiba dari arah belakangku, Syuuutt…!! Seorang laki-laki bertubuh tinggi
dengan rambut cokelat secepat kilat mengejar pencopet sialan itu.
Aku terdiam.
Aku berdoa semoga laki-laki tadi berhasil mengambil tas-ku. Tak berapa lama
kemudian, ketika aku hampir putus asa, laki-laki itu datang! Ia pun tersenyum
sambil membawa tasku.
Aku melihatnya
seksama, melihat cowok baik hati yang menolongku. Ternyata seorang laki-laki
muda seumuranku. Dia tinggi, berkulit putih pucat, dan bermata bulat. Tidak
seperti orang Korea kebanyakan yang matanya sipit. Rambutnya cokelat dan
berponi hingga menutupi mata sebelah kirinya. Badannya kekar dan tegap. Tapi,
tetap saja wajahnya seperti cewek.
“Terimakasih,”
ucapku padanya. Ia hanya tersenyum kecil.
“Sebaiknya kamu
tidak banyak bengong,” katanya kalem. “Nanti kamu bisa celaka,”
“Iya, baiklah.
Terimakasih banyak ya…,” jawabku dengan bahasa Korea yang masih acak-acakan. Ia
tertawa kecil, lalu pergi dari hadapanku.
Siapa nama
cowok itu? aku bertanya-tanya dalam hati. Ih, bodohnya aku! Kenapa tidak
sekalian saja menanyakan namanya! Tapi, ah! Cowok cantik itu sudah pergi.
Biarkan sajalah!
“eh, rupanya
kamu disini, Rinrin!” tiba-tiba aku mendengar suara berat tapi enak didengar.
Itu suara Pamanku, Paman Donghae.
“Paman!” aku
lalu menghampirinya dengan setengah kesal. “Paman lama sekali! Aku tadi hampir
kehilangan tas saat menunggu Paman tahu!”
“Waduh,
benarkah? Maafkan, Paman ya! Tadi Paman mengantarkan Arif dulu ke tempat
kursus, jadi Paman terlambat sedikit.” Paman Donghae terlihat menyesal. “Tapi
kau tidak apa-apa kan? Paman jadi khawatir.”
“Aku tidak
apa-apa, Paman!” jawabku.
“Oh, baiklah.
Kalau begitu, ayo sekarang kita cari Taksi. Bibi-mu sudah tidak sabar ingin
bertemu denganmu.” Kata Paman Donghae.
Aku mengangguk
senang. Lalu kami mencari taksi untuk pulang. Sepanjang berada di Taksi menuju
rumah Paman, aku terus memikirkan cowok cantik yang baik hati tadi, cowok yang
menolongku tadi.
*********
Di taksi, Paman
bertanya padaku.
“Rin, kamu
mendapat beasiswa di Sekolah apa?” Tanya Paman Donghae.
“Di Hanyoung
High School, Paman…,” jawabku.
“Wah?
Benarkah?” Paman Donghae terlihat terkejut. “Itu kan sekolah orang-orang elite
yang kaya dan pintar! Kamu hebat sekali, Rin! Bisa masuk ke Hanyoung High School
bagi orang biasa itu hebat sekali bagi Paman!”
“Hahaha…,
Terimakasih Paman.” Jawabku.
Tak berapa lama kemdian, Taksi yang kami
tumpangi berhenti di depan sebuah rumah mungil. Itu rumah Paman Donghae.
“Ya Ampun,
Keponakan Bibi dari Indonesia sudah datang!” tiba-tiba aku melihat sesosok
wanita seusia Ibuku, ya kira-kira sekitar 46 tahun. Ia terlihat sibuk menyambut
kedatanganku. Ya, ia adalah Bibiku, Bibi Lis. Dia wanita asli Indonesia
sepertiku dan menikah dengan Paman Donghae. Namun dia sudah menjadi warga
Negara Korea, bukan Warga Negara Indonesia lagi.
“Bibi, lama
sekali kita tidak bertemu.” Kataku pada Bibi. Beliau tersenyum riang.
“Benar, kita
sudah lama tidak bertemu,” jawabnya sambil memperhatikan seluruh tubuhku. “kau
sudah besar sekali, ya…,”
Aku hanya
tersenyum.
“Ah, istriku!
Jangan berbicara di luar seperti ini! Kau tidak kasihan pada Rinrin yang sudah
kedinginan begitu!?” ujar Paman Donghae pada Bibi Lis sambil membawa
barang-barangku masuk kedalam rumahnya.
“Iya, iya! Kau
bawel sekali!” Bibi Lis mengomel kecil. Lalu ia mempersilahkan aku masuk. “Ayo,
Rin. Ayo masuk kedalam!”
Aku tersenyum,
lalu masuk kedalam rumah Paman dan Bibi.
*******
Malam yang
dingin di Korea.
Bibi Lis
menyiapkan makan malam. Ia meletakan wadah dari bambu yang berisi nasi, lalu
menyiapkan mangkok-mangkok untuk kami. Malam ini, bibi memasak Sup, dengan
banchan (lauk) berupa kimchi dan daging rebus. Begitu sederhana, karena aku
tahu Paman Donghae dan Bibi Lis itu sangat sederhana dan berekonomi pas-pasan
seperti keluargaku di Indonesia. Ah, melihat pemandangan ini aku jadi rindu
keluaga di Bandung…
“ayo makan,
Rin!” tawar Paman Donghae padaku. Aku tersenyum.
“Paman dan Bibi
makan saja dulu, aku nanti saja,” jawabku.
Tak lama
kemudian, dua orang laki-laki remaja seusiaku masuk kedalam rumah. Tanpa
permisi, tanpa mengucapkan apapun. Kulihat salah seorang diantara mereka, ada
satu sosok yang kukenal. Laki-laki berambut cokelat dan berwajah cantik. Ya,
cowok itu mirip dengan yang menolongku di Bandara tadi sore, dan mungkin memang
dia. Aku kaget, begitu pun mereka.
“Ibu, maaf aku
baru pulang. Tadi aku meminjam buku Sejarah dulu di perpustakaan Nasional
dengan Chansung!” kata cowok yang satunya lagi, dan bukan si cowok cantik. Lalu
dia menoleh kearahku.
“Hei, pasti
kamu Rinrin kan?” cowok itu menyapaku. Aku terdiam sejenak, sepertinya aku
kenal orang ini. Ya ampun! Dia kan Arif! Sepupuku!
“Arif,” kataku
terkejut. “iya, aku Rinrin! Kamu tampak beda sekali sekarang!”
“Hoho… kan kita
sudah 10 tahun tidak bertemu!” katanya. “Aku kangen sama kamu dan keluarga di
Indonesia, Rin!” ujarnya lagi riang. Lalu ia dan teman asingnya duduk di
depanku.
“Mamah dan Papahku juga kangen kok, Rif.”
Jawabku. “ngomong-ngomong, ini temanmu ya?” aku menunjuk kearah cowok cantik
itu. Cowok itu tampak tidak senang aku tunjuk.
“oh, ini
namanya Hwang Chansung. Panggil saja dia Chansung!” Arif memperkenalkanku pada
cowok cantik itu. “Hei, Chansung! Kenalkan, ini namanya Rinrin. Dia sepupuku
dari Indonesia,”
“Oh,” jawabnya
singkat. Aneh, di Bandara tadi sore ia tampak begitu ramah padaku, kenapa
sekarang terlihat tidak bersahabat padaku?
“Hmmm… Kau yang
menolongku tadi di Bandara kan? Terimakasih, ya!” ujarku pada Chansung. Chansung
terlihat bingung.
“Aku? Menolongmu?
Di Bandara? Aku sepertinya tidak melakukan itu!” ujarnya ketus.
“lho? Kalau
bukan kamu, berarti siapa?” aku bingung. Tiba-tiba cowok itu langsung berdiri.
“Mana aku tahu,
pendek!” jawabnya bernada ketus “mungkin yang menolongmu tadi Hwang Chanwon!
Bukan aku!”. Apa!? Dia panggil aku pendek!? Dan, Siapa lagi sih Hwang Chanwon?
Dan, kenapa Chansung terlihat begitu tidak suka?
Lalu Chansung pergi tanpa permisi
pada aku, paman dan bibi. “Arif, aku pulang!”
“Hei..
Hei… Kau kenapa? Baru berkunjung sebentar malah pulang!” Arif kebingungan
melihat temannya itu. Aku pun ikut bingung dan makin bingung.
Ada apa sih
sebenarnya???
~BERSAMBUNG~
(siapakah
Hwang Chanwon itu, dan kenapa Chansung terlihat begitu tidak suka? Baca saja
episode selanjutnya ya!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar