Kamis, 22 Desember 2011

new short story

Handsome and the Beast
Karya: Dyla Annisa Putri

          Pagi di SMAN 1 Padalarang begitu terasa dingin, hingga terasa menusuk tulangku. Aku memang datang pagi sekali, jam setengah enam! Belum ada yang datang, sepi sekali.
          Kali ini memang aku datang pagi karena hari ini jadwal piketku. Tapi nyatanya aku datang terlalu pagi. Saat sampai di kelas, ternyata kelas masih dikunci! Sial!
          Aku lalu memutuskan untuk menunggu pintu kelas dibuka. Lalu, aku duduk di depan pintu kelas, seperti pengemis minta sedekah.
          “hei! Pagi amat lo datengnya!” tiba-tiba terdengar suara yang khas di telingaku. Itu suara Donghae, sahabat karibku.
          “gua mau piket tahu! Eh, tahunya kelas belum dibuka!” gerutuku. Donghae cuma tertawa-tawa.
          “hahahaha… siapa suruh kerajinan datang ke sekolah pagi-pagi! Lihat aja tuh Mang Nana, penjaga sekolah kita tercinta masih tidur pules di pos!” ujar Donghae. Lalu dia duduk di sampingku.
          “terus, lo sendiri ngapain datang pagi-pagi?” tanyaku pada Donghae.
          “pengen aja,” jawab Donghae. “habis di rumah bosan! Pengen cepet-cepet ke sekolah aja, ah!”
          “owh… pasti lo pengen ketemu sama Yuri, kan? Hahahaha… Ngaku aja deh, Donghae!” godaku padanya.
          “Yee…! Kagak! Yuri emang cantik sih, tapi… Hahahaha…,” Donghae tertawa-tawa. “tapi kalo jadi pacaran, ogah ah! Ribet!”
          “ah, dasar lo!” ujarku. Donghae cuma tertawa.
JJJJJJ
          Aku dan Donghae memang sahabat dekat. Kami mulai bersahabat sejak SMP, tepatnya ketika Donghae baru pindah dari Jakarta. Masih terbayang di pikiranku saat Donghae berkenalan denganku. Donghae waktu itu, masih cupu banget! Kacamatanya tebel kayak layar televisi. Celananya masih ala jojon. Dan yang masih bikin  aku inget, ingusnya masih suka bergelantungan di hidungnya! (hiiii…)
          Tapi, Donghae sekarang berbeda sekali dengan yang dulu. Dia kini udah berubah menjadi pangeran tampan yang digilai cewek-cewek. Sikapnya cool dan santai membuat cewek-cewek makin gencar memburu hati Donghae. Tapi, nggak tahu kenapa, si tampan ini nggak mau punya pacar dulu. Ribet, itu katanya.
          Berbeda dengan Donghae, aku adalah cewek yang biasa-biasa aja. Malah bisa dikategorikan ANCUR. Emang sih, aku ini emang cewek yang tomboi dan nggak bisa merawat diri sendiri. Mamahku aja sering marah melihat aku yang malas ngerawat diri sendiri dan memang merawat diri itu hal yang paling aku kurang sukai. Ribet, itu kataku.
          Tapi entah mengapa, cowok ganteng seperti Donghae mau bersahabat dengan cewek the beast sepertiku. Apalagi kalau kami jalan berdua, orang-orang selalu mengatakan, “hei, ada handsome and the beast lagi lagi jalan!”. Itu sebenarnya membuatku merasa malu, tapi cuek aja ah! Toh Donghae pun tak pernah protes pada wajahku yang buruk rupa begini.
          Suatu hari, Donghae datang dengan wajah berbinar-binar.
          “Mel, gua seneng banget!” ujar Donghae senang.
          “kenapa?” tanyaku bingung.
          “gua bakalan jalan bareng Yuri sore ini! Asyik…!” jawab Donghae gembira.
          “wah, katanya lo kagak mau pacaran dulu?” aku menggoda Donghae.
          “emang nggak mau dulu. Tapi kalau waktu berbicara, mungkin iya!” jawab Donghae sok puitis.
          “ahaha… dasar!” timbalku. Donghae cuma tertawa kecil.
           Tiba-tiba datang sesosok cewek cantik mengahmpiri kami. Wajahnya cantik dan teduh. Siapa lagi kalau bukan Yuri.
          “hei,” sapa Yuri sambil tersenyum. “boleh pinjam Donghae-nya sebentar?”
          “ohh.. boleh dong!” jawab Donghae. “memang ada apa, Yuri?”
          “hmm… jangan ngomong disini. Kita ke taman aja yuk biar ngomongnya enak!” ajak Yuri, lalu dia menggandeng tangan Donghae. Lalu mereka pergi. Meninggalkan aku sendirian.
          “mereka serasi sekali…,” aku berbicara sendiri. Tanpa sadar, aku merasakan perasaan aneh. Aneh sekali. Aku merasa marah pada Donghae dan Yuri, tapi nggak tahu sebabnya. Aku mulai berpikir, jangan-jangan…
JJJJJJ
          “hei, hari ini gua SENENG BANGET!” Donghae mulai bercerita.
          “senang kenapa? Pasti gara-gara habis jalan sama Yuri. Iya, kan?” tebakku.
          “oh iya dong! Yuri itu emang pinter banget, enak diajak ngobrol. Terus dia cantik lagi!” jawab Donghae.
          “oh,” aku cuma menjawab begitu. Entah kenapa aku merasa malas mendengarkannya.
          “kok ‘oh’ doang?” Tanya Donghae bingung.
          “terus gua kudu ngomong apa?” aku balik bertanya. “apa gua harus ngomong ‘wow, dia memang cewek yang perfect!’?”
          “hahahaha… iya deh, iya!” ujar Donghae. “eh, gua mau balik duluan ya? Gua mau mengerjakan sesuatu! Dagh, Melly!”
          Lalu Donghae menghilang begitu saja dari hadapanku. Aku merasakan persaan marah seperti waktu pagi tadi, saat Yuri pergi membawa Donghae sambil bergandengan tangan. Ah… Tuhan, kenapa aku jadi begini???
JJJJJJ
          Makin hari, Donghae dan Yuri makin dekat. Donghae yang biasanya selalu pergi bersama-sama denganku, kini berganti dengan kehadiran Yuri di sampingnya. Aku merasa telah dilupakan Donghae.
          “hei, Mel! Lo sore ini ada acara, nggak?” tiba-tiba Donghae bertanya seperti itu padaku.
          “nggak ada. Emang kenapa?” jawabku setengah malas.
          “gua mau ngajak lo jalan-jalan. Mau?” tawar Donghae.
          “hmmm.. males, ah! Lagian lo kan ada Yuri! Jalan-jalan aja sama dia!” jawabku agak ketus. Donghae terlihat bingung melihat sikapku.
          “Melly,” ujar Donghae pelan. “lo marah sama gua?”
          “kagak, biasa aja..,” jawabku singkat.
          “ih, serius! Pasti lo marah kan gara-gara gua jalan sama Yuri?” Donghae mendesakku.
          “lalu kalau ‘iya’ kenapa?” tanyaku.
          “maaf,” jawab Donghae. “gua jalan sama Yuri kan soalnya…,”
          “Soalnya dia cantik, pinter, dan enak diajak ngobrol, kan?!” jawabku dengan nada marah. “gua tahu lo nggak mau jalan sama gua lagi gara-gara gua jelek, tomboi…,”
          “bukan gitu, Mel! Sebenarnya…,” Donghae mencoba menjelaskan. Tapi aku memotong pembicaraannya.
          “Sebenarnya apa?! Nggak penting!” jawabku marah, lalu aku berlari meninggalkan Donghae yang masih terlihat bingung. Kurasakan ada air yang membasahi pipiku, aku menangis! Ah, bodoh sekali aku menangisi dia! Gerutuku dalam hati.  Lalu saat aku mulai berhenti menangis, aku mulai bertanya dalam hatiku. Kenapa tuhan menciptakan aku sebagai cewek the beast? 
JJJJJJ
          Hubunganku dengan Donghae menjadi renggang. Biasnya kami selalu mengobrol, kini tidak lagi. Malah Donghae semakin sibuk dengan Yuri. Itu benar-benar membuatku kesal. Aku tak dianggap lagi.
          Aku terus berpikir dengan apa yang terjadi padaku. Aku lebih sering uring-uringan ketika melihat Donghae dan Yuri berduaan. Rasanya ingin menangis saja yang kencang. Lalu aku berpikir lebih keras, jangan-jangan aku suka dengan Donghae? Ah, nggak mungkin! Nggak Mungkin!
          Sepulang sekolah, kulihat Donghae datang menghampiriku. Dia terlihat beda dari biasanya. Ia kelihatan lebih rapih, bersih, dan wangi.
          “Mel, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Mau, ya?” ajak Donghae.
          “malas, ah!” jawabku.
          “ayo dong, Mel!” Donghae begitu berharap. “ini penting buat kita!”
          “emang kemana, sih?” tanyaku.
          “rahasia,” Donghae sok misterius. “tapi matamu harus ditutup ya!”
          “ah, ngapain pake tutup mata segala sih!” aku setengah dongkol.
          “ah, Mel! Sebentar aja… Please…,” Donghae memohon padaku. Akhirnya aku mau juga. Donghae terlihat senang, lalu dia menutup mataku dengan sehelai kain beraroma wangi. Lalu dia mengajakku berjalan, tapi aku tak tahu kemana.
          “kita mau kemana, Donghae?” tanyaku bingung.
          “sudah, tenang saja…,” jawab Donghae pelan. Lalu kami terus berjalan.
          Tak lama berjalan, tiba-tiba kami berhenti. Aku makin bingung.
          “kita ada dimana, sih?” tanyaku. Kudengar Donghae tertawa kecil.
          “nah, sudah sampai!” ujar Donghae. “kamu boleh buka penutup mata kamu!”
          Lalu aku membuka penutup mataku. Perlahan-lahan kubuka mataku. Kulihat disekelilingku banyak kelopak mawar merah yang indah. Ketika aku memperhatikan kelopak-kelopak mawar itu, aku terkejut.  Kelopak-kelopak mawar itu membentuk lambang love yang indah! Lalu, diantara kelopak-kelopak itu ada tulisan dari susunan puluhan origami bangau bertuliskan ‘I Love U, Melly..’
          “Donghae…,” ujarku pelan tak percaya.
          “ya, ini semua buat kamu Mel!” kata Donghae. “sebenarnya, dari dulu aku suka sama kamu, Mel! Tapi aku baru berani bilang sekarang,”
          “hah?” kataku tak percaya. “bukannya kamu suka dengan Yuri?”
          “hahahaha… aku tidak suka dengan Yuri. Kami cuma teman biasa. Dia dekat denganku akhir-akhir ini karena aku meminta bantuannya untuk menyiapkan ini semua,” ujar Donghae menjelaskan padaku.
          “tapi, buat apa kamu ngelakuin ini semua?” tanyaku lagi masih bingung.
          “kamu itu cewek unik, Mel!” jawab Donghae. “kamu itu cewek yang spesial, jadi harus mendapat yang spesial juga,” Aku? Spesial?
          “wow, Donghae…,” aku masih tak percaya. “aku ini cewek yang jelek, tomboi lagi… masa cowok ganteng kayak kamu bisa suka sama aku?”
          “aku nggak peduli kamu jelek atau cantik. Buat aku, kamu lebih dari cantik, Mel!” jawab Donghae. Aku terharu.
          “terimakasih, Donghae…,” kataku haru. Baru kali ini ada seorang cowok tampan seperti Donghae yang bilang aku lebih dari cantik. Kurasakan ada yang membasahi pipiku. Aku menangis lagi.
          “nah, Mel… sekarang, kamu mau nggak jadi pacar aku?” tiba-tiba Donghae bertanya seperti itu. Aku tersenyum bahagia. Aku cuma bisa mengangguk tanda setuju. Donghae terlihat gembira sekali, begitu pula aku.
          “aku sayang kamu the beast…,” bisik Donghae di telingaku.

~TAMAT~
          

Tidak ada komentar: