Senyuman
Kak Dwi
Karya:
Dyla A Putri
Aku
tak pernah melihat kakak-ku, Dwi Purnama, tersenyum sejak kedua orangtua-ku
pergi meninggalkan kami 5 tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula kak Dwi tak
lagi tersenyum.
Tak pernah ada senyum yang menghiasi wajah cantik kak
Dwi. Mulutnya selalu terkunci rapat jika berada di rumah. Ia tak pernah
berbicara pada siapapun, termasuk aku adik bungsunya. Tak pernah ada lagi
lantunan ayat suci Al-Qur’an dari suara emasnya, yang ada hanya kesunyian dan
kekakuan, dan akhir-akhir ini pun, kak Dwi jarang berada di rumah. Kata
orang-orang kampung, kak Dwi selalu pergi ke pemakaman kedua orangtua kami.
Banyak yang bilang juga kak Dwi sudah gila karena suatu waktu, ia pernah tidur
di kuburan ibu dan ayah, serta berbicara meracau tak jelas macam orang mabuk.
Memang, peristiwa kematian ayah dan ibu dahulu telah
mengubah kakak keduaku ini seratus delapan puluh derajat. Jika membayangkan
kembali kejadian mengerikan itu, aku tak akan sanggup. Kematian mereka amat
janggal. Sebelum dipanggil yang maha kuasa, kedua orangtuaku tengah pergi ke
pengajian di kampung sebelah. Tapi, hingga larut malam, mereka tak kunjung
kembali. Keesokan paginya, mereka tela ditemukan tewas tersangkut di pohon jambu tetangga
dengan berlumuran darah. Mengenaskan.
Aku tahu betapa trauma dan sedihnya kak Dwi
saat ditinggal oleh ayah dan ibu kami. Ayah dan ibu adalah pusat gravitasi
kekuatan dan kecermelangan kak Dwi. Dari dulu, ayah dan ibu selalu
mengistimewakan kak Dwi. Mungkin karena dia yang paling cantik, pintar, dan
suaranya paling bagus saat mengaji. Tak heran piala dan penghargaan atas nama
kak Dwi paling banyak berjejer di etalase piala rumah kami. Kadang aku iri
dengan kasih sayang dan perhatian yang diterima kak Dwi, tapi toh kasih sayang
tak bisa dipaksakan untukku. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang
diperoleh kak Dwi saat itu.
Berbeda
dengan kak Dwi, kakak sulung-ku, kak Imran adalah seorang preman kampung yang
suka mabuk-mabukan. Tak jarang profesi tukang pukul pun ia ladeni. Siapa saja
yang kena hantam kak Imran, orang tersebut bisa pingsan atau berakhir di pemakaman. Tak ada yang berani
kalau berurusan dengan kak Imran kecuali kak Dwi dan almarhum kedua orangtuaku.
Oleh karena itu, mereka sering sekali bertengkar jika ada kak Imran di rumah.
Tak jarang sampai adu jotos pun terjadi. Tapi, semenjak kematian orangtuaku,
kak Imran tak pernah lagi kembali ke rumah. Ia menghilang…
Suatu
malam, kulihat ada yang berbeda dengan kak Dwi. Setelah pulang keluyuran, kak
Dwi jadi tidak seperti biasanya. Ia pulang lewat pintu belakang rumah dan
memegang benda yang dibungkus koran. Lalu ia pergi ke gudang, entah untuk apa.
Aku bingung. Muka kak Dwi yang biasanya datar tanpa senyuman seperti talenan,
kini kelihatan lebih cerah dan ceria. Kulihat ia tersenyum terus sepanjang
malam di rumah, dan yang paling mengejutkan, ia mau berbicara lagi.
“Annisa,
hari ini menyenangkan sekali kan?” Tanya kak Dwi.
“menyenangkan?
Ah, tidak. Biasa saja,” jawabku. Aku masih bingung dengan kak Dwi.
“ah,
kalau menurutku, hari ini hari terbaik dalam hidupku. Lebih baik daripada saat
aku menjuarai MTQ ketika SMP,” ujar kak Dwi sambil tersenyum. Aku tidak
menanggapinya. Aku masih heran.
Sampai
tidur, senyum kak Dwi tak luntur, bahkan semakin manis. Kulihat ia beberapa
kali keluar masuk gudang sebelum tidur. Ini membuatku merasa aneh. Setelah kak
Dwi tidur pulas, aku lalu mengendap masuk ke gudang. Saat membuka pintu gudang,
aku melihat golok yang berlumuran darah. Aku bingung. Aku mendekat lagi, bau
darah yang amis makin tercium dan menusuk hidungku. Siapa yang habis
menyembelih hewan malam-malam begini? Tanyaku dalam hati. Bau darahnya pun
bukan seperti bau darah hewan ternak. Aku bingung dan mencium aroma
kejanggalan. Apa semua ini ada hubungannya dengan senyum kak Dwi tadi?
Keesokan
paginya, kudengar suara gaduh di sekitar rumahku, seperti orang-orang yang
tengah berkumpul. Ada apa ramai-ramai begini? Tanyaku dalam hati. Saat aku
hendak membuka pintu rumah, suara kasak-kusuk makin jelas terdengar. Dan benar
saja, saat aku membuka pintu, beberapa orang berkumpul di depan pintu rumahku,
yaitu pak RT, polisi, dan warga sekitar. Aku makin bingung.
“maaf,
pagi-pagi begini sudah mengganggu. Kami mencari kakakmu, Dwi.” Kata pak RT. Aku
heran. Untuk apa mereka mencari kak Dwi.
“oh,
kak Dwi masih tidur. Memang ada apa ya, pak?” tanyaku pada orang-orang itu.
“kakak
anda, Dwi Purnama, telah membunuh sauadara Imran malam tadi. Kami harus
menangkapnya sekarang juga,” jawab pak polisi. Duarr…!!! Rasanya aku telah
tertembak pistol hingga hancur berkeping-keping. Kak Dwi? Membunuh?
“a..a..apa?
Kakak saya membunuh?” tanyaku tak percaya. Tangisku ingin pecah seperti balon
yang ingin ditusuk peniti. Dan, tak kuasa aku menahan air mataku.
Lalu
polisi tersebut masuk kedalam rumah, aku hanya diam dan menangis. Setelah itu,
kulihat polisi itu memborgol kak Dwi. Yang aneh, kak Dwi tersenyum terus. Aku
bingung, bingung, dan makin bingung. Ya Allah, ada apa ini???
Saat
digiring, tiba-tiba kak Dwi berbelok kearahku. Senyumnya tak hilang. Lalu dia
berbisik kepadaku.
“tahukah
kamu, kenapa tadi malam aku amat sangat bahagia?” bisik kak Dwi padaku. Aku
menggeleng tidak tahu.
“tahukah
kau, tadi malam, orang yang telah mengambil nyawa orangtua kita datang ke
pekuburan ayah dan ibu. Dan kamu mau tahu kan kenapa aku bahagia? Itu semua karena
aku telah menghilangkan nyawa orang itu, orang yang telah membunuh orangtua
kita, yaitu abangmu, kak Imran,” jawab kak Dwi sendiri. Aku langsung
terperanjat. Kaget bukan main. Kali ini aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ternyata selama ini kak Imran yang telah membunuh orangtua kami. Jadi…
Arrhhggh…!!!
“maaf,
kami harus segera membawanya ke kantor polisi,” ujar si polisi menggeret kak
Dwi. Lalu mereka naik ke atas mobil polisi. Kak Dwi lalu pergi dan senyumnya
pun tak lepas dari bibirnya. Aku bergidik ngeri. Ia tampak seperti physicopat
menyeramkan yang telah berhasl menyembelih korban-korbannya.
Lalu, kulihat gerombolan orang berkumpul di
depan rumah tetanggaku. Sepertinya terjadi sesuatu lagi. Lalu aku menghampiri
kerumunan tersebut dengan rasa ingin tahu. Saat aku mendekat, kulihat sesosok
mayat laki-laki berbadan besar tersangkut di pohon jambu tetanggaku dengan
kondisi berlumuran darah, persis seperti saat orangtuaku ditemukan tewas.
Orang-orang berusaha menurunkannya. Lalu aku lebih mendekat lagi hingga bau amis darah mayat
tersebut menusuk tajam hidungku, seperti bau darah pada golok yang kutemukan di
gudang. Saat aku lebih dekat dengan si mayat, aku terperanjat. Mayat itu tak
lain adalah kak Imran. Aku tak kuasa menahan air mataku yang sudah menumpuk di
pelupuk mata. Tangisku pecah. Kini, aku benar-benar sendiri dan tak memiliki
keluarga lagi.
“kak
Imran…,” ucapku lirih di sela tangisku. Orang-orang disekitarku berusaha
menenangkanku. Tapi aku tak bisa tenang. Aku malah menangis meraung-raung
seperti bunyi sirene mobil ambulans. Rasanya aku mau pingsan. Orang-orang
disekitarku lalu membopongku ke rumah.
Aku
lalu terhenyak sendirian di depan pintu rumah. Orang-orang yang tadi
membopongku hilang entah kemana. Kini,
aku hidup sebatang kara tanpa siapa-siapa lagi. Aku termangu sendiri. Aku masih teringat senyuman kak Dwi tadi. Itu
adalah senyuman pertama dari kak Dwi setelah orangtua kami meninggal dan yang
terakhir buatku. Senyum penuh kengerian, darah, dan dendam kesumat. Kini aku
tak akan lagi melihatnya, termasuk senyum menyeramkannya itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar