Rabu, 31 Agustus 2011

cerpen: senyuman kak dwi

Senyuman Kak Dwi
Karya: Dyla A Putri
       
        Aku tak pernah melihat kakak-ku, Dwi Purnama, tersenyum sejak kedua orangtua-ku pergi meninggalkan kami 5 tahun yang lalu, dan sejak saat itu pula kak Dwi tak lagi tersenyum.
            Tak pernah ada senyum yang menghiasi wajah cantik kak Dwi. Mulutnya selalu terkunci rapat jika berada di rumah. Ia tak pernah berbicara pada siapapun, termasuk aku adik bungsunya. Tak pernah ada lagi lantunan ayat suci Al-Qur’an dari suara emasnya, yang ada hanya kesunyian dan kekakuan, dan akhir-akhir ini pun, kak Dwi jarang berada di rumah. Kata orang-orang kampung, kak Dwi selalu pergi ke pemakaman kedua orangtua kami. Banyak yang bilang juga kak Dwi sudah gila karena suatu waktu, ia pernah tidur di kuburan ibu dan ayah, serta berbicara meracau tak jelas macam orang mabuk.
            Memang, peristiwa kematian ayah dan ibu dahulu telah mengubah kakak keduaku ini seratus delapan puluh derajat. Jika membayangkan kembali kejadian mengerikan itu, aku tak akan sanggup. Kematian mereka amat janggal. Sebelum dipanggil yang maha kuasa, kedua orangtuaku tengah pergi ke pengajian di kampung sebelah. Tapi, hingga larut malam, mereka tak kunjung kembali. Keesokan paginya, mereka tela ditemukan  tewas tersangkut di pohon jambu tetangga dengan berlumuran darah. Mengenaskan.
 Aku tahu betapa trauma dan sedihnya kak Dwi saat ditinggal oleh ayah dan ibu kami. Ayah dan ibu adalah pusat gravitasi kekuatan dan kecermelangan kak Dwi. Dari dulu, ayah dan ibu selalu mengistimewakan kak Dwi. Mungkin karena dia yang paling cantik, pintar, dan suaranya paling bagus saat mengaji. Tak heran piala dan penghargaan atas nama kak Dwi paling banyak berjejer di etalase piala rumah kami. Kadang aku iri dengan kasih sayang dan perhatian yang diterima kak Dwi, tapi toh kasih sayang tak bisa dipaksakan untukku. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang diperoleh kak Dwi saat itu.
Berbeda dengan kak Dwi, kakak sulung-ku, kak Imran adalah seorang preman kampung yang suka mabuk-mabukan. Tak jarang profesi tukang pukul pun ia ladeni. Siapa saja yang kena hantam kak Imran, orang tersebut bisa pingsan atau  berakhir di pemakaman. Tak ada yang berani kalau berurusan dengan kak Imran kecuali kak Dwi dan almarhum kedua orangtuaku. Oleh karena itu, mereka sering sekali bertengkar jika ada kak Imran di rumah. Tak jarang sampai adu jotos pun terjadi. Tapi, semenjak kematian orangtuaku, kak Imran tak pernah lagi kembali ke rumah. Ia menghilang…


Suatu malam, kulihat ada yang berbeda dengan kak Dwi. Setelah pulang keluyuran, kak Dwi jadi tidak seperti biasanya. Ia pulang lewat pintu belakang rumah dan memegang benda yang dibungkus koran. Lalu ia pergi ke gudang, entah untuk apa. Aku bingung. Muka kak Dwi yang biasanya datar tanpa senyuman seperti talenan, kini kelihatan lebih cerah dan ceria. Kulihat ia tersenyum terus sepanjang malam di rumah, dan yang paling mengejutkan, ia mau berbicara lagi.
“Annisa, hari ini menyenangkan sekali kan?” Tanya kak Dwi.
“menyenangkan? Ah, tidak. Biasa saja,” jawabku. Aku masih bingung dengan kak Dwi.
“ah, kalau menurutku, hari ini hari terbaik dalam hidupku. Lebih baik daripada saat aku menjuarai MTQ ketika SMP,” ujar kak Dwi sambil tersenyum. Aku tidak menanggapinya. Aku masih heran.
Sampai tidur, senyum kak Dwi tak luntur, bahkan semakin manis. Kulihat ia beberapa kali keluar masuk gudang sebelum tidur. Ini membuatku merasa aneh. Setelah kak Dwi tidur pulas, aku lalu mengendap masuk ke gudang. Saat membuka pintu gudang, aku melihat golok yang berlumuran darah. Aku bingung. Aku mendekat lagi, bau darah yang amis makin tercium dan menusuk hidungku. Siapa yang habis menyembelih hewan malam-malam begini? Tanyaku dalam hati. Bau darahnya pun bukan seperti bau darah hewan ternak. Aku bingung dan mencium aroma kejanggalan. Apa semua ini ada hubungannya dengan senyum kak Dwi tadi?
Keesokan paginya, kudengar suara gaduh di sekitar rumahku, seperti orang-orang yang tengah berkumpul. Ada apa ramai-ramai begini? Tanyaku dalam hati. Saat aku hendak membuka pintu rumah, suara kasak-kusuk makin jelas terdengar. Dan benar saja, saat aku membuka pintu, beberapa orang berkumpul di depan pintu rumahku, yaitu pak RT, polisi, dan warga sekitar. Aku makin bingung.
“maaf, pagi-pagi begini sudah mengganggu. Kami mencari kakakmu, Dwi.” Kata pak RT. Aku heran. Untuk apa mereka mencari kak Dwi.
“oh, kak Dwi masih tidur. Memang ada apa ya, pak?” tanyaku pada orang-orang itu.
“kakak anda, Dwi Purnama, telah membunuh sauadara Imran malam tadi. Kami harus menangkapnya sekarang juga,” jawab pak polisi. Duarr…!!! Rasanya aku telah tertembak pistol hingga hancur berkeping-keping. Kak Dwi? Membunuh?
“a..a..apa? Kakak saya membunuh?” tanyaku tak percaya. Tangisku ingin pecah seperti balon yang ingin ditusuk peniti. Dan, tak kuasa aku menahan air mataku.
Lalu polisi tersebut masuk kedalam rumah, aku hanya diam dan menangis. Setelah itu, kulihat polisi itu memborgol kak Dwi. Yang aneh, kak Dwi tersenyum terus. Aku bingung, bingung, dan makin bingung. Ya Allah, ada apa ini???
Saat digiring, tiba-tiba kak Dwi berbelok kearahku. Senyumnya tak hilang. Lalu dia berbisik kepadaku.
“tahukah kamu, kenapa tadi malam aku amat sangat bahagia?” bisik kak Dwi padaku. Aku menggeleng tidak tahu.
“tahukah kau, tadi malam, orang yang telah mengambil nyawa orangtua kita datang ke pekuburan ayah dan ibu. Dan kamu mau tahu kan kenapa aku bahagia? Itu semua karena aku telah menghilangkan nyawa orang itu, orang yang telah membunuh orangtua kita, yaitu abangmu, kak Imran,” jawab kak Dwi sendiri. Aku langsung terperanjat. Kaget bukan main. Kali ini aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata selama ini kak Imran yang telah membunuh orangtua kami. Jadi… Arrhhggh…!!!
“maaf, kami harus segera membawanya ke kantor polisi,” ujar si polisi menggeret kak Dwi. Lalu mereka naik ke atas mobil polisi. Kak Dwi lalu pergi dan senyumnya pun tak lepas dari bibirnya. Aku bergidik ngeri. Ia tampak seperti physicopat menyeramkan yang telah berhasl menyembelih korban-korbannya.
 Lalu, kulihat gerombolan orang berkumpul di depan rumah tetanggaku. Sepertinya terjadi sesuatu lagi. Lalu aku menghampiri kerumunan tersebut dengan rasa ingin tahu. Saat aku mendekat, kulihat sesosok mayat laki-laki berbadan besar tersangkut di pohon jambu tetanggaku dengan kondisi berlumuran darah, persis seperti saat orangtuaku ditemukan tewas. Orang-orang berusaha menurunkannya. Lalu aku lebih  mendekat lagi hingga bau amis darah mayat tersebut menusuk tajam hidungku, seperti bau darah pada golok yang kutemukan di gudang. Saat aku lebih dekat dengan si mayat, aku terperanjat. Mayat itu tak lain adalah kak Imran. Aku tak kuasa menahan air mataku yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Tangisku pecah. Kini, aku benar-benar sendiri dan tak memiliki keluarga lagi.
“kak Imran…,” ucapku lirih di sela tangisku. Orang-orang disekitarku berusaha menenangkanku. Tapi aku tak bisa tenang. Aku malah menangis meraung-raung seperti bunyi sirene mobil ambulans. Rasanya aku mau pingsan. Orang-orang disekitarku lalu membopongku ke rumah.
Aku lalu terhenyak sendirian di depan pintu rumah. Orang-orang yang tadi membopongku  hilang entah kemana. Kini, aku hidup sebatang kara tanpa siapa-siapa lagi. Aku termangu sendiri. Aku  masih teringat senyuman kak Dwi tadi. Itu adalah senyuman pertama dari kak Dwi setelah orangtua kami meninggal dan yang terakhir buatku. Senyum penuh kengerian, darah, dan dendam kesumat. Kini aku tak akan lagi melihatnya, termasuk senyum menyeramkannya itu…

Tidak ada komentar: